
"Terus habis ini apa yang mau lo lakuin, gak mungkinkan kalau lo nganggur secara sekarang lo sudah ada yang harus lo nafkahin?" tanya Sahrul.
"Itu yang lagi gw pikirin, bahkan semalam gak bisa tidur gara gara mikirin ini. Ehh terus ketauan istri gw dan dia bilang kalau kita berdua pasti bisa melalui ini semua." jawab Anang.
"Ya sabar, pasti nanti ada kok pekerjaan yang akan datang ke Lo, lagian Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambanya." ucap Rayyan memberikan semangat kepada Anang.
"Pasti, mungkin nanti gw akan mulai buka usaha sendiri, karena gak mungkin gw akan terus terusan bekerja di tempat orang terus, umur gw akan semakin bertambah dan kemampuan kerja gw tidak akan terus selalu maksimal." balas Anang.
"Semangat, gw doain semoga kita semua di sini menjadi pengusaha yang sukses kedepannya." balas Rizky mendoakan dia dan teman temannya.
"Aamiin." balas mereka semua.
"Ya udah kalau gitu gw mau pamit pulang dulu ya." pamit Anang kepada teman-temannya.
"Hati hati, jangan terlalu di pikirkan berdoa dan berusaha saja semoga ada keajaiban." balas Rayyan.
"Iya, bye gw pergi dulu, kalian yang semangat kerjanya."
"Iya, lo hati hati." balas mereka semua.
Anang pun pergi dari pabrik yang sudah menjadi tempat untuk dia mencari rezeki selama beberapa tahun ini. Mungkin sudah saatnya Anang untuk memulai bisnis sendiri dan tidak bergantung pada orang lain lagi.
-
"Eehh, ehh kalian udah liat belum kalau mbak Dea udah posting dagangan di storynya?" tanya ibu Iva pada teman-teman gosipnya.
"Emang iya, aku belum buka handphone dari pagi?" balas ibu Tutik dan langsung membuka handphonenya.
"Iya benar, aku tertarik sama skincare yang dia jual itu, soalnya kulit wajahku udah mulai kusam." balas ibu yupi.
Saat ini seperti biasa ibu Tutik, ibu Iva, dan juga ibu yupi tengah nongkrong dan bergosip seperti biasanya di teras rumah ibu Tutik.
"Kalau aku sih lebih tertarik sama produk yang buat anu itu, biar ituku makin seret dan suami akan tetap suka dan tidak jajan di luar." balas ibu Iva.
"Ooh banyak juga ya yang mbak Dea jual, kok aku jadi tertarik sama semuanya sih." tanggapan ibu Tutik setelah melihat story Dea.
"Kalau uangmu banyak sih enak, lah kita harus kerja dulu buat beli ini itu." balas ibu yupi.
"Tenang aja, nanti kalau kalian mau beli aku kasih hutangan sama kalian." balas ibu Tutik.
"Wah beneran tuh, boleh deh lagian aku udah kepengen banget beli produknya." seru ibu yupi senang.
"Ehh ini udah ada yang beli tadi, ehh coba deh baca caption nya." suruh ibu Tutik setelah sampai di story Dea yang bagian akhir, dimana tadi Dea memposting foto uang hasil penjualannya dari ibu Marni.
"Lah sekarang ada diskon, ayo buruan kita langsung meluncur kerumahnya, sayangkan kalau ada diskon gak kita manfaatin." ajak ibu Iva antusias.
"Ayo ayo, keburu nanti diskonnya abis." setuju ibu Tutik dan ibu yupi.
Mereka bertiga berbondong-bondong pergi menuju rumah Dea untuk membeli produk yang Dea jual.
Tak lupa mereka pulang terlebih dahulu ke rumah mereka untuk menggambil uang, meskipun tadi ibu Tutik bilang akan meminjamkan uang kepada mereka tapi tidak mungkinkan kalau mereka meminjam dengan jumlah yang sangat besar, jadi mereka memilih untuk mengambil uang nanti kalau uang mereka kurang bisa pinjam kepada ibu Tutik.
Tok tok tok.
"Assalamualaikum mbak Dea." ucap mereka bertiga setelah sampai di depan rumah Dea.
Tok tok tok.
"Mbak Dea, kita mau beli nih." ucap mereka lagi sambil mengetuk pintu rumah Dea kembali.
"Kok sepi ya, kayaknya gak ada orang deh di dalam." ucap ibu Iva karena tidak ada jawaban dari orang pemilik rumah.
"Mana mungkin sih, orang ini story mbak Dea juga masih setengah jam yang lalu kok, mungkin mbak Dea lagi tidur, kan ini lagi siang bolong." balas ibu Tutik.
"Kayaknya sih begitu, apa kita pulang aja ya nanti sore kita ke sini lagi." usul ibu yupi.
"Ya udah ayo, dari pada kita ganggu orang yang lagi istirahat kan itu gak baik." setuju ibu Iva.
Mereka bertiga pun akhirnya kembali pulang ke rumah mereka lagi, mungkin nanti sore mereka akan datang ke rumah Dea lagi.
Sementara Dea si pemilik rumah, dia tengah tidur dengan pulas nya karena tadi kepalanya rasanya benar benar pusing. Dea berharap nanti setelah bangun kepalanya udah gak sakit lagi.
Anang yang baru sampai di depan rumahnya pun bingung karena tak biasanya pintu rumahnya terkunci seperti ini, Anang pun mengunakan kunci cadangan untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamualaikum sayang." salam Anang memasuki rumahnya.
Sepi, tak ada jawaban dari dalam, Anang yang khawatir pun langsung pergi menuju kamarnya untuk memeriksa apakah ada Dea atau tidak.
"Ternyata lagi ngebo, pantes aja aku panggil gak jawab jawab." gumam Anang yang melihat Dea sedang tidur, bahkan sesekali Anang juga mendengar kalau Dea mendengkur.
Anang berjalan menghampiri Dea dan mencium kening Dea.
"Pasti kamu capek banget ya, sampai sampai tidur kamu mendengkur seperti ini." ucap Anang membelai pipi lembut Dea.
Anang bangkit dan pergi untuk membersihkan dirinya baru setelah itu dia bergabung bersama Dea tidur di atas ranjang.
Mereka berdua tidur siang bersama, Anang memeluk Dea erat agar tidur Dea semakin nyenyak.
-
"Ehh bu RT udah tahu belum kalau mbak Dea udah mulai jualan?" tanya ibu Marni yang bertemu ibu Ira di watu mbok Inah.
"Wah beneran Bu, saya belum tahu karena seharian ini sibuk bersih bersih gudang karena mau di pakai buat tempat penyiksaan barang barang." balas ibu Ira.
"Iya Bu, bahkan tadi saya sudah membeli salah satu produk yang mbak Dea jual." balas ibu Marni meyakinkan.
"Benarkah, lalu ibu beli produk yang apa?" tanya ibu Ira penasaran.
"Aku beli sabun mandi Bu, dan lihat deh bu hasilnya." menunjukkan tangannya kepada ibu Ira, "Baru sekali pakai aja udah seperti ini, apalagi kalau kita pakai tiap hari." lanjut ibu Marni.
"Wah iya Bu, maaf nih ya bu kemaren itu saya lihat kulit ibu itu sudah agak kusam sama keriput, tapi sekarang kelihatan lebih segar dan cerah." balas ibu Ira.
"Tuh kan Bu, aku jadi semakin penasaran sama produk CISA yang lainnya."
"Nanti deh kalau saya sudah gak sibuk saya bakal pergi ke rumah mbak Dea." balas ibu Ira.
...***...