
Seminggu berlalu sejak perhelatan akbar pernikahan Kaisar Alessa dan kelima selirnya, tetapi belum ada tanda-tanda Kaisar akan menyentuh salah satu di antaranya. Ritual ucapan selamat malam disertai kecupan kecil di pipi para selir, menjadi satu-satunya bahasa cinta Kaisar.
Jika selama ini masing-masing kepala saling berdebat tentang siapa yang akan mendapat giliran pertama, maka kini mereka mulai sadar ini bukan soal giliran. Lebih tepatnya adalah kehormatan karena Kaisar memang selalu menempatkan dirinya setinggi itu.
Helios yang sering membaca buku-buku filsafat kuno, bahkan menyebut jika malam pertama mereka nanti bukan sekedar giliran, kehormatan tapi juga keberuntungan.
"Semakin lama aku semakin mengagumi Kaisar. Bunga teratai di tengah telaga sangat indah dipandang, tapi susah dipetik. Kita hanya bisa melihat keindahan itu dari jauh."
Mata Helios menerawang. Sekarang dia bahkan tak berani berharap Kaisar akan memilihnya, karena dirinya tahu tak akan seberuntung itu.
Helios mengambil quil lalu tangannya mulai menari-nari di atas lembaran papirus. Sesekali senyumnya mengembang, sejenak kemudian wajahnya terlihat serius.
"Bagus kalau kau berpikir begitu Helios, setidaknya kamu tak lagi berharap malam pertama Kaisar jatuh padamu."
Pangeran Lucas menimpali.
Cain sedang mengoleskan madu yang telah dicampur ramuan kecantikan ke wajah Pangeran Lucas. Perawatan tubuh dan wajah seperti ini sudah lazim ia dapatkan saat masih tinggal di negeri Frank. Kini untuk menyambut malam pertama, Pangeran Lucas semakin gencar membuat parasnya terlihat makin tampan dan memesona.
"Cain apakah kau mengoleskan lilin ke wajahku?"
Cain terkikik mendengar pertanyaan tuannya. Mana mungkin dia mengoleskan lilin di wajah tampan itu.
"Ampun Tuan, kenapa Anda bertanya begitu?"
"Entahlah aku sekarang merasakan wajahku seperti mumi. Sangat kencang hingga aku susah membuka mulut."
"Sebaiknya Anda diam. Kalau terlalu banyak bicara, nanti ramuan kecantikan ini pecah," ancam Cain.
Pangeran Lucas langsung diam dan membayangkan jika ramuan itu pecah maka wajahnya akan berhamburan.
Hosh! Hosh!
Pangeran Jerome melatih fisiknya. Dari pagi dia sudah melakukan pemanasan, berlari-berlari hingga dua puluh putaran. Dia juga menantang anak buah Darius untuk beradu pedang. Lumayan untuk menyalurkan hasrat dan gelora yang selalu hinggap saat Kaisar menciumnya.
"Aku tidak melihat Tuan Evandor. Kemana dia?" tanya Pangeran Jerome.
Pangeran Lucas yang tidak boleh bicara memberi isyarat bahwa Pangeran Evandor sedang sibuk.
"Sibuk apa? Menggoda para pelayan di dapur?" sarkas Pangeran Jerome. Cain terbahak-bahak. Helios berpaling sesaat, menegur Cain dengan tatapan matanya. Konsentrasinya buyar, padahal ia sedang mempersiapkan puisi terbaik untuk Kaisar.
"Putraku, minumlah ramuan ini setiap malam." Suara lembut Ratu Mesopotamia terdengar dari ruangan khusus untuk menyambut tamu kehormatan.
Pangeran Evandor sedang menerima kunjungan dari Raja dan Ratu. Orang tuanya sangat berharap Kaisar bisa segera hamil dari benih Pangeran Evandor.
"Jika Kaisar memiliki anak pertama darimu, ini akan sangat bagus untuk masa depan Mesopotamia."
"Jangankan punya anak. Disentuh saja belum," batin Evandor.
"Iya, Ayah. Aku juga tak sabar melihat rupa putraku kelak. Dia pasti segagah ayahnya. Wilayah barat akan segera menjadi hadiah kelahiran putraku."
Evandor berusaha meyakinkan orang tuanya bahwa dia sudah menjalankan tugasnya sebagai suami. Ratu tersenyum mengira putranya kini telah menjadi laki-laki sejati.
Raja memberi isyarat agar Ratu menjauh dari Evandor. Dia kemudian membisikkan sesuatu di telinga anaknya.
"Hati-hati meminum ramuan kuno itu, karena bisa jadi kaisarmu akan menjerit dan tidak memberimu jeda istirahat."
Raja mengerlingkan matanya penuh arti. Pangeran Evandor jadi salah tingkah.
"Apakah dulu Ayah juga meminumnya usai menikah dengan Ibu?" bisiknya.
"Dengan ibumu tidak pernah. Ayah membutuhkannya sebelum mengunjungi para selir. Ramuan itu bisa membuat tenagamu lebih kuat dari sepuluh kuda."
Pangeran Evandor terbelalak. Gila! Ini mengerikan, tapi juga membuatnya penasaran.
"Semangat anakku! Bibit dari Mesopotamia tidak pernah mengecewakan!" Raja menepuk bahu putranya.
Sementara itu di lapangan, Darius sedang mengawasi para prajurit yang berlatih. Wajahnya murung. Entah kenapa Darius merasa tidak bersemangat. Pernikahan yang tak ia sangka ini masih sulit dipercaya.
"Tak ada yang berubah, Darius. Kau tetap harus menjaga Kaisar dengan segenap raga dan nyawamu," bisiknya dalam hati.
Perlahan-lahan Darius melangkah gontai kembali ke kamarnya. Dia memang lebih sering mengurung diri di kamar. Darius jarang berkumpul dengan keempat selir lainnya. Baginya, Kaisar tetap yang utama dan terpenting. Keempat pria itu hanya mainan Kaisar yang tak perlu ia hiraukan kecuali Kaisar yang memerintahnya.
"Di mana Kaisar sekarang?" Darius mencari-cari dengan sudut matanya.
Yang dicari sekarang sedang berada di ruang pertemuan pribadi bersama Permaisuri Rhea, dan Tuan Cicero.
"Ibu aku sungguh bingung bagaimana harus mengatur malam pertama. Apakah itu harus?"
Permaisuri Rhea tersenyum mendengar pertanyaan putrinya. Dia memang seorang kaisar yang gagah berani memimpin Kerajaan Aegis. Tapi untuk urusan ranjang, putrinya itu belum punya pengalaman.
"Anakku, para pangeran berebut menjadi selirmu bukan tanpa tujuan. Mereka membawa amanat besar di pundaknya, yang disematkan oleh para raja dan orang tua. Salah satu tujuannya tentu ingin mendapatkan keturunan darimu."
"Ibu pasti tahu tujuanku menikah dengan para selir bukan untuk itu."
Permaisuri Rhea mengusap pipi putrinya. Baginya Alessa tetap putri kecil yang amat ia sayangi.
"Tentu ibu tahu. Hatimu belum sepenuhnya menerima. Setiap tindakan kita pasti ada konsekuensinya, Anakku. Tuan Cicero pasti akan membantumu."
Pandangan Kaisar Alessa beralih kepada Tuan Cicero yang pintar dan bijaksana. Tidak ada satu hal yang tidak ia ketahui di dunia ini. Ilmunya luas tanpa batas, nasihat-nasihatnya selalu menyejukkan.
"Yang Mulia, apa yang Anda lakukan sekarang sudah benar. Tidak terburu-buru menuruti nafsu, dan memikirkan sampai hal terkecil. Apakah Anda tahu jika menunda malam penyatuan juga menjadi ujian kesabaran bagi para selir?"
Kaisar Alessa sebenarnya tidak berpikir sejauh itu. Dia hanya merasa belum siap, lalu beralasan akan menyeleksi para selir. Padahal sesungguhnya dia sendiri bingung harus mengawalinya dengan siapa.
"Kita akan melihat tabiat para selir ini dalam urusan penyatuan."
Penyatuan yang dimaksud Tuan Cicero adalah menyatunya benih dari pria di dalam rahim sang Kaisar.
Karena ada lima orang, maka Tuan Cicero harus lebih cermat berpikir dan menimbang dari berbagai aspek.
Mereka kemudian terlibat dalam perdebatan siapa yang akan diperbolehkan menanam benih terlebih dahulu.
"Jadi menurutmu begitu?"
Kaisar tampak ragu.
"Menurut hamba, ini keputusan terbaik, Yang Mulia."
"Bagaimana menurut Ibu?"
Kaisar Alessa mengetuk-ngetuk meja.
"Ibu setuju dengan pendapat Tuan Cicero. Tapi kau tak perlu terburu-buru melakukannya jika belum siap, anakku."
Kaisar Alessa kembali berpikir keras. Keningnya berkerut tanpa ia sadari.
"Baiklah. Jika memang ini yang terbaik, aku akan segera menyiapkan diri."
Kaisar Alessa menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Malam ini dia siap memasuki ranjang pengantin yang sudah sepekan ini menunggunya.
*Quil - pena bulu
*Papirus - kertas pada masa itu