
Dwi pun langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya, tak lupa dia juga menggosok giginya.
Setelah selesai dia langsung mencoba produk yang ibu Tutik berikan tadi.
"Kalau gw pakai ini, pasti gw bisa merayu si senior songgong itu." ucap Dwi sambil mengoleskan serum ke daerah PD nya.
Setelah selesai dia langsung pergi tidur karena besok dia harus masuk kuliah.
Dwi adalah salah satu mahasiswa di kampus ternama yang ada di Jakarta. Sebenarnya dia tidak tepos tepos amat, di antara teman temannya masih ada yang lebih tepos dari pada dia.
...**...
Pagi hari, Dea sudah masak seperti biasanya, dia menyiapkan segala keperluan Anang untuk kerja sebelum dia akan membangunkan Anang.
"Mas ayo bangun, kamu harus kerja." ucap Dea membangunkan Anang.
"Bentar yang aku masih ngantuk." balas Anang dengan mata yang masih terpejam.
"Ayo mas bangun ini udah siang." ucap Dea lagi memaksa Anang untuk bangun.
Dengan terpaksa Anang pun membuka matanya, dia melihat Dea yang berdiri di samping tempat tidur.
"Jam berapa sih yang?" tanya Anang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jam enam, ayo cepat mandi habis itu langsung sarapan." suruh Dea.
Dengan malas Anang pun beranjak bangun dari tidurnya, dia berjalan sempoyongan menuju kamar mandi tanpa membawa handuk.
Dea yang menyadari itu segera menyusul Anang sambil membawakan handuk untuk Anang.
"Mas ini handuknya biar nanti kamu gak teriak teriak lagi." ucap Dea memberikan handuk pada Anang yang baru akan masuk ke dalam kamar mandi.
Anang menerima handuk itu dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sambil menunggu Anang mandi, Dea menyiapkan makanan untuk Anang dan juga teh hangat untuk Anang.
...**...
Sedangkan di lain tempat, Dwi baru saja bangun dari tidurnya. Dia merasa bagian dadanya terasa sangat berbeda dari biasanya.
"Gila baru pakai sekali aja udah kelihatan perubahannya, apalagi kalau gw pakai tiap hari." gumam Dwi saat melihat bagian payud*** nya mulai agak membesar sedikit.
"Gw pastikan si senior songgong itu akan terpesona sama gw." lanjut Dwi membayangkan nanti senior cowok yang suka menggantai dirinya tepos akan terpesona sama dia.
Dwi pun langsung pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya untuk membersihkan tubuhnya, tak lupa dia juga memijat bagian dadanya agar cepat besar.
Setelah bersiap dia langsung pergi ke kampus tanpa sarapan terlebih dahulu karena memang dia tidak biasa melakukan sarapan.
"Pagi gaes." sapa Dwi pada teman temannya yang tengah bergosip.
"Ehh lo tahu gak kalau kak Kenzo habis potong rambut." ucap Rina salah satu sahabat Dwi.
"Seriusan Lo, mimpi apa dia sampai memotong rambut gondrongnya, pasti sekarang kelihatan makin jelek kan?" tebak Dwi.
"Lo salah, dia kelihatan lebih macho, apalagi dia juga mencukur kumisnya, beuuh ingin rasanya gw bawa dia pulang." lebay Rina.
"Masak sih, gw gak percaya ama Lo." tak percaya Dwi.
Pasalnya kakak seniornya yang songgong itu kelihatan seperti banci saat rambutnya gondrong dulu, tapi dia itu ada kumisnya.
Tapi di balik itu semua kulit dia sangat putih mulus, maka dari itu Dwi sering bilang kalau dia itu banci.
"Ehh ehh itu coba lihat." ucap Rina menyenggol bahu Dwi agar melihat ke arah belakang.
Dwi pun membalikkan tubuhnya untuk menatap ke arah belakang dan....
"Hai adik cantik, ehh salah maksudnya adik tepos." sapa Kenzo yang lewat di samping Dwi.
"Lo...."
"Apa, emang kenyataannya kan, lo itu tepos." potong Kenzo dan langsung pergi meninggalkan Dwi di ikuti temannya.
"Aaa Kenzo ganteng banget gila." ucap Ayu salah satu teman Rina juga.
"Apaan sih biasa aja." balas Dwi dan langsung pergi meninggalkan teman temannya menuju kelas.
"Lah, tuh anak kenapa coba?" heran Ayu.
"Lo kayak gak tahu aja, Kenzo kan musuh bebuyutan Dwi, jadi mana suka dia kalau ada yang muji Kenzo." balas Rina.
"Udah yuk, kita susul dia ke kelas." ajak Rina.
"Yuk." mereka berdua pun pergi ke kelas menyusul Dwi yang sudah pergi duluan.
...** ...
Sementara itu di tempat Anang, saat ini dia tengah mendapatkan klien sepasang suami istri yang ingin mencarikan rumah untuk anaknya.
"Kami mau rumahnya itu yang dekat dengan kampus XXX karena anak kami kuliah di sana." ucap klien Anang.
"Kalau yang dekat dengan kampus XXX ada beberapa rumah di sana Bu, ini ibu dan bapak bisa melihatnya." balas Anang menyodorkan beberapa berkas yang menampilkan desain dan gambar rumah yang berada di dekat kampus XXX.
"Semuanya itu lokasinya sekitar 300an meter dari kampus itu." lanjut Anang.
Kedua orang itu pun melihat dengan sesakma dan memilih mana yang cocok dengan selera mereka.
"Ini semua kamarnya berapa ya mas?" tanya sang suami.
"Kalau untuk kamar ada bermacam macam pak, ada yang satu kamar, dua kamar sama tiga kamar. Yang untuk empat kamar kami masih belum ada." jelas Anang.
"Ini yang tiga kamar dua lantai ya mas?" tanya sang suami lagi.
"Benar pak, yang kamar utama berada di lantai dua." balas Anang.
"Gimana ma, mama suka yang mana?" tanya sang suami pada istrinya.
"Mama sih terserah papa aja, tapi kalau di tanya suka yang mana mama lebih suka yang ada tiga kamar, soalnya kan siapa tahu nanti ada teman teman Kenzo yang menginap di sana kan." balas sang istri.
Ya, kedua suami istri itu adalah kedua orang tua Kenzo, mereka mencarikan rumah untuk Kenzo sebagai hadiah ulang tahun Kenzo yang akan berlangsung dua hari lagi.
"Ya udah mas kami ambil yang tiga kamar dua lantai ini saja, nanti uangnya bakal kami transfer." ucap papa Kenzo jadi membeli salah satu rumah yang di jual di perusahaan itu.
"Baik pak, mari saya langsung antar ke lokasi biar bapak dan ibu bisa melihatnya secara langsung." ajak Anang.
"Baik mas, mari." balas kedua orang tua Kenzo.
Mereka bertiga pun langsung pergi setelah Anang membereskan semua berkas berkas yang ada di meja tadi.
...**...
Sementara itu dia tempat Dea, dia tengah deg degan antara harus mengambil tespek yang ada di dalam gelas itu atau tidak, dia takut nanti kalau hasilnya akan negatif dan tak sesuai dengan apa yang dia dan Anang harapkan.
"Bismillahirrahmanirrahim." ucap Dea dan memberanikan diri untuk menggambil tespek yang sudah Anang belikan semalam.
...***...
Hayoo gimana hasilnya....