From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#21



Dea dan Anang sudah dalam perjalanan menuju rumah owner produk yang akan Dea jual. Mereka tadi berangkat setelah magrib dan sekarang mereka sudah hampir sampai di rumah owner itu.


"Yang ini masih jauh gak?" tanya Anang pada Dea yang melihat google map.


"Dikit lagi mas, di depan ada gang masuk itu belok kiri." jawab Dea yang tengah mengamati google map di handphonenya.


Anang pun mengikuti petunjuk Dea, sampai di gang yang Dea maksud Anang membelokkan motornya ke arah kiri sesuai petunjuk Dea.


"Bentar mas kita berhenti dulu biar aku telfon orangnya." ucap Dea menghentikan Anang.


Anang pun menepikan motornya sesuai perintah Dea. Dan Dea pun langsung menghubungi owner yang rumahnya berada di daerah situ.


'Halo mbak ini aku udah ada di gang masuk rumah mbaknya.' ucap Dea.


'Oh iya mbak saya akan keluar rumah dulu.' balas orang itu.


'Mbaknya ada di sebelah mana ya?' tanya orang itu.


'Saya ada di depan rumah yang ada pagar hitamnya.' jawab Dea menyebutnya lokasimu saat ini.


'Oh itu mbaknya terus saja, nanti ada pohon jambu air nah rumah aku di situ. Ini aku sudah nunggu di depan rumah kok mbak.' balas orang itu.


'Oke mbak aku meluncur sekarang.' balas Dea dan mematikan sambungan telepon.


"Gimana yang?" tanya Anang.


"Itu di depan yang ada pohon jambu air nya." jawab Dea.


Anang pun melajukan motornya kembali dan berhenti tepat di samping pohon jambu air yang tengah berbuah lebat.


"Mbak." teriak seseorang sambil melambaikan tangannya pada Dea.


"Oh itu orangnya mas." ucap Dea pada Anang.


Anang pun menjalankan motornya lagi masuk ke pekarangan rumah orang itu dan berhenti tepat di sana.


"Assalamualaikum mbak." salam Dea sambil melepaskan helm yang dia pakai.


"Waalaikum salam mbak, mari masuk." balas orang itu mempersilahkan Dea dan Anang masuk ke dalam rumahnya.


Dea dan Anang pun mengikuti orang itu masuk ke dalam rumahnya dan di persilahkan oleh orang itu untuk duduk di sofa.


"Gimana mbak jauh gak rumahnya?" tanya orang itu.


"Hehehe lumayan deket juga mbak." balas Dea.


"Oh iya kita belum saling kenal, namaku Zakia kalau nama mbaknya siapa?" tanya orang itu yang ternyata bernama Zakia.


"Aku Dea mbak, dan ini suamiku mas Anang." balas Dea memperkenalkan dirinya dan juga Anang.


"Salam kenal ya, semoga kita bisa sukses sama sama di produk CISA ini." ucap Zakia lagi.


"Aamiin mbak."balas Dea.


Anang sedari tadi diam saja, dia bingung harus berbicara apa. Tak lama ada seorang laki-laki yang keluar yang mengenakan sarung, baju koko dan juga peci. Seperti orang itu habis sholat.


"Ehh ada tamu ya." ucap laki laki itu.


"Iya mas, ini yang aku bilang mau gabung di CISA." balas Zakia.


"Kenalin ini suamiku namanya mas Joni." lanjut Zakia memperkenalkan suaminya.


"Maaf apakah kamu Joni anak panti kasih bunda?" tanya Anang.


"Iya aku dulu tinggal di sana." balas Joni.


"Wah ternyata kita ketemu lagi, aku udah cari Abang kemana mana setelah keluar dari panti ehh taunya kalah tinggal di sini." heboh Anang dan hal itu membuat kedua wanita itu menatap Anang.


Sedangkan Joni sibuk mengenali wajah Anang, dan berusaha mengingatkan lagi siapa orang yang ada di depannya.


"Maaf kalau boleh tahu mana kamu siapa ya?" tanya Joni karena tidak mengenali siapa Anang sama sekali.


"Astaga Abang lupa sama aku, aku Anang teman satu kamar Abang waktu di panti dulu." jawab Anang.


"Kamu Anang, gila kamu udah berubah banget." heboh Joni setelah menggingat siapa Anang.


Mereka berdua pun berpelukan layaknya Teletubbies. Lama tak bertemu membuat mereka melepas rindu yang selama ini selalu datang.


Dulu Anang sewaktu baru datang di panti dia tidak banyak teman, dan karena waktu itu Joni yang paling dewasa sendiri di sana sehingga dia mengajak kenalan Anang terlebih dahulu.


Anang yang waktu itu memang belum mempunyai teman pun meminta kepada pengurus panti untuk satu kamar dengan Joni dan pengurus panti pun mengiyakan permintaan Anang.


Jarak usia mereka sekitar tujuh tahun, jadi Anang merasa mempunyai kakak saat bersama dengan Joni.


Dulu selesai tamat SMA Joni pergi meninggalkan panti karena dia ingin mandiri. Tapi Joni tidak lepas tanggung jawab begitu saja, dia tetap sering mengirimkan uang ke sana sampai saat ini.


Dan Anang yang di tinggal oleh Joni pun merasa sedih karena dia kehilangan sosok orang yang sudah dia anggap kakak.


"Anang kangen banget sama Abang, Abang kenapa dulu gak pernah jengukin Anang lagi." tanpa Anang sadari ternyata dia malah menangis dalam pelukan Joni.


Dea yang melihat itupun tak percaya, pasalnya baru pertama kali ini dia melihat Anang menangis. Apakah selama ini Anang berusaha kuat di depannya agar dia tidak khawatir. pikir Dea.


"Maaf Abang waktu itu sibuk belajar karena Abang mengejar beasiswa di kampus. Dan setelah lulus Abang juga sibuk kerja jadi Abang tidak punya waktu buat jengukin kalian. Tapi waktu Abang punya waktu datang ke sana kamu sudah tidak ada di sana." balas Joni.


"Aku pergi setelah lulus SMA sama seperti Abang, aku juga sibuk kuliah biar bisa seperti Abang." balas Anang.


"Maafin Abang ya, udah sekarang jangan nangis malu tuh sama Istri kamu." ucap Joni membuat Anang tersadar kalau mereka saat ini tidak hanya berdua saja melainkan ada istrinya dan juga istri Joni.


"Iiih mas Anang nangisan." ledek Dea membuat Anang malu.


"Hus kamu ini, suami nangis bukannya di tenangin malah di ledek." tegur Zakia.


"Ya habisnya mbak lucu aja gitu liatnya. Aku tuh baru pertama kali lihat mas Anang nangis jadi ya agak aneh." balas Dea.


"Sayang udah diam jangan ledekin aku terus." ucap Anang yang sudah malu.


"Udah udah kalian ini, ayo duduk lagi kita bincang bincang biar lebih dekat lagi." ajak Joni bijak.


Anang pun duduk di samping Dea, dalam hati dia tidak menyangka bisa ketemu Abang yang selama ini sudah dia cari kemana mana tapi tidak ketemu.


Niat hati ingin mengantarkan istrinya memulai usaha, ehh ternyata dia malah ketemu sama Abangnya di panti dulu.


"Kamu sekarang kerja di mana Nang?" tanya Joni.


"Aku kerja di pabrik sepatu bang, rencana sih mau buka usaha sendiri tapi masih cari cari modal." jawab Anang.


"Bagus itu, kami harus memulai buka usaha sendiri agar tidak bergantung pada perusahaan orang terus." setuju Joni.


"Kalau Abang gimana, Anang liat sepertinya Abang sudah sukses sekarang?" tanya Anang.


...***...