God's Hidden Truth

God's Hidden Truth
CHAPTER 57 : Malam yg terasa cepat.



...Malam telah tiba, Ana dkk pun beristirahat di pinggir sungai sembari Fiero membuat api unggun untuk menghangatkan diri bersama rekannya yg lain....


...Tio mengeluarkan bahan makanan dari tas ransel yg dia bawa dari kota FONTAINE, mulai dari beberapa daging yg dia beli di kota hingga rempah-rempah untuk dijadikan bumbu pada makan malam ini....


...Terlihat Andi yg sedang mengambil batu gepeng dari sungai, mungkin dia akan jadikan sebagai wadah untuk Tio memasak. Ana yg hanya duduk melihat rekannya yg lain sedang mempersiapkan makanan, dia nampak kebingungan karena cara memasak yg tak biasa....


...Beberapa saat kemudian... Perutnya berbunyi cukup keras hingga membuat Tio dan Fiero tertawa. Bahkan Andi pun yg terlihat kesal, juga ikut tertawa. Suasana yg sebelumnya saling diam antara rekan pahlawan lain, seketika berubah menjadi lebih ceria hanya karena suara perut Ana yg berbunyi....


...Andi pun berkata pada Ana untuk membantu Tio memasak. Ana berdiri dan pergi untuk membantu Tio, lalu... Dirinya (Ana) bertanya apa yg bisa dirinya lakukan untuk membantu Tio, Tio pun menyuruh Ana untuk memotong sayuran dan menghaluskan bumbu-bumbu yg sudah Tio potong halus tadi....


...Seketika Ana mengambil sabitnya dan mengarahkannya pada sayuran yg ada didepannya. Tio kembali tertawa menepuk kepala Ana sembari berkata. "Memangnya kamu bisa memotong sayuran dengan senjata mu itu?." Ana dengan polos menjawab jika itu hal yg cukup sulit untuk dilakukan sembari menunjukkan wajah seriusnya....


...Tio pun memberikan salah satu pisaunya yg dia ambil dari tas-nya untuk Ana gunakan memotong sayur....


...Singkat cerita... Ana dkk pun makan dengan wadah kayu yg dibawa Tio dari kota FONTAINE. Mengelilingi api unggun, mereka bertiga makan dengan perlahan terkecuali Ana yg selalu minta nambah pada Tio....


...Andi pun menjahili Tio dengan berkata "Sepertinya kau sudah cocok untuk menjadi kakak perempuan, Tio." Ucap Andi sembari tersenyum. Tio menjawab jika dirinya memang ingin menjadi kakak perempuan, tapi Ana bukan tipe adik perempuan yg ideal....


...Mendengar hal itu, Ana mengerutkan keningnya dan mempercepat makannya. Setelah dirinya (Ana) selesai makan, Ana kemudian berkata "Aku juga tidak mau kakak perempuan seperti kak Tio, malahan... Kak Silviana itu tipe kakak perempuan yg ideal." Ucapnya....


...Suasana berubah setelah Ana berkata seperti itu, Tio pun berkata pada Ana untuk jangan pernah berkata seperti itu di depan Silviana secara langsung. Ana sedikit kaget dan bertanya mengapa demikian....


...Sebelum Fiero menjelaskan semuanya pada Ana, Andi kemudian menghentikan pembicaraan dengan berkata......


..."Sudahlah, itu adalah masa lalu neng Silvi, sudah bukan urusan kita juga." Ucapnya....


...Tanpa sepatah kata, Ana pun duduk dan tak membahas hal itu lagi. Beberapa jam kemudian......


...Ana, Fiero dan Tio sudah tertidur lelap. Sedangkan Andi berjaga malam agar tidak ada monster atau hewan buas yg mendekat atau bahkan menyerang....


...Andi menoleh kearah Ana yg tertidur, dia nampak menatap tajam kearah sabit terkutuk yg Ana peluk. Dalam benak Andi... Dia terpikirkan sesuatu....


..."Aku masih mengingat hari dimana kau dan aku melakukan perjalanan melawan cacing raksasa itu." Ucap Andi dalam benaknya....


...Andi kemudian menatap bulan yg bersinar terang sembari berkata......


..."Kau benar-benar pahlawan bodoh, Tuan Genzo... Tidak, Pahlawan DAIN." Ucapnya sembari menatap bulan sabit....


...TOO BE CONTINUED....


Selanjutnya... *Chimera.*