
Anang pulang dan langsung masuk ke dalam rumah, keadaan rumah sepi lampu juga belum di nyalakan, Anang langsung berjalan ke kamar untuk mencari keberadaan Dea.
Anang membuka pintu kamar dan menemukan Dea yang tengah tidur, Anang menghampiri Dea dan duduk di samping ranjang.
"Sayang bangun yuk, mas udah pulang nih." ucap Anang membangunkan Dea tapi tak ada jawaban dari Dea.
Tiba tiba muncul perasaan tidak enak di benak Anang, Anang langsung mencoba untuk membangunkan Dea dengan mengerakkan tubuh Dea supaya dia bangun.
"Sayang, sayang, ayo bangun mas udah pulang." ucap Anang tapi tak ada sahutan dari Dea.
"Dea, hei Dea ayo bangun, kamu jangan becanda ya ini gak lucu." ucap Anang maksa Dea untuk membuka matanya.
Anang mengecek denyut nadi Dea dan ternyata masih ada, Anang bersyukur dan dia pun langsung membopong tubuh Dea keluar dari kamarnya.
Anang duduk di sofa ruang tamu sambil memangku Dea, dia terus berusaha membangunkan Dea sambil tangannya yang satu mengotak-atik handphonenya untuk memesan taksi online buat pergi ke rumah sakit.
Setelah mendapatkan taksi Anang memberikan minyak kayu putih di hidung Dea supaya Dea cepat sadar dan akhirnya Dea pun merespon Anang.
"Sayang, ini mas ayo buka mata kamu." ucap Anang saat melihat ada pergerakan di mata Dea.
"Mas...." ucap Dea lemah.
"Kamu yang sabar ya sebentar lagi kita pergi ke rumah sakit." ucap Anang.
"Perutku sakit mas, kepalaku juga pusing." ucap Dea lemah, Dea menyebutkan keluhannya.
"Iya sabar ya sayang, sebentar lagi taksinya akan datang." balas Anang berusaha tetap tegar padahal aslinya Anang ingin menangis karena melihat keadaan Dea yang seperti ini.
Tin tin.
Suara klakson mobil terdengar di depan rumah Anang.
Anang pun langsung menggendong tubuh Dea keluar dari rumah dan mendudukkan Dea di dalam taksi.
"Sebentar pak, saya mau ambil tas dulu di dalam." ucap Anang pada supir taksi itu.
"Iya mas." balas si sopir taksi itu.
Anang pun berlari memasuki rumahnya dan mencari tasnya yang tadi dia buang karena panik, dan tak lupa Anang juga mengambil uang yang semalam dia simpan didalam lemari.
Setelah itu Anang memasukkan motornya ke dalam rumah dan mengunci rumahnya baru setelah itu Anang masuk ke dalam mobil taksi.
"Ayo jalan pak." ucap Anang menyuruh agar supir taksi itu menjalankan mobilnya.
Mobil pun mulai berjalan menuju rumah sakit, dan Anang langsung membawa Dea masuk ke dalam pelukannya sambil sesekali dia mengecup kening Dea dengan penuh kasih sayang.
-
Sementara itu di tempat lain, ibu Tutik tengah happy happy menonton serial drama yang ada di ikan kapal terbang.
Dia tertawa terbahak-bahak saat melihat si protagonis di aniaya oleh pemain antagonis.
"Hahaha... mampus Lo." tawa ibu Tutik.
"Jam berapa sih ini?" tanya ibu Tutik melihat ke arah jam yang ada di dinding.
"Wah sepertinya racun itu sudah bereaksi, pasti sekarang keadaan Dea lagi sekarat, Hahaha...." tawa puas ibu Tutik.
Ya, tadi di makanan yang ibu Tutik bawa itu mengandung racun yang dapat membuat kandungan melemah, dia memberikan itu kepada Dea karena dia tidak menyukai Dea.
Ibu Tutik pun melanjutkan acara menonton film di televisi yang ada di hadapannya sambil nyemil snack supaya suasananya menyatu.
-
Dea langsung di bawa ke ruangan untuk di periksa keadaannya.
"Maaf pak anda tidak boleh masuk." ucap suster menahan Anang yang ingin ikutan masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
"Dia istri saya sus." balas Anang ini tetap menerobos masuk.
"Kami tahu pak, tapi ini sudah ketentuan rumah sakit." balas suster itu dan langsung menutup ruangan melarang Anang untuk masuk ke dalam.
"Ya Allah selamatkan anak dan istri hamba ya Allah." doa Anang penuh harap.
Anang menunggu dengan sabar di depan ruangan pemeriksaan, setelah menunggu hampir setengah jam dokter pun keluar dari sana dan di ikuti beberapa suster yang mendorong bangkar Dea.
"Dok bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Anang pada dokter itu.
"Sepertinya istri anda habis mengkonsumsi racun yang dapat membuat kandungan lemah, karena racun yang di makan istri anda terlalu banyak maaf kami tidak bisa menyelamatkan calon anak anda, dan tolong segera di urus administrasinya agar kami segera mengambil tindakan." jelas Dokter itu dan langsung pergi meninggalkan Anang.
Rasanya lutut Anang sudah tidak bisa lagi menopang tubuhnya, dia sangat lemas mendengar anak yang selama ini dia dan Dea tunggu tunggu ternyata sudah pergi duluan meninggalkan mereka, bahkan dia juga belum melihat betapa kejamnya dunia.
Ehh salah, maksudnya betapa indahnya dunia .
Anang melihat Dea yang tidak sadarkan diri di bawa pergi menuju ruangan operasi, Anang berusaha untuk tetap kuat, dia berjalan menuju ruangan administrasi untuk mengurus semua biaya administrasi agar Dea segera di tindak.
Setelah Anang membayar semua biaya administrasi, dokter pun langsung melakukan operasi pada Dea.
Dokter mengambil janin yang bahkan belum memiliki roh, dokter membersihkan rahim Dea agar tidak terjadi sesuatu nantinya kalau Dea hamil lagi.
Sedangkan Anang dengan setia menunggu Dea di depan pintu ruangan operasi, dia juga menghubungi orang tua Dea yang ada di Malang, dan mereka bilang besok pagi mereka akan berangkat ke Semarang karena sekarang sudah malam hari dan tak memungkinkan mereka untuk pergi perjalanan jauh.
Yang bisa Anang lakukan sekarang hanya berdoa dan terus berdoa agar operasinya berjalan lancar dan Dea selamat bisa berkumpul lagi bersamanya.
Anang memutuskan untuk pergi ke mushola untuk melakukan sholat dan berdoa untuk kesembuhan Dea.
"Kenapa engkau mengambil dia di saat kami baru merasakan kebahagiaan yang datang, apakah kau tak mengizinkan aku untuk bahagia." doa Anang setelah sholat.
"Kalau memang ini yang terbaik buat kita, maka hamba ikhlas, tapi bagiamana nanti hamba harus menjelaskan kepada istri hamba ya Allah."
"Bantulah hamba dalam melewati segala cobaan yang telah engkau berikan kepada hamba, lancarkan lah segala urusan hamba ya Allah."
"Tempatkan anak hamba di sisimu ya Allah, dan lancarkan lah operasi istri hamba ya Allah."
Abang terus berdoa meminta pertolongan kepada yang memberi hidup.
Setelah lama berdoa Anang pergi dari musholla dan menghampiri ruangan operasi lagi.
Anang duduk di depan ruangan operasi, menunggu operasi yang tengah berlangsung hingga akhirnya operasi pun selesai.
Anang bernafas lega karena operasinya sudah selesai, tapi dia juga belum tenang kalau belum mendapatkan penjelasan dari dokter secara langsung.
Anang menunggu beberapa menit hingga akhirnya dokter pun keluar dari dalam ruangan operasi.
...***...