
Istana Aegis
Aula istana kini berangsur-angsur menjadi ramai oleh para tamu yang berdatangan. Keramaian itu tidak hanya terjadi di dalam istana melainkan di luar istana, karena para rakyat pun ikut merayakan pesta penobatan Kaisar Aegis yang baru.
Mereka bersorak sorai akan kejayaan Aegis di tangan Kaisar Alessa. Baru seminggu Kaisar Alessa memimpin, perubahan ekonomi mereka mulai terasa. Tidak ada lagi pengambilan paksa akan hasil pertanian dan peternakan. Istana membayar semua hasil jerih payah petani dengan layak. Tidak ada lagi penindasan yang menyebabkan rakyat kelaparan. Semua rakyat mengelukan kemurahan hati sang Kaisar.
Tamu-tamu penting mulai berkumpul, semua orang menyorot rombongan tamu yang berasal dari negeri lain yaitu, Persia, Eropa Barat dan Romawi. Para Pangeran datang sebagai perwakilan dari negerinya dan juga karena mendengar kabar akan Kaisar Aegis yang ingin merekrut beberapa selir.
Pangeran Persia, Jerome Istvan datang untuk perdamaian akan perang yang sempat terjadi di antara mereka. Pangeran Eropa Barat, Lucas Geovanni datang menawarkan kerja sama pertukaran rempah dan bahan pokok berupa gandung sebagai bahan dasar roti. Pangeran Romawi, Evandor Daryan tertarik dengan keindahan pahatan hasil karya pengrajin Aegis. Ia berniat membeli beberapa patung sebagai bentuk pertemanan negeri mereka.
Menteri Attala menatap dingin para pangeran yang datang meski saat berhadapan dia tersenyum manis. Diseretnya Helios bersama dirinya.
“Kau lihat, mereka adalah para saingan beratmu. Meski di mata Ayah, tetap kamu yang tertampan di sini,” ucapnya berbisik.
Helios menghela napas dan memakan buah zaitun, mengunyahnya dengan sangat sulit. “Ayah, jika Kaisar tidak memilihku… jangan pernah salahkan aku,” celetuknya asal.
“Kau harus terpilih, ingat! Ini demi perpustakaanmu.”
“Kau sangat kejam, Ayah,” sarkas pria tampan itu.
Tiba-tiba Menteri Attala melebarkan mata. Dia teringat sesuatu. “Helios! Apa kau ingin memiliki perpustakaan yang lebih luas lagi? Bahkan lengkap dengan ruang belajar super megah dan mewah!”
“Perpustakaan yang lebih luas dengan ruang belajar yang megah dan mewah?” Helios membeo. Itu adalah mimpinya selama ini.
“Jawab, kau mau atau tidak?”
“Tentu saja aku mau Ayah!”
“Kau bahkan bisa mendapatkan salinan karya Homerus!”
“Demi Dewa Zeus, bagaimana caranya Ayah?” Helios berbinar. Dia ingin sekali memiliki karya legendaris Homerus.
Menteri Attala menyeringai. “Menikah dengan kaisar, permintaan apa pun akan beliau kabulkan selama kau bisa menjadi yang tersayang!”
***
Pesta berlangsung tanpa ada yang tahu jika sang Kaisar telah berbaur dengan para tamu. Karena saat ini mereka semua memakai topeng. Sebuah usul yang di cetuskan oleh Darius. Pria itu tidak rela jika kecantikan sang Kaisar dilihat oleh orang banyak. Meski bukan itu alasan saat dia lontarkan pada Kaisar.
“Dengan begini, kita bisa menilai secara langsung seperti apa mereka? Yang tulus atau tidak pada Anda, Yang Mulia,” Darius beralasan.
Kaisar Alessa mengusap dagunya seraya berpikir. “Benar juga, aku menyukai idemu. Buatkan topeng untukku dan para tamu.
Selama satu jam topeng-topeng itu selesai dibuat dan diberikan ke tamu yang datang. Awalnya mereka bingung dan menolak topeng itu. Namun, setelah dijelaskan jika topentg itu merupakan salah satu syarat pesta. Mereka pun menerimanya.
Sebelumnya Darius sudah menghafal siapa saja para tamu dengan pakaiannya. Jadi, meski mereka memakai topeng. Darius sudah mengenali mereka satu persatu.
Saat Darius asik menemani sang Kaisar dari belakang Istana terdapat pengawal yang kebingungan. Tampak dia mencari seseorang tapi tidak mengenali orang yang ada di sana karena semuanya mengenakan topeng. Kaisar menyadari itu.
Darius segera menoleh pada anak buahnya yang menengok ke sana ke mari. Bahkan salah mengenali tamu.
“Hamba undur diri dulu Yang Mulia,” pamit Darius.
“Pergilah,” Kaisar Alessa mengangguk.
Sungguh hati Darius enggan pergi dari sana. Tapi apa daya? Ada saja yang membuat waktunya bersama sang Kaisar menjadi terganggu.
Kaisar Alessa melihat Darius yang pergi bersama anak buahnya. Kini dia sendirian di tengah banyaknya tamu yang tidak mengenalinya. Para tamu pun seperti menunggu kehadirannya. Alessa sengaja mengulur waktu dan memanfaatkan hal itu untuk berjalan menuju taman Istana yang tampak sepi.
Meski hanya sebentar, setidaknya dia merasakan kebebasan di taman tersebut. Kaisar Alessa yang telah mendapatkan kenangan buruk dan hampir meregang nyawa menjadi trauma akan sosok pria. Semua pria di matanya sama saja, mengerikan dan penuh kepalsuan. Hanya Darius yang memahaminya. Hingga saat pria itu tidak ada, Kaisar Alessa seolah bukanlah siapa-siapa.
“Aku akan ke dalam saat Darius kembali,” monolognya sambil terus melangkahkan kaki jenjangnya. Gaun sutera dengan hiasan emas melekat sempurna ditubuhnya yang ramping namun berisi. Maniknya menatap kagum seindahan bunga lily yang tertanam di tamannya.
“Ada yang bilang warna putih lily berasal dari susu yang ditumpahkan Dewi Hera,” ucap seseorang membuat Kaisar Alessa menghentikan langkah.
Sosok yang berkata itu adalah seorang pria tampan dengan rambut coklat muda berkilau. Pria itu berdiri sambil menyenderkan punggungnya pada pohon cemara. Maniknya biru, sebiru samudra yang mengingatkannya pada seseorang. Kaisar Alessa masih memindai pria itu.
Pria itu mendekat hingga jarak mereka tidak begitu jauh. Matanya menatap lamat-lamat seolah menembus topeng yang Kaisar kenakan. “Jika ada Bunga lain yang bisa aku sandingkan bersamamu, aku akan mencarinya ke ujung dunia. Sayangnya… aku merasa tidak ada yang bisa menyamaimu,” pujian yang membuat Kaisar Alessa sedikit risih, dia memegangi topengnya.
“Bahkan topeng itu tidak bisa menutupi pesonamu.”
“Benarkah?”
“Percayalah, aku tidak buta,” jawab pria itu.
Kaisar Alessa terkekeh. Pria di hadapannya ini bukan pria biasa. Jika dilihat dari pakaiannya… seketika sang Kaisar mengulum senyum. Dia tahu siapa lawan bicaranya. “Sebuah rayuan saat pertama kali bertemu? Bukan sikap seorang bangsawan. Aku akan memakluminya karena kita tidak saling mengenal,” sahut sang Kaisar.
“Meski kita tidak saling kenal, tapi aku yakin tidak akan salah mengenalimu dipertemuan kita lain hari,” tekan pria itu serius.
“Jadi?” pancing Kaisar Alessa.
Saat itu juga sang Pria menekuk kakinya, berlutut di hadapan Kaisar Alessa. Menggapai tangan lembut Kaisar dan mengecupnya. “Aku Lucas Geovanni. Kita pernah bertemu sebelumnya Kaisar… Tapi, aku tidak mau mengingatkan masa itu pada Yang Mulia,” Kaisar Alessa cukup terkejut. Dia pikir pria di hadapannya ini tidak mengenalinya sebagai Kaisar.
“Lucas? Eropa Barat?” tebaknya. Pantas sejak tadi dia tidak melihat perwakilan Eropa barat di dalam aula. Ternyata orangnya sedang di taman.
Pria bernama Lucas itu mengangguk. “Aku di sini ingin mengajukan lamaran pada Yang Mulia, pilihlah aku menjadi selirmu!”
Sebuah lamaran pertama yang didapatkan dari seorang pria yang tidak dikenalnya. Kaisar Alessa hanya terdiam membisu dengan mata yang membulat sempurna.
Tbc.
Lucas Geovanni