
"Maaf Bu, kalau untuk tidak bayar keseluruhan belum bisa Bu, karena uang saya juga masih muter. Tapi kalau ibu mau ibu bisa bayar separuh dulu." balas Dea.
"Begitu ya mbak, ya udah mbak saya ambil tapi nanti yang setengahnya tiga hari lagi ya mbak." balas ibu Tutik.
"Siap Bu, ini ibu langsung ambil tiga produk ya Bu, jadi ibu saya kasih diskon dua puluh lima ribu sama yang pembelian satu paket kemaren ada bonus satu sanset ini Bu." ucap Dea sambil mengambil satu santet sebuah serbuk minuman.
"Ini buat apa mbak?" tanya ibu Tutik.
"Ini juga sama seperti produk yang ini, untuk bagian mis V ibu biar makin seret dan bisa melancarkan mentruasi." jelas Dea.
"Ooh gitu ya mbak, ya udah mbak biar sekalian buat percobaan, siapa tahu cocok nanti tak beli lagi."
"Siap Bu." balas Dea.
Dea langsung mengtotal semua belanjaan ibu Tutik dan menggambilkannya juga.
...**...
Sementara itu, di ruang tamu Anang dan pak Suswanto lagi bercakap cakap mengenai pembicaraan istri mereka tadi.
"Wanita memang seperti itu mas kalau lagi ada kemauannya, apalagi istri saya kalau saya gak minta jatah pasti langsung nuduh yang enggak enggak, saya di kira selingkuh lah, apa lah." ucap pak Suswanto.
"Hahaha, benar pak, istri saya malah akhir akhir ini agak aneh, suka nangis nangis gak jelas, sama suka minta ini itu." balas Anang.
"Pasti istri mas Anang lagi hamil ya, soalnya dulu waktu istri saya hamil gitu suka minta anah aneh, terus kalau permintaannya gak di turuti suka nangis." balas pak Suswanto.
"Seperti itu ya pak, tapi kata istri saya dia tidak sedang hamil." balas Anang.
"Mas suruh cek aja, soalnya biasanya ibu hamil itu tidak terlihat tanda tandanya, bahkan saya dulu tahu istri saya lagi hamil itu semenjak usia kandungan istri saya yang sudah hampir 4 bulan."
"Saya juga pengennya bawa dia pergi ke dokter, tapi saya takut bicaranya sama dia pak."
"Jangan di bawa ke dokter dulu mas, mending istrinya suruh cek pakai taspek aja dulu, nanti kalau sudah terlihat positif baru mas Anang ajak pergi ke dokter." saran pak Suswanto.
"Begitu ya pak, ya sudah nanti akan saya coba bujuk dia biar mau tes." balas Anang.
"Pa, ini notanya, kamu bayar gih." ucap ibu Tutik yang baru saja datang bersama Dea.
Pak Suswanto menerima nota dari istrinya dan dia pun segera membayarnya setelah melihat berapa jumlah yang tertera di sana.
"Ini mbak, terimakasih ya, semoga kami cocok menggunakan produk dari yang mbak Dea jual." ucap pak Suswanto sambil memberikan beberapa lembar uang berwarna pink kepada Dea.
"Aamiin pak, semoga kita juga jadi langganan." balas Dea.
Setelah itu pak Suswanto dan juga ibu Tutik pun pamit pergi dari rumah Dea, dan setelah kepergian mereka Dea dan Anang pergi ke kamar mereka.
"Alhamdulillah ya mas ada yang beli lagi." ucap syukur Dea.
"Iya sayang Alhamdulillah, kalau melihat seperti ini hasil jualan kamu kok aku jadi tertarik buat buka toko jualan saja ya." ucap Anang yang berubah pikiran.
"Nah kan, aku kan dari awal juga sudah bilang sama mas Anang." balas Dea.
"Tapi sepertinya aku tidak jualan produk itu, kamu saja yang jualan produk CISA kalau aku mau jualan barang barang yang lainnya saja."
"Barang apa mas?" tanya Dea.
"Barang apa saja, nanti aku buka toko grosir dan menjual barang dengan untung yang sedikit tapi banyak pembelinya. Nanti juga aku mau cari reseller biar makin maju jualannya." jelas Anang.
"Boleh juga ide kamu mas, ya sudah akut dukung apapun yang mau kamu kerjakan asal itu halal." setuju Dea.
"Ya sudah, berarti nanti yang harus aku lakukan adalah mencari owner yang menyediakan barang barang yang bisa grosir. Beli banyak makin murah." balas Anang.
"Siap sayang, pokoknya kita harus maju bersama, kita lalui ini semua bersama sama." balas Anang.
"Oh iya sayang, aku tadi bicara sama pak Suswanto dan dia menyarankan aku untuk menyuruh kamu melakukan tes kehamilan dengan tespek." lanjut Anang menggingat pembicaraannya dengan pak Suswanto tadi.
"Iya mas, aku juga tadi kepikiran seperti itu setelah kamu bilang kalau sikap aku itu aneh, terus aku juga baru ingat kalau aku sudah telat beberapa Minggu gak haid." balas Dea.
"Kalau gitu aku beliin kamu tespek dulu ya, biar nanti kamu bisa langsung mengetes air urine kamu."
"Iya mas, nanti kamu belinya jangan cuma satu ya, paling tidak kamu belinya tiga."
"Oke sayang siap, kalau gitu mas pergi dulu ya."
Cup.
"Daaa... sayang mas pergi dulu." pamit Anang setelah memberikan kecupan di kening Dea.
"Hati hati mas." balas Dea.
Anang pun pergi mencari tespek untuk Dea, meskipun sudah malam hari tapi Anang tetap pergi karena dia sangat antusias kalau Dea beneran hamil.
Sedangkan Dea langsung pergi cuci tangan dan bergidik gigi dan di lanjut tidur karena sekarang sudah jam sembilan malam.
...**...
Tok tok tok.
"Dwi buka kamar mu nak." ucap ibu Tutik memanggil anaknya yang bernama Dwi.
"Iya ma Bentar." balas Dwi dari dalam kamarnya.
Ceklek.
"Ada apa ma?" tanya Dwi saat melihat mamanya ada di depan pintu kamarnya.
"Sini deh mama ada sesuatu buat kamu." ucap ibu Tutik menyuruh Dwi untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa sih ma, kok pakai suruh dwi masuk segala?" heran Dwi.
"Sini deh, kamu setiap malam sebelum tidur pakai ini ya, biar payud*** kamu gede gak tepos seperti ini." ucap ibu Tutik menyodorkan barang yang dia beli di Dea tadi.
"Ini apa ma?" tanya Dwi.
"Ini serum buat memperbesar payud***, mama lihat punya kamu kecil jadi mama beliin ini buat kamu." jawab ibu Tutik.
"Ooh, ok nanti akan Dwi pakai." balas Dwi.
"Ya sudah kalau gitu mama keluar dulu ya, soalnya papa kamu sudah menunggu mama di kamar." pamit ibu Tutik pada Dwi anaknya.
"Iya ma." balas Dwi.
Setelah kepergian ibu Tutik Dwi pun langsung kembali mengunci pintu kamarnya, dia melihat dan membaca petunjuk yang ada di produk itu.
"Boleh juga nih mama beliin aku ini, padahal udah kepengen banget beli dari dulu ehh taunya malah di beliin mama." gumam Dwi.
"Mana bisa buat pa**at juga lagi." lanjut Dwi setelah membaca kegunaan produk itu.
...***...