
Anang beneran membawa Dea mengelilingi jalanan untuk mencari penjual jambu air, saat ini sudah jam 7 malam tapi mereka belum juga menemukan penjual jambu air.
"Sayang kita minta di rumah mbak Zakia aja gimana, dari pada gak dapat kayak gini?" ucap Anang dari atas motor.
"Gak mau mas, aku malu." tolak Dea.
"Terus kalau sudah seperti ini kita mau cari kemana lagi, kita sudah keliling hampir satu jam setengah loh tapi belum juga ketemu penjual jambu airnya." balas Anang setengah kesal juga.
"Ya aku gak tahu." balas Dea.
"Hufft...." Anang membuang nafasnya kasar, dia memutar otaknya agar bisa mendapatkan apa yang istrinya inginkan.
"Kita cari di supermarket aja, biasanya di sana ada." usul Anang.
"Jangan mas, du supermarket itu pasti harganya mahal." larang Dea.
"Ya gak papa yang penting kan dapat jambu air." balas Anang.
"Udah kita jalan aja mas, siapa tahu di depan ada." suruh Dea.
"Dari tadi di depan di depan mulu tapi gak ketemu ketemu, tangan aku capek yang pegang setir terus." balas Anang yang sudah capek tangannya.
"Kamu kok marah sih?" balas Dea sensi.
"Aku gak marah sayang, tapi tangan aku beneran pegel." balas Anang.
Anang tak lagi mendengar ada suara Dea, tapi dia dapat merasakan kalau punggungnya terasa basah. Anang pun menepikan motornya dan menengok ke belakang di mana Dea yang sudah menangis.
"Astaga sayang kamu kenapa nangis sih." Anang turun dari motor dan langsung memeluk tubuh Dea.
"Hiks, kamu marah sama aku hiks hiks." balas Dea sambil menangis.
"Aku gak marah sayang, aku cuma pegel aja soalnya kita dari tadi muter-muter tapi gak ketemu juga penjual jambu airnya." balas Anang memberikan pengertian buat Dea.
"Ya tapi kamu marah sama aku hiks hiks."
"Hufft... aku minta maaf ya kalau udah marah sama kamu, udah ya sekarang jangan nangis, katanya mau cari jambu air, kalau kamu nangis begini bagaimana bisa dapat jambu airnya." ucap Anang agar Dea tidak menangis lagi.
"Iya aku gak nangis lagi kok, tapi kita lanjut cari jambu airnya ya." pinta Dea.
"Iya sayang." balas Anang.
"Kamu kenapa sih kok sampai pingin banget sama jambu air hmm?" tanya Anang.
"Gak tahu, cuma kepingin aja." balas Dea.
"Ya udah ayo kita lanjut cari biar cepat ketemu."
Cup.
Anang memberikan kecupan di kening Dea sebelum naik ke motor lagi, dan setelah itu dia melajukan motornya lagi.
Biarlah tangannya pegal yang penting istrinya tidak menangis lagi, Anang akan melakukan apapun asal Dea bahagia, karena dia juga sudah berjanji kepada keluarga Dea kalau dia akan membahagiakan Dea, dan Anang harus menempati janji itu.
Mereka terus menyelusuri jalanan ibu kota yang sangat indah pada malam hari karena ada banyak lampu lampu yang sudah menyala di pinggir pinggir jalan.
"Mas mas, di penjual buah itu kayaknya ada jambu air deh." ucap Dea menabok pundak Anang agar Anang melihat ke arah yang dia tuju.
"Ya udah ayo kita ke sana." balas Anang dan melajukan motornya menuju penjual buah yang berada di sebrang jalan.
Anang dan Dea pun langsung turun dari motor dan menghampiri penjual buah itu.
"Permisi pak, jambu airnya ini berapa ya pak?" tanya Anang kepada penjual buah itu.
"Jambu airnya lima belas ribu mas satu kantong." jawab penjual itu.
"Kamu mau berapa yang?" tanya Anang menoleh pada Dea yang berada di sampingnya.
"Ya udah pak saya ambil dua kantong ya, tolong pilihkan yang terbaik soalnya ini istri saya lagi ngidam." ucap Anang berbohong.
"Oh siap mas, semoga nanti anak sama ibunya sehat terus ya." balas penjual itu dan langsung memilihkan jambu airnya buat Anang.
"Mas, kamu apaan sih." tegur Dea tapi tak di hiraukan oleh Anang.
"Semuanya tiga puluh ribu ya pak ini uangnya." ucap Anang menyodorkan uang pas kepada penjual itu.
"Iya mas ini buahnya, terimakasih ya mas." balas penjual itu.
"Iya pak sama sama." balas Anang dan langsung pergi menuju motornya bersama Dea.
"Gimana hmm, masih mau cari apa lagi?" tanya Anang sebelum menaiki motornya.
"Nanti berhenti di warung mbok Inah mau beli kacang sama asam Jawa." balas Dea dan segera naik ke atas motor setelah Anang naik duluan.
"Siap ibu negara." balas Anang dan mereka pun langsung menuju ke arah pulang dan tak lupa Anang menghentikan motornya di depan warung mbok Inah yang masih buka.
Sampai di rumah Dea langsung melakukan aksinya dengan membuat sambal rujak buah yang terbuat dari kacang, gula, asam jawa dan juga cabe tak lupa Dea menambahkan trasi sedikit agar rasanya terasa nikmat.
"Mas boleh minta tolong gak?" tanya Dea.
"Minta tolong apa yang?" tanya Anang yang sedari tadi hanya memperhatikan Dea yang tengah mengulek bumbu.
"Tolong cuci jambunya dong." suruh Dea.
"Semuanya yang?" tanya Anang.
"Iya mas biar bersih, nanti kalau sisa tinggal masukin ke dalam kulkas aja." balas Dea.
Anang pun langsung melakukan perintah Dea, dia mencuci jambu air itu dengan telaten agar bersih dan tidak ada kuman yang tertinggal.
"Oh iya mas, tadi kamu kok bilang kalau aku hamil sih?" tanya Dea pada Anang.
"Ya itu cuma bohongan aja biar penjualnya kasih buah yang bagus, soalnya mas pernah beli tapi di tipu sama penjual. Mas beli jambu air tapi dalamnya banyak yang busuk." jelas Anang.
"Ooh seperti itu, aku kira kamu jujur." balas Dea.
"Emang kamu beneran hamil?" tanya Anang pada Dea.
"Ya enggak lah, mana ada." kilah Dea.
"Ya siapa tahukan, orang tingkah kamu tadi udah kayak orang lagi ngidam." balas Anang.
"Ngidam apanya, orang aku cuma kepingin gara gara liat jambu air di depan rumah mbak Zakia aja kok."
"Nih yang udah selesai." Anang membawa jambu air yang sudah dia cuci kepada Dea.
"Taruh situ aja mas, habis ini biar aku potong." balas Dea.
Setelah selesai membuat bumbu rujak, Dea pun langsung memotong jambu air itu satu persatu dan setelah selesai dia membawanya ke ruang tamu untuk menikmatinya bersama Anang.
"Gimana mas enak gak?" tanya Dea setelah Anang mencobanya.
"Enak yang, tapi ini terlalu pedes." balas Anang yang memang tidak suka pedes.
"Pedes apanya sih, orang cabenya cuma tiga tadi. Malah kalau bagi aku ini kurang pedes loh." balas Dea.
"Udah ahh aku nyerah, enakan makan cuma jambunya aja." nyerah Anang sudah tidak kuat dengan pedasnya bumbu rujak yang Dea buat.
"Huu lemah." ledek Dea tapi tak Anang hiraukan.
...***...