
"Ooh pantes." balas Dea.
"Emang kenapa sih?" tanya Anang.
"Ya gak papa cuma tanya aja." balas Dea.
"Ooh."
"Ya udah yuk kita lanjutin nanti keburu siang panas." ajak Anang karena membersihkan halaman rumah mereka belum selesai.
"Yuk."
Mereka berdua pun melanjutkan kegiatan bersih bersih halaman hingga sekarang halaman rumah mereka terlihat sangat bersih dan bunga bunganya tertata rapi.
Setelah selesai mereka masuk ke dalam rumah dan pergi membersihkan diri mereka yang sudah berkeringat.
"Huh, capeknya...." Diandra merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah selesai berganti baju.
"Yang jaket aku yang kemaren aku pakai dari Malang mana?" tanya Anang.
"Aku cuci belum kering, emang kenapa mas?" Diandra bangkit menatap suaminya.
"Gak papa sih aku kira belum kamu cuci mau aku pakai lagi." balas Anang.
"Ya udah kamu pakai yang lain aja, emang kamu mau kemana sih?" tanya Diandra.
"Ayo kamu juga siap siap, aku mau ajak kamu jalan jalan keliling Semarang." ajak Anang.
"Wah beneran mas?"
"Iya dong mumpung aku lagi libur, udah ayo cepat nanti sekalian kita cari makan siang di luar."
Dea pun langsung berdiri dan mencari baju yang cocok untuk dia kenakan healing bersama suaminya.
Dea mencocokkan pakaiannya dengan pakaian yang di pakai Anang. Yaitu jelas jens hitam hodie putih dan juga sneaker putih dan tak lupa Dea juga menggambil kaca mata hitamnya.
"Dah yuk mas kita pergi." ajak Dea setelah dia bersiap.
"Dih pakaiannya ngikutin aku." ucap Anang setelah melihat penampilan Dea.
"Ya biarin biar kelihatan couple." balas Dea.
"Udah yuk katanya tadi suruh cepat cepat." lanjut Dea menyeret tangan Anang.
Anang yang sudah menyampaikan motor KLX miliknya di depan rumah pun tak perlu repot-repot lagi untuk mengeluarkannya dari rumah.
Dea duduk di boncengan Anang dan memeluk perut Anang. Dan Anang pun langsung melajukan motornya menuju jalan raya.
"Kamu mau ajak aku kemana sih mas?" tanya Dea penasaran.
"Gak tahu, yang penting jalan aja nanti kalau ada tempat yang kamu mau kamu bilang sama aku." jawab Anang apa adanya, memang dia tidak tahu harus membawa Dea ke mana karena memang dia jugalah jarang jalan jalan keluar.
"Aku kira kamu udah ada tempat tujuan."
"Belum ada sayang, aku aja gak banyak tahu tempat tempat yang ada di Semarang. Orang akunya juga jarang jalan jalan."
"Tahu gitu aku tadi cari dulu di internet biar kita langsung ke tempat tujuan aja."
"Ya kita cari makan siang dulu, nanti sambil makan siang kamu cari tempat di internet yang mau kamu kunjungi." usul Anang.
"Ya udah kalau gitu." balas Dea.
"Kamu mau makan apa?" tanya Anang.
"Aku pengen makan nasi kucing deh, penasaran aku tuh. Di Malang ada tapi aku belum pernah ke sana." jawab Dea.
Karena dulu waktu jaman sekolah teman satu kelas Dea yang berasal dari provinsi Jawa tengah pernah cerita tentang nasi kucing. Mendengar namanya saja sudah membuat Dea penasaran ingin mencobanya, jadi ya mumpung sudah ada di sini Dea ingin mencobanya.
"Yakin kamu mau makan nasi kucing?" tanya Anang.
"Iya yakin." balas Dea yakin seyakin-yakinnya.
Anang pun melajukan motornya menuju tempat angkringan nasi kucing yang menurut dia rasanya paling nikmat di antara yang lain.
"Udah sampai?" tanya Dea saat Anang menghentikan motornya di depan sebuah warung lesehan.
"Nanti sajalah ya makan nasi kucingnya, sekarang kita makan mie ayam dulu." balas Anang.
"Loh kenapa, aku kan pengennya nasi kucing bukan mie ayam?" tanya Dea.
"Ini masih siang sayang belum ada penjual nasi kucing yang buka." jelas Anang.
"Kenapa gak bilang dari tadi." dengus Dea.
"Sekarang kamu mau apa enggak makam mie ayam?" lanjut Anang karena Dea tak kunjung turun juga dari motor Anang.
"Ya maulah, orang udah lapar juga." jawab Dea dan langsung turun dari motor Anang.
Mereka berdua pun berjalan masuk dan mengambil tempat yang kosong.
"Kamu mau mie ayam aja atau tambah toping?" tanya Anang.
"Mie ayam tambah bakso dua ya." pinta Dea.
"Siap sayang." balas Anang.
Anang pun langsung pergi ke penjualnya dan menyebutkan pesanan mereka.
"Minumnya apa mas?" tanya si penjual mie ayam.
"Yang kamu mau minum apa?" tanya Anang agak keras memanggil Dea.
"Es jeruk." jawab Dea.
"Es jeruk sama kopi ya mas." ucap Anang kepada penjual.
"Baik mas, silahkan di tunggu sebentar." balas si penjual.
Anang pun kembali menghampiri Dea yang tengah sibuk dengan handphone miliknya.
"Gimana udah dapat?" tanya Anang duduk di samping Dea.
"Belum, keknya kuotaku mau abis deh makanya sinyalnya susah. Minta hospot dong." pinta Dea sambil menyengirkan giginya.
"Dasar, nih pakai handphone aku aja biar lebih mudah." Anang menyodorkan handphonenya kepada Dea.
Dengan senang hati Dea menerima handphone Anang.
"Pin nya apa?" tanya Dea karena handphone Anang ternyata di password.
"Tanggal pernikahan kita." jawab Anang.
"Emang kita nikah tanggal berapa?" tanya Dea lagi yang pelupa.
"Astaga sayang, kamu beneran lupa apa gimana sih." gemas Anang.
"Hehehe lupa." cengir Dea.
"170822." jawab Anang.
"Lah itukan hari kemerdekaan?" Heran Dea.
"Lah kan emang kita nikahnya hari itu sayangku, kamu lupa kita akadnya nunggu upacara selesai."
Ingin rasanya Anang menguntal Dea hidup hidup karena saking kesalnya. Tapi dia cinta sama Dea, nanti kalau Dea dia untal terus dia sama siapa dong.
"Emang iya ya?"
"Serah kamu deh yang, sak karepmu." kesal Anang.
"Permisi mas mbak ini pesanannya." ucap penjual mie ayam membawakan pesanan mereka.
"Iya mas, terimakasih." balas Anang dan Dea.
Anang dan Dea pun langsung menyantap makanan mereka dengan lahap karena memang sudah kelaparan. Tadi pagi hanya sarapan nasional goreng saja itu tidak cukup. Karena nasi goreng itu akan membuat perut kita cepat merasa lapar. Apalagi tadi mereka habis bersih bersih rumah yang mengguras tenaga mereka.
"Mas." pangil Dea.
"Hmm kenapa?" jawab Anang.
"Nambah bakso boleh ya." pinta Dea.
"Sini mau nambah berapa?" balas Anang akan mengambilkan Dea bakso.
"Gak usah aku aja yang minta sendiri, kamu lanjut makan aja." tolak Dea, karena dia merasa tidak enak sudah merepotkan Anang yang tengah makan.
"Udah sini, kamu duduk aja yang manis. Kalau kelamaan kamu bisa makan punya aku." ucap Anang dan langsung berdiri untuk menambah bakso untuk Dea sambil membawa mangkuk milik Dea.
"Aduh suami gw perhatian banget sih, jadi makin cinta deh." ucap Dea yang merasa Anang sangat perhatian kepadanya.
Emang iya sih, bukan Dea aja yang merasa seperti itu. Saya sebagai author juga iri pengen punya suami seperti Anang juga.
...*** ...