From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#06



"Dah yuk kita tidur." ajak Anang sambil membawa Dea masuk ke dalam pelukannya.


Dea mendongakkan kepalanya menatap Anang, "Kamu gak jadi unboxing aku?" tanya Dea.


"Hahaha... aku tahu kamu belum siap sayang. Udah ahh jangan pancing pancing aku terus, ayo tidur."


"Sini aku peluk biar kamu bisa tidur." lanjut Anang.


Dea pun menurut saja karena ini juga kemauan dia. Dea mencium bau ketek Anang dan baunya itu sangat menenangkan. Hingga tanpa dia sadari lama kelamaan matanya mulai merasakan kantuk. Perlahan Dea pun menutup matanya.


Anang yang belum tidur pun melihat kearah Dea saat merasakan hembusan nafas yang teratur mengenai ketiaknya.


"Selamat malam." ucap Anang dan memberikan kecupan di kepala Dea.


Cup.


Anang pun ikut menyusul pergi ke alam mimpinya lagi sambil memeluk Dea dengan erat.


-


Pagi harinya Dea meraba raba samping tempat tidurnya, karena merasa tidak ada keberadaan orang di sampingnya Dea pun membuka matanya.


"Loh mas Anang kemana?" tanya Dea pada dirinya sendiri.


Dea melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, mata Dea melotot sempurna melihat itu. Bagaimana bisa dia seorang istri bangunnya kesiangan, pasti suaminya sudah berangkat kerja.


Ceklek.


"Selamat pagi sayang." sapa Anang saat memasuki kamarnya dan melihat Dea sudah bangun.


"Pagi juga mas." balas Dea.


Cup.


Anang memberikan kecupan selamat pagi di kening Dea.


"Yuk bangun kita sarapan, aku udah masakin nasi goreng buat kita." ajak Anang menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Dea.


"Kamu gak kerja mas?" tanya Dea, pasalnya suaminya ini sudah libur hampir satu Minggu gak masuk kerja.


"Kan sekarang hari Minggu, jadi aku masuk kerjanya besok." jawab Anang sambil tangannya merapikan anak rambut Dea yang berantakan.


"Ayo bangun cuci muka, habis itu kita langsung makan." suruh Anang.


Dea pun bangkit dan berjalan dengan sempoyongan menuju kamar mandi yang berada di luar kamarnya. Sedangkan Anang entah pergi ke mana.


Setelah cuci muka dan gosok gigi, Dea langsung berjalan menuju meja makan tidak ke kamar terlebih dahulu. Dan di sana dia sudah melihat Anang yang duduk menunggunya masih dengan telanjang dada seperti tadi.


"Sini sayang kita makan." ajak Anang mempersilahkan Dea untuk duduk di depannya.


"Maaf yang mas aku bangunnya kesiangan jadi kamu deh yang masak. Padahalkan seharusnya aku sebagai istri kamu yang masak." ucap Dea merasa tidak enak.


"Kamu ngomong apa sih, selama aku masih ada waktu aku bakal bantu kamu mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi kamu gak perlu ngomong seperti itu ya." balas Anang.


"Udah yuk kita makan, nanti keburu dingin." ajak Anang.


Mereka berdua pun makan dengan tenang, terkadang Anang menyuapi Dea dan begitu juga sebaliknya. Mereka terlihat sangat bahagia seperti kebanyakan para pengantin baru yang masih anget angetnya. Dan semoga saja mereka tetap langgeng sampai kakek nenek.


Selesai sarapan Dea langsung mencuci piring dan membersihkan dapur. Sedangkan Anang pergi ke dalam kamar untuk membersihkan kamar mereka.


dan setelah itu mereka sama sama membersihkan ruang tamu dan juga halaman rumah bersama kadang juga sambil becanda.


"Sayang lihat sini deh." pangil Anang yang berada di belakang Dea tengah mencabut rumput rumput yang sudah panjang di halaman rumah.


"Aaa...." teriak Dea karena Anang melemparkan cacing ke kaki Dea.


Dea langsung berlari menjauhi cacing itu dengan wajah yang ketakutan.


"Hahahaha...." tawa Anang menggelegar, sehingga membuat orang orang yang kebetulan lewat di sana melihat kearah mereka berdua.


"Aduh romantisnya pengantin baru." ucap ibu Ira yang kebetulan lewat.


"Romantis apanya sih, orang biasa aja." sahut ibu yang satunya lagi yang berdiri di samping ibu Ira.


"Loh itu romantis loh, emang ibu gak pernah muda ya." balas ibu Ira.


"Enak aja, gini gini juga suami saya itu dulu sangat romantis." tak terima ibu itu.


"Heleh ibu Tuti bisa aja kalau ngomong, setahu saya sebagai tetangga terdekat ibu Tuti suami ibu orangnya itu suka marah marah mana ada romantis." sahut ibu yang baru saja datang sambil membawa kantong belanjaan.


"Jangan sembarang kamu kalau ngomong ya." marah ibu itu yang ternyata bernama ibu Tuti.


"Dih marah, cepet tua loh nanti." balas ibu yang membawa kantong belanjaan itu tanpa takut.


"Udah ibu ibu jangan pada ribut, lihat tuh kalian di lihatin oleh pengantin baru." lerai ibu Ira sebagai ibu RT.


"Awas aja kamu." ucap ibu Tuti dan pergi dari sana sambil menghentak hentakan kakinya seperti anak kecil yang tidak di belikan permen oleh ibunya.


"Kalian jangan kaget ya kalau lihat ibu Tuti seperti itu, dia itu emang suka julit dan ngomongin orang." ucap ibu yang membawa kantong kresek itu kepada Anang dan Dea.


"Iya Bu." balas mereka berdua yang sekarang sudah berdiri berjejer.


"Oh iya ibu Marni kenalin nih tetangga baru kita." ucap ibu Ira menyuruh ibu yang membawa kantong kresek yang ternyata bernama ibu Marni untuk berkenalan dengan Anang dan Dea.


"Oh iya saya lupa, kenalin ya nama saya Marni kalian bisa pangil saya ibu Marni. Rumah saya ada di sebelah timur rumah ibu RT." ucap ibu Marni memperkenalkan dirinya.


"Iya Bu, nama saya Dea dan ini suami saya mas Anang." balas Dea memperkenalkan dirinya dan Anang.


"Salam kenal ya, semoga kita menjadi tetangga yang baik di sini."


"Iya Bu." balas Anang dan Dea.


"Nanti jangan sungkan sungkan kalau mau main main ke rumah kita ya." ucap ibu Ira.


"Bener tuh, nah kebetulan nanti malam di rumah saya ada acara pengajian, kalian berdua jangan lupa datang ya." timpal ibu Marni.


"Siap Bu, nanti kita akan datang yang paling awal sendiri." balas Dea sambil becanda.


"Hahaha... saya tunggu itu nak Dea." balas ibu Marni.


"Kalau begitu kita permisi pamit pulang dulu ya, kalian lanjutkan saja bersih bersihnya nanti malam jangan lupa datang ke rumah ibu Marni." pamit ibu Ira mewakili ibu Marni juga.


"Iya Bu, insyaallah nanti kami akan datang." balas Anang yang sedari tadi diam saja.


Ibu ibu itu pun pergi meninggalkan Anang dan Dea berdua di sana.


"Kamu kan beli rumah ini udah beberapa hari yang lalu ya, kok mereka gak ada yang kenal kamu sih?" heran Dea.


"Ya kan aku berangkat kerja pagi terus pulang kerja juga udah malam terus langsung tidur jadi ya gak sempat mau kenalan sama tetangga tetangga yang lain."


"Yang aku kenal di sini ya cuma pak RT sama bu RT aja." lanjut Anang.


...***...