
"Mas." panggil Dea membuat Anang kaget.
Anang menengok ke belakang, " Sa-sayang kamu kok bangun?" tanya Anang.
"Kamu nyari kamu gak ada." balas Dea dan mengambil tempat duduk di samping Anang.
"Kenapa kamu gak bilang sama aku mas?" lanjut Dea bertanya.
"Maksud kamu?" balik tanya Anang.
"Kenapa kamu gak ngasih tahu aku kalau di perusahaan tempat kamu kerja bakal ada PHK besar-besaran?"
"Kan aku belum tentu kena PHK sayang jadi ya aku gak kasih tahu kamu." balas Anang.
"Aku ini siapa kamu sih mas?" tanya Dea lagi.
"Kok kamu pakai nanya gitu sih, kamu ini istri aku lah, istri aku yang tercinta." balas Anang.
"Lalu kenapa kamu gak pernah bilang kalau kamu ada apa apa, aku tuh kayak merasa kalau hanya aku yang selalu terbuka sama kamu, sedangkan kamu?" ucap Dea panjang lebar.
"Sayang kamu kok ngomong gitu sih."
"Mas, aku juga pengen jadi tempat curhat buat kamu, aku juga pengen jadi sandaran buat kamu di saat kamu ada masalah seperti ini. Aku tahu kok aku memang lulusan SMA yang belum tentu bisa bantu pecahkan masalah kamu." lanjut Dea mengeluarkan unek-uneknya.
"Sayang...."
"Aku sadar mas, aku ini hanya beban buat kamu, aku sadar aku gak sepintar cewek cewek lain di luaran sana yang bisa membantu suaminya. Tapi apakah salah kalau aku pengen tahu apa masalah kamu, ya meskipun aku tahu kalau aku tidak akan bisa bantu kamu." potong Dea.
"Aku siapa kamu mas, siapa hiks hiks hiks?" tangis Dea akhirnya pecah juga.
Dea merasa hanya dirinyalah yang selalu terbuka pada Anang, sedangkan Anang tidak. Dalam sebuah hubungan bukankah harus saling berkomunikasi dengan baik agar hubungan itu tetap awet dan aman dari segala terjangan badai yang kapan saja bisa datang menerjang hubungan mereka.
Jika dalam masalah seperti ini saja Anang tidak bicara, maka apa kabar nanti kalau ada masalah yang lebih besar.
"Sayang aku minta maaf, aku janji gak akan begini lagi. Aku minta maaf, kamu jangan nangis ya." ucap Anang yang merasa bersalah.
"Maaf aku belum bisa cerita sama kamu, aku gak kamu kamu kepikiran, aku gak mau buat kamu sedih." lanjut Anang.
"Aku ini istri kamu mas, sudah sepantasnya aku ada di saat saat kamu kesusahan. Kita sudah menikah, kita juga sudah janji akan melewati semuanya bersama. Lalu kenapa kamu seperti ini, hiks hiks hiks." balas Dea yang masih menangis.
Anang membawa Dea ke dalam pelukannya, dia merasa bersalah karena sudah membuat istrinya menangis. Anang merasa gagal sebagai suami karena sudah membuat Istrinya menangis seperti ini.
"Aku minta maaf, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Kamu jangan nangis aku jadi merasa bersalah." ucap Anang sambil mengelus punggung Dea.
"Apakah janji kamu bisa aku pegang mas, kalau kamu terus terusan seperti ini aku tidak yakin hubungan ini bisa bertahan sampai nanti." balas Dea.
"Tidak sayang, kamu gak boleh ngomong seperti itu. Aku akan membawa hubungan ini sampai nanti kita di surga. Aku minta maaf karena tidak bicara sama kamu soal masalah yang aku alami, aku minta maaf." balas Anang.
Anang melepaskan pelukannya pada Dea dan memegang kedua pipi Dea agar Dea menatapnya.
"Dengerin aku, aku minta maaf sama kamu, aku janji gak akan mengulanginya lagi. Aku janji akan selalu membicarakan apapun yang aku alami sama kamu. Tapi aku mohon kamu jangan menangis atau bersedih seperti ini." tangan Anang menghapus air mata Dea.
"Bagiamana aku tidak sedih, kalau yang membuat aku sedih adalah kamu sendiri." balas Dea.
"Mas minta maaf oke, mas janji tidak akan mengulanginya lagi, kamu mau kan maafin mas?" tanya Anang dan langsung di balas anggukan oleh Dea.
"Terimakasih sayang terimakasih." ucap Anang sambil terus mengecup ujung kepala Dea.
"Udah malam kita tidur aja ya, besok kita bicarakan lagi masalah ini." ucap Dea melepaskan pelukan Anang.
"Ya udah ayo." balas Anang.
Mereka berdua pun masuk ke kamar lagi dan langsung berbaring di atas ranjang berdua. Anang selalu setia memeluk Dea sambil terus menciumi ujung kepala Dea.
Anang merasa sangat bersyukur bisa mendapatkan istri sepengertian Dea, Anang janji tidak akan membuat Dea menangis lagi, dan kalau sampai itu terjadi berarti Anang memang sudah gagal menjadi suami yang baik untuk Dea.
Dea tidur kembali dalam pelukan Anang dengan masih ada sisa sisa air mata di sudut mata Dea.
"Maafin mas ya sayang, maaf karena mas belum menjadi istri yang baik buat kamu." ucap Anang sambil membelai pipi lembut Dea yang sudah tertidur.
Anang memanfaatkan hal ini untuk memandang wajah cantik istrinya, Anang masih belum percaya kalau bisa mendapatkan Dea.
Dulu Anang menembak Dea karena gabut doang, di saat teman temannya sudah pada memiliki pacar dan Anang yang waktu itu jomblo pun menembak Dea yang waktu itu baru dia kenal melalui sebuah grup chat.
Dulu waktu Anang menembak Dea, dia belum memiliki perasaan kepada Dea. Dia hanya gabut memacari Dea karena dia selalu di ledek jomblo oleh teman temannya.
Tapi seiring berjalannya waktu rasa itu timbul. Tiap malam sleep call, chatingan tiap hari membuat Anang merasakan nyaman saat bersama Dea.
Dan tanpa terasa hubungan mereka pun berjalan lama, dan Anang yang sudah yakin pun bertekad ingin meminang Dea di saat Dea yang baru saja lulus SMA.
Jarak yang jauh membuat Anang sempat ragu bisa memiliki Dea, tapi karena tekat dan usaha akhirnya Anang pun bisa memiliki Dea seutuhnya sekarang ini.
Cup.
"Good night my wife, semoga mimpi yang indah." ucap Anang sebelum akhirnya dia menyusul Dea pergi ke alam mimpi.
-
Pagi hari seperti biasa Dea selalu masak untuk sarapan dan Anang bersiap di dalam kamar.
"Sayang jam sepatu aku mana?" teriak Anang dari dalam kamarnya.
"Ya di tempat biasanya mas." balas Dea ikutan berteriak juga.
"Gak ada yang." balas Anang lagi.
"Astaga, awas aja ya nanti sampai ketemu, aku suruh kamu tidur di luar malam ini." ancam Dea yang sudah greget dengan tingkah Anang setiap pagi.
Kalau tidak jam tangan pasti kaos, atau gak gitu sekarang sepatu besok apa lagi, ****** *****?
Belum mempunyai anak saja Dea sudah seperti mengurus anak TK yang setiap pagi harua teriak teriak mencari barang barangnya.
"Ehh udah ketemu ternyata yang." balas Anang yang takut dengan ancaman Dea.
"Hufft..." hela nafas Dea.
...***...