From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#08



Anang kembali dengan membawa dua mangkuk sekaligus, dan dia meletakkannya di hadapan Dea.


"Hah, kamu becanda ya?" kaget Dea saat melihat satu mangkok berisi beberapa bulatan bakso.


"Tadikan aku tanya kamu belum jawab, jadi ya sekalian aja aku beli segitu. Pokoknya kamu harus habisin." balas Anang membuat mata Dea melotot.


"Kamu gila ya mas, ini banyak banget mana muat di perut aku. Lagian kamu ini, aku kan tadi cuma mau nambah dua aja."


"Ya aku gak mau tahu, pokoknya kamu harus habisin."


"Lagian nanti kalau kamu kayak gini terus uang kamu akan cepat abis loh."


"Abis ya tinggal cari lagi, lagian kalau untuk kebahagiaan istri mah gak bakalan cepet abis." balas Anang santai.


"Makasih ya mas, kamu sudah baik banget sama aku. Aku jadi merasa gimana enaknya di ratukan oleh seseorang yang benar benar mencintai kita." Dea menatap Anang dalam.


"Apapun akan aku lakukan untuk kamu selama aku masih mampu." balas Anang mengelus kepala Dea.


"Udah lanjutin makannya nanti gak enak loh kalau dingin." suruh Anang.


"Tapi ini kebanyakan." cemberut Dea.


"Nanti aku bantu habisin nya, kalau belum habis juga nanti bisa minta di bungkus." balas Anang membuat Dea tersenyum.


"Makin cinta deh sama kamu." ungkap Dea.


"Aku juga." balas Anang.


Mereka berdua pun makan lagi dengan tenang, hingga satu mie ayam milik Dea dan Anang sudah habis. Tapi tidak dengan mangkuk yang berisi bakso, di sana terlihat masih ada beberapa bulatan bakso yang masih tersisa.


"Perutku udah gak muat mas." ucap Dea yang merasa kekenyangan.


"Sama mas juga." balas Anang.


"Kita bungkus aja ya, lumayan nanti kalau mau bikin nasi goreng bisa buat toping." usul Dea.


"Ya udah, bentar aku bilang dulu sekalian bayar."


"Kamu jangan lupa cari tempat yang mau kita kunjungi." lanjut Anang sebelum pergi menghampiri penjual mie ayam itu.


"Iya mas." balas Dea.


Anang pergi menghampiri penjual mie ayam, sedangkan Dea bersibuk dengan handphone Anang untuk mencari tempat yang cocok untuk mereka healing habis ini.


"Gimana udah dapat belum?" tanya Anang setelah kembali sambil membawa satu bungkus kresek yang berukuran kecil.


"Udah dong, nih." Dea menunjukkan layar handphone Anang kepada Anang.


"Ya udah ayo kita berangkat, keburu nanti kesorean terus tutup tempatnya." ajak Anang.


"Yuk."


Mereka berdua pun pergi meninggalkan warung lesehan itu menuju tempat yang ingin mereka datangi berdua.


-


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam dari warung lesehan tadi akhirnya mereka sampai juga di tempat wisata yang mereka cari.


Bukit Cinta Rawa Pening, tempat yang sangat indah ketika sore hari seperti ini. apalagi kalau cuacanya cerah seperti ini.


Di sama terdapat jembatan panjang yang berada di atas rawa, nanti juga di sana ada perahu yang di sewakan. Jadi wisatawan yang datang ke sana bisa menikmati pemandangan indahnya Bukit Cinta Rawa Pening dari atas perahu.


"Aku beli tiketnya dulu ya." ucap Dea setelah turun dari motor.


"Iya, aku mau cari tempat parkir dulu. Ingat nanti kamu jangan masuk duluan." ucap Anang mengingatkan Dea.


"Iya mas." balas Dea dan langsung berlalu menuju loket tiket masuk ke Bukit Cinta Rawa Pening.


"Berapa orang mbak?" tanya penjual tiket.


"Dua orang mbak." balas Dea.


"Ini mbak." Dea pun menerimanya, dan setelah membayarnya Dea langsung pergi mencari keberadaan Anang.


"Gimana udah dapat tiketnya?" tanya Anang menghampiri Dea.


"Udah, yuk masuk." ajak Dea.


Mereka berdua pun masuk ke dalam Bukit Cinta Rawa Pening sambil tangan Dea melingkar di lengan kanan Anang. Mereka terlihat seperti pasangan yang serasi.


Tak banyak juga dari beberapa wisatawan yang melihat mereka berdua merasa iri. Terutama para kaum jomblo, mereka merasa sangat iri dengan keromantisan mereka.


"Mereka kenapa heboh gitu sih mas?" tanya Dea heran.


"Mereka iri sama kita." balas Anang.


"Udah yuk kita lanjut masuk, katanya kamu tadi mau naik perahu." lanjut Anang agar Dea tak menghiraukan mereka yang tengah membicarakan mereka berdua.


Seperti sebelumnya, tangan Dea melingkar di lengan Anang lagi. Mereka berjalan berbarengan menuju jembatan panjang yang ada di atas rawa.


"Mas foto yuk." ajak Dea setelah berada di sana.


"Yuk, tapi siapa yang fotoin?"


"Mbak mbak, boleh minta tolong fotoin gak?" ucap Dea kepada wisatawan yang berada satu tempat dengannya.


"Boleh mbak." balas mbak mbak itu.


Dea pun memberikan handphonenya kepada orang itu dan dia sama Anang langsung mengambil posisi dan bergaya mesra agar terlihat bagus saat di foto.


"Terimakasih ya mbak." ucap Dea setelah selesai foto.


"Iya mbak sama sama." balas orang itu.


"Mas tolong fotoin aku dong." pinta Dea pada Anang.


"Ya udah sini pakai handphone aku aja."


Dea pun langsung mengambil posisi untuk foto, dan Anang pun mulai memfoto Dea.


"Coba lihat bagus gak?" tanya Dea menghampiri Anang.


"Wah hasil jepretan kami bagus banget mas." puji Dea saat melihat hasil jepretan Anang yang menurutnya itu sangat bagus. Karena tubuhnya tidak terlihat pendek.


"Bukan tukang fotonya yang pintar, tapi modelnya juga emang udah pinter gaya." balas Anang merendah sekaligus memuji Dea.


"Apaan sih kamu, orang ini emang hasil jepretan kamu bagus kok." balas Dea.


"Sini coba kamu aku fotoin." lanjut Dea.


"Gak ahh, aku gak bisa gaya." tolak Anang.


"Halah gayanya, orang foto foto kamu gayanya bagus bagus." balas Dea tak percaya.


"Loh beneran yang."


"Udah ayo cepat." paksa Dea.


"Akhirnya Anang pun bergaya dan Dea langsung menjepret Anang.


"Tuh kan bagus, kamu sih sukanya merendah aja." ucap Dea melihat hasil foto Anang.


"Mana coba lihat."


"Nih." Dea menyodorkan handphonenya.


"Oh iya bagus juga, ternyata aku ganteng juga ya yang." pede Anang.


"Baru sadar, kemana aja kamu selama ini." balas Dea.


"Udah ahh ayo kita naik perahu, aku pingin foto di atas perahu nanti." ajak Dea menyeret Anang menuju penyewaan perahu.


Setelah puas berkeliling di Bukit Cinta Rawa Pening, Anang dan Dea pun pulang dari sana karena tempat itu sudah mau tutup.


"Mau kemana lagi?" tanya Anang pada Dea yang duduk di jok belakangnya.


"Pulang aja lah mas, nanti uang kamu habis kalau buat jalan jalan terus." jawab Dea.


"Gak jadi makan nasi kucing?" tanya Anang.


"Enggak deh lain kali aja, nanti aku masak aja di rumah." tolak Dea, karena dia merasa pengeluaran mereka hari ini sudah terlalu banyak.


"Ya udah kalau gitu, kalau kamu berubah pikiran bilang ya, cuma makan nasional kucing doang gak bikin uang aku abis yang." balas Anang.


"Iya tahu, tapi aku mau pulang aja." balas Dea.


Akhirnya Anang pun melajukan motornya menuju rumah mereka. Anang sangat bersyukur mendapatkan istri yang pengertian tanpa Anang harus berbicara perihal keuangannya pada Dea.


...***...