From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#49



Anang dan Dea sudah pulang dari tempat pak Kenan, mereka sudah menyepakati kalau nanti Anang akan membuka tokonya di awal bulan depan.


Pak kenan dan ibu Zoya sangat mendukung Anang untuk sukses, karena dulu mereka juga sama seperti Anang, merintis dari nol.


"Mas kamu mau langsung tidur atau mau makan dulu?" tanya Dea pada Anang yang sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Sayang sini deh." balas Anang memanggil Dea untuk mendekatinya.


"Iya kenapa mas?" tanya Dea mendekati Anang.


Anang menarik tangan Dea untuk tidur di sampingnya dan memeluk tubuh Dea dengan erat seolah takut terlepas.


"Kami itu jangan sibuk terus, kamu harus banyak banyak istirahat. Udah tidur aja dari tadi pagi kamu belum istirahat sama sekali loh, ingat kamu itu sekarang lagi hamil jadi gak boleh capek capek." ucap Anang pada Dea.


"Aku gak capek kok mas, lagian juga pekerjaan rumah belum selesai jadi harus aku selesaikan dulu."


"Kamu itu kalau di bilangin jangan ngeyel deh, udah kamu istirahat aja biar aku yang kerjain."


Anang pun bangkit dan menyelimuti tubuh Dea agar Dea tertidur, dan setelah itu dia keluar kamar untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.


Anang mencuci piring piring yang kotor dan setelah itu dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci pakaian yang sudah kotor.


Setelah semuanya selesai, Anang pergi ke kamar dan melihat Dea sudah tidur.


Cup.


"Maaf ya sayang, gara gara aku kamu jadi harus hidup seperti ini, aku janji sama kamu akan jadi orang yang sukses biar nanti kamu dan anak anak kita tidak kesusahan seperti sekarang." ucap Anang pada Dea yang sudah tidur.


Anang pun berganti baju dan bergabung dengan Dea di atas ranjang, seperti biasa mereka berdua tidur berpelukan satu sama lain.


Sementara di tempat pengantin baru, Kenzo dan Dwi sudah pindah ke rumah baru mereka.


Sebelum tidur seperti biasa Dwi akan mengoleskan serum yang sudah dia ambil di rumah kedua orang tuanya, sedangkan Kenzo entah sedang melakukan apa di kamar mandi, karena dia sangat lama sekali di sana.


"Sayang kamu lagi apa?" tanya Kenzo pada Dwi saat dia baru keluar dari kamar mandi.


"Kamu udah selesai mas, habis ngapain sih kok lama banget di sana?" balas Dwi bertanya.


"Abis boker tapi gak keluar keluar, kamu lagi ngapain sih?" Kenzo menghampiri Dwi.


"Ini aku lagi ngolesin serum." jawab Dwi.


"Kok masih di pakai sih, kan aku sudah bilang kamu gak usah pakai itu, biar aku saja yang lakuin." balas Kenzo.


"Ya kan sayang mas, masak beli mahal mahal gak di pakai." balas Dwi.


"Iya sih, tapi kan... Ah sudahlah terserah kamu aja." kesal Kenzo dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Lah, kamu kenapa coba?" tanya Dwi heran.


Dwi pun menyudahi kegiatannya dan menghampiri Kenzo di ranjang.


"Kamu kenapa sih mas?" tanya Dwi.


"Aku marah sama kamu." balas Kenzo.


"Lah, marah kenapa coba?" tanya Dwi heran.


"Kenapa itu kamu, kamu kasih serum lagi, aku kan jadi gak bisa jilat jilat." jelas Kenzo.


"Oalah, kamu marah karena itu, kamu tenang saja mas, tadi aku udah tanya kalau serum ini aman kok kalau ketelan, tapi ya jangan di minum juga." jelas Dwi.


"Beneran yang?" tanya Kenzo memastikan.


" Iya bener, kalau ada apa apa itu jangan langsung marah, tanya dulu itu boleh apa enggak, kami itu belum apa apa udah marah marah duluan." omel Dwi.


"Iya iya, udah sini mau nen gak?"


"Ya mau lah."


Akhirnya mereka pun melakukan itu lagi. Maklum masih pengantin baru jadi masih anget anget nya.


-


Anang bekerja dengan keras supaya dia bisa mendapatkan bonus yang banyak dari tempatnya kerja.


Agar uangnya nanti bisa dia gunakan untuk modal buka toko.


Dea juga sama, dia selalu membuat story story'yang menarik minat pembeli agar banyak yang membeli produk miliknya.


Usaha memang tidak akan mengkhianati hasil, dengan hasil kerja keras Dea akhirnya banyak pembeli yang datang ke rumah Dea ataupun beli langsung di toko market place milik Dea.


Setiap hari Dea akan selalu mengirimkan paket ke daerah daerah sekitar sampai ke luar pulau.


Pelayanan Dea yang baik membuat para pembeli suka belanja di toko Dea, bahkan baru ini ada beberapa dari mereka yang tertarik dengan bisnis Dea dan mau bergabung dengan Dea.


Dengan senang hati Dea menerima mereka, Dea membimbing mereka sampai mereka bisa seperti dia.


Hingga satu bulan sudah berlalu, toko yang Anang impikan sejak dulu pun terwujud.


Hari ini adalah hari pembukaan toko Anang, Anang mengadakan diskon di hari pertama pembukaan toko.


Banyak para pembeli yang datang dan membeli barang barang di toko Anang, karena memang harganya yang murah dan kualitas barangnya juga bukan kaleng kaleng.


"Selamat ya Nang, semoga nanti kedepannya kamu bisa membuka cabang cabang di seluruh Indonesia." ucap pak Kenan yang datang ke acara pembukaan toko Anang bersama istrinya ibu Zoya.


"Terimakasih pak, Bu, sudah menyempatkan diri untuk hadir di sini, ini semua juga berkat bantuan kalian." balas Anang.


"Tanpa kerja keras kamu juga tidak akan mungkin kamu bisa membuka toko ini." balas pak Kenan.


"Tapi saya sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan orang seperti anda dan istri anda pak, saya sangat berterimakasih kepada kalian berdua."


"Kita kan memang juga harus saling membantu, sayang dulu juga sama seperti kamu dan ada orang baik yang membantu saya." balas pak kenan.


"Ya sudah ya, kami mau lihat lihat di dalam dulu."


"Iya pak monggo silahkan." Anang pun mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam toko baru miliknya.


"Woy Nang." ucap seseorang memanggil Anang.


"Bang, aku kira Abang sama mbak Zakia gak bakal datang." balas Anang menyambut kedatangan Joni dan Zakia.


"Mana mungkin kami gak datang, kamu kan adik Abang jadi ya sesibuk apapun Abang, Abang akan tetap menyempatkan waktu buat datang." balas Joni.


"Dea mana Nang?" tanya Zakia pada Anang.


"Dea ada di dalam mbak, aku suruh duduk aja dia, soalnya kasian kalau harus lama lama berdiri, nanti kakinya bisa sakit." jawab Anang.


"Kamu benar, ibu hamil harus banyak banyak istirahat, ya sudah aku mau temuin Dea dulu ya." pamit Zakia.


"Iya mbak." balas Anang.


Zakia pun masuk ke dalam meninggalkan suaminya dan Anang yang tengah asik mengobrol di luar sambil menyambut para pembeli.


"Kamu hebat Nang, Abang bangga sama kamu." puji Joni sambil menepuk pundak Anang.


...***...