Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Senyum manis Kaisar



“Hngh?”


“Yang Mulia?”


“Pangeran?” Kaisar menekan pelipisnya karena denyut nyeri yang tiba-tiba dia rasakan. “Di mana ini?” sambil melihat sekeliling. Dia tahu jika itu bukan kamar miliknya.


“Kita sedang di kamar tamu kerajaan Prussia, Yang Mulia…” jawab Pangeran Evandor.


Wanita bersurai emas itu mengerjap, tersenyum canggung. Bagaimana bisa dia lupa? “Ah… benar, kita sedang di Kerajaan Prussia. Apa yang terjadi padaku?”


“Anda sempat muntah-muntah, kemudian pingsan. Jika Anda kurang enak badan, seharusnya Yang Mulia tidak memaksakan diri untuk ke sini.”


“Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir.”


“Bagaimana bisa hamba tidak khawatir, hamba sangat takut terjadi sesuatu pada Yang Mulia.” Pria itu menampakkan raut cemas.


“Aku hargai perhatianmu Pangeran. Tapi, aku sangat mengetahui keadaan tubuhku sendiri. Sebaiknya kau pergi, aku ingin istirahat kembali.”


Penolakan Kaisar jelas membuat Pangeran Evandor hanya bisa menelan niat baiknya. Padahal hampir seharian dia menemani sang Kaisar. Namun, ternyata semua sama sekali tidak berarti. Kaisar memintanya untuk pergi, sudah tidak ada alasan untuk dirinya tetap berada di sana. Tanpa kata sang Pangeran bangkit dari duduknya, berjalan gontai lalu menghilang dibalik pintu.


Kaisar menghela napas dan melemparkan kepala ke atas bantal. Memandang langit-langit kamar, menerawang dengan apa yang ada dipikirannya. Dia tidak ingin memberikan harapan pada Pangeran Evandor. Baginya, pria itu masih belum layak mendapatkan maaf.


“Tidak semudah itu, aku tidak akan begitu saja memberikan celah padamu, Evandor! Kau sama saja dengan Fabian!” gumam Kaisar Alessa mengeraskan hati.


Sementara itu di ruangan lain, tepatnya di kamar sang Raja. Penguasa Kerajaan Prussia tersebut sedang berjalan mondar-mandir. Dia seperti menunggu seseorang.


“Yang Mulia Raja,” seseorang yang ditunggu itu akhirnya datang.


Raja segera menghampirinya dengan wajah penuh tanya. “Kyle, bagaimana keadaan Putri Alessa?”


“Maaf Yang Mulia?”


“Ma-maksudku, keadaan Kaisar?” Raja Fabian seolah lupa siapa sosok mantan kekasihnya saat ini. Berulang kali salah memanggil wanita itu.


“Hamba baru melihat Pria yang mengaku sebagai suami Kaisar keluar dari kamar tamu,” jelas Kyle yang mendapatkan tugas untuk mengamati pergerakan rombongan Kaisar Alessa.


Mendengar ucapan Kyle sontak membuat wajah sang Raja sedikit berbinar. “Begitukah?” pria itu berjalan dan membuka pintu.


“Anda mau ke mana Yang Mulia?”


“Tentu saja menengok Kaisar, aku harus memastikan dia baik-baik saja!”


“Tapi, Ratu Anna sedang mencari Anda.”


“Apa?”


“Hamba bertemu dengan beliau di taman ketika hendak ke sini.”


“Lalu kau bilang apa?”


“Hamba bilang, Yang Mulia ada di kamar,”


“Ah, sial! Har-“


“Yang Mulia Raja!” suara familiar menahan pintu yang akan terbuka. Sang Raja menatap tajam pada Kyle yang tidak mengerti kenapa.


“Ya, Ratuku... ada apa?”


“Ku dengar… mantan kekasihmu datang ke sini. Apa yang sedang dia lakukan di sini?”


Kyle pernah mendengar kabar Raja yang sempat memiliki kekasih di negeri lain. Tapi, dia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tersebut? Ternyata mantan kekasih sang Raja adalah Kaisar Aegis? Bagaimana bisa?


“Aku sama sekali tidak tahu apa tujuan Kaisar Aegis datang ke sini.” Jawab Raja Fabian dengan wajah datar.


“Ya.”


“Aku… ingin menemuinya.”


***


Istana Aegis


Persiapan acara pernikahan Kaisar sedang berlangsung. Hiruk pikuk manusia terlihat di sekitar aula dan dapur. Para pelayan yang sibuk mendekor ruangan, para koki yang sibuk mengatur menu hidangan untuk acara bersejarah negeri tersebut. Para petinggi yang mengatur siapa saja tamu undangan yang akan hadir dan ritual adat yang akan dilakukan. Para calon selir pun tidak luput dari kesibukan, mereka dikumpulkan untuk latihan mengikrarkan janji di depan api suci kuil Hephaestus. Darius mengerutkan kening ketika menyadari ada seseorang yang tidak tampak sejak kemarin.


“Pangeran Evandor Daryan, ke mana dia?” tanya pria itu pada setiap calon selir yang hadir.


Mereka bertiga saling pandang dan menggelengkan kepala. Mereka juga baru sadar jika tidak ada Pangeran Evandor di sana.


“Yang benar saja, bagaimana bisa kalian tidak tahu?!” Darius tidak puas dengan jawaban yang didapat.


“Kami terus mengikuti arahan penasehat, dan kebetulan kami memang berada di ruangan terpisah,” Helios membela diri dan rekannya yang lain. Entah mengapa memang Darius sejak kemarin terkesan ketus dan dingin.


“Carilah teman kalian itu, bisa saja dia sedang merencanakan sesuatu yang akan merugikan kalian semua,” ucap Darius sebelum meninggalkan para calon selir.


Pangeran Lucas menangkap sesuatu dari setiap perkataan Darius. Perasaan tidak enak mulai muncul. “Hei, sebaiknya kita mencari dia!”


Pangeran Jerome melihat ke arah Helios yang memberikan isyarat. Mereka bertiga pun pergi mencari Pangeran Evandor.


Cukup lama mereka mencari keberadaan Pangeran Evandor yang tidak kunjung di temukan. Tanpa mereka tahu jika Pangeran Evandor saat ini sedang berada di Kerajaan Prussia bersama Kaisar Alessa. Apa yang akan terjadi jika mereka bertiga mengetahui hal itu? Mungkin saja akan terjadi sebuah perang saudara, karena mereka tidak akan pernah menduga hal apa saja yang terjadi di belahan dunia sana?


***


“Hormat saya Raja dan Ratu.” Pangeran Evandor membungkuk memberi hormat. Ia berpapasan dengan Raja Fabian di lorong menuju kamar Kaisar. Penguasa Prussia itu berjalan bersama Ratu Anna di sisinya.


“Pangeran?” Ratu Anna bertanya.


“Evandor Daryan dari Kerajaan Mesopotamia!” sahutnya dengan senyum ramah. Jangan lupakan pesona seorang playboy itu, sejenak mampu membuat Ratu Anna tersipu.


“Ah… aku tahu, letaknya tidak jauh dari Aegis. Anda bersama Kaisar Aegis?” tanya Ratu penasaran.


“Hamba-”


“Pangeran Evandor adalah calon selirku. Aku sengaja datang ke sini untuk mengundang Raja dan Ratu datang ke pernikahanku,” potong Kaisar secara tiba-tiba. Wanita itu datang dari arah belakang Pangeran Evandor. Setelah tidur beberapa saat, Kaisar Alessa segera mencari keberadaan calon selirnya.


Tanpa di sangka, dari kejauhan ia melihat sosok yang dibencinya tampak bahagia dengan pasangannya. Hal itu memancing sang Kaisar untuk langsung mengatakan tujuan utama dia berada di Prussia. Kaisar Alessa menjulurkan sebuah gulungan kertas pada Ratu.


“Kaisar akan menikah? Perkenalkan, aku Ratu Anna Podolski!” Ratu Anna tersenyum senang menyambut undangan tersebut, lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


“Alessa Melaina Aphrodite!” sahut Kaisar anggun.


“Kaisar Alessa… Anda memang secantik Dewi Aphrodite.”


Pujian yang tidak terbantahkan. Memang Kaisar Alessa sangatlah cantik. Meski Ratu merasa teritimidasi dengan hal itu. Namun, semua tidak lama setelah mengetahui niat Kaisar Alessa yang sebenarnya.


“Jadi, kalian belum menikah. Tapi, saat Yang Mulia pingsan, dia bilang-“


Kaisar Alessa menyela perkataan Raja Fabian. “Apa bedanya? Toh, kami sebentar lagi akan menikah. Bukan begitu, sayang?” wanita itu merangkul lengan Pangeran Evandor.


“Ya, Yang Mulia, kita akan segera menikah,” Pangeran Evandor berimprovisasi dengan baik. Kaisar Alessa sedikit lega dengan ketanggapan calon selirnya.


“Aku sangat senang. Kami berdua akan datang ke Aegis. Sebuah kehormatan di undang secara langsung oleh Yang Mulia Kaisar!” Ratu Anna berbinar sedangkan Raja Fabian berwajah datar, dingin bagaikan es di kutub utara.


“Terima Kasih Ratu.” Kaisar Alessa mengulas senyum manis.


Tbc.