From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#33



"Sayang tolong ambilin handuk, aku lupa bawa tadi." teriak Anang dari dalam kamar mandi.


Dea yang tengah asik makan bakso pun langsung berlari mengambilkan handuk untuk suaminya dengan mulutnya yang sedang mengunyah bakso.


Tok tok tok.


Dea mengetuk pintu kamar mandi, dan Anang pun langsung membukanya.


"Makasih sayang." balas Anang dengan kepalanya saja yang menyembul keluar.


Dea hanya membalas ucapan Anang dengan anggukan kepala saja karena mulutnya susah kalau buat ngomong.


Anang menutup pintu kembali sedangkan Dea langsung berlari ke meja makan lagi untuk menghabiskan bakso yang tinggal sedikit tadi.


Setelah habis Dea tidak langsung mencuci mangkuk bekasnya, dia pergi ke kamar untuk menyiapkan pakaian buat Anang.


Ceklek.


"Loh kamu udah selesai makan baksonya?" tanya Anang yang melihat Dea sudah ada di kamar.


Tadi Anang tidak melihat ke arah dapur setelah dari kamar mandi di langsung pergi ke kamar.


"Udah dong, makasih ya baksonya mantul trus pedesnya juga kerasa banget, ini bibirku rasanya sampai panas." balas Dea dengan mulut yang masih kepedesan.


"Emang kamu kasih seberapa sambalnya tadi?" tanya Anang sambil memakai pakaian yang sudah Dea siapkan.


"Aku masukin semua sambalnya, kan kamu juga gak suka sambal jadi dari pada kebuang yang mending aku makan semua lah." jawab Dea.


"Hah, kamu gak becanda kan yang, itu tadi banyak banget loh sambalnya." keget Anang, pasalnya seingat Anang tadi penjualnya itu memasukkan hampir sepuluh sendok lebih sambal ke dalam wadah plastik, dan itu semua Dea yang habiskan.


Wow, istrinya ini sangatlah hebat.


"Nanti kalau perut kamu sakit gimana yang, seharusnya tadi kamu kasih separuh saja sambalnya, kan itu juga gak baik buat lambung kamu." ucap Anang menasehati.


"Gak mungkin, kan biasanya juga aku udah terbiasa makan pedes, jadi aman." balas Dea tenang.


"Ya udah terserah kamu saja, yuk temani aku makan bakso." ajak Anang setelah dia merapikan penampilannya di depan cermin.


"Yuk." balas Dea.


Mereka berdua pun pergi menuju meja makan, Anang melihat di sana memang sudah tidak terdapat sambal lagi, berarti istrinya benar benar sudah menghabiskan semuanya tadi.


"Mas." pangil Dea pada Anang yang tengah makan bakso.


"Hmm." balas Anang karena memang mulutnya penuh dengan bakso.


"Boleh minta gak?" tanya Dea sambil nyengir.


"Tadikan kamu udah, emang masih kurang?" balik tanya Anang dan langsung mendapatkan anggukan dari Dea.


"Ya udah sini aku suapin." balas Anang.


"Makasih mas." balas Dea senang.


Anang pun langsung menyuapkan bakso pada Dea dan langsung di terima oleh Dea. Dea makan dengan sangat lahap lagi, seperti belum makan.


Anang saja yang punya bakso makan sedikit saja sudah mulai kenyang, lah ini Dea malah yang tadi udah makan ehh sekarang malah makan lagi, mana lahap banget lagi dia.


"Kamu beneran lapar yang?" tanya Anang dan di balas anggukan oleh Dea.


"Ya udah ini kamu habiskan lagi aja, aku udah kenyang kok." lanjut Anang dan terus menyuapi Dea.


Dengan senang hati dia menerima suapan yang Anang berikan.


Selesai makan bakso mereka berdua duduk di sofa dengan memainkan handphone masing masing.


Isi pesan yang Dea kirimkan ke nomor ibu Tutik.


Oke mbak Dea, nanti malam akan saya ambil, mungkin sehabis magrib nunggu suami pulang kerja dulu.


Ibu Tutik membalas pesan dari Dea.


Dea pun membalasnya dengan stiker kartu yang ada tulisannya Ok.


"Yang." pangil Anang.


"Iya kenapa mas?" balas Dea.


"Aku sudah menentukan mau buka usaha apa." ucap Anang.


"Apa mas, mungkin Dea bisa bantu bantu nanti?" balas Dea antusias.


"Mas mau buat hijab sama pakaian pakaian yang lain sayang." jelas Anang.


"Terus itu nanti mas buat sendiri atau ambil punya orang?" tanya Dea.


"Untuk sementara mas mau launching yang hijab dulu karena itu yang lebih mudah pembuatannya, tapi kalau pakaian mungkin beberapa bulan kedepan, soalnya kan aku harus membuat desain pakaiannya dulu." jawab Anang.


"Ya udah mas aku setuju, nanti aku bantu mas Anang buat desain pakaiannya ya, soalnya aku dulu waktu sekolah suka gambar gambar pakaian gitu." balas Dea.


"Beneran yang kamu bisa gambar?"


"Iya mas, dulu juga aku waktu sekolah selalu dapat nilai paling bagus di mata pelajaran tata busana."


"Wah kebetulan banget dong, mas sebenarnya juga dulu bercita-cita mau jadi pemilik butik, jadi mungkin sebentar lagi akan kesampaian."


"Tapi mas, itu semua kan modalnya gak kecil mas." ucap Dea ragu.


"Iya itu yang menjadi masalah mas sekarang, mungkin mas akan berusaha bekerja yang lebih giat lagi supaya uangnya bisa cepat terkumpul. Kalau soal tempat mas udah dapat dari bang Joni."Balas Anang.


"Emang sekarang uang tabungan mas ada berapa?" tanya Dea.


"Mungkin gak sampai lima belas juta." jawab Anang jujur.


"Ya udah mas nanti tambahin uang Dea aja, emang sih gak banyak tapi lumayan kan bisa bantu tambahin." balas Dea.


"Enggak sayang, uang kamu itu tetap uang kamu, mas gak mau pakai uang kamu." tolak Anang.


"Kenapa sih mas, kita ini udah berumah tangga loh bukan lagi pacaran, kita itu seharusnya saling membantu satu sama lain."


"Kamu boleh membantu kamu, lalu kenapa kamu tidak mengizinkan aku buat bantu kamu?" lanjut Dea.


"Maaf sayang bukan maksud mas begitu, mas hanya tidak ingin merepotkan kamu." ucap Anang merasa bersalah.


"Mas, aku malah lebih senang kalau aku bisa bantu kamu, aku ini istri kamu, aku bukan orang lain buat kamu, jadi sudah sepantasnya aku bantu kamu dan aku juga tidak merasa di repotkan kok." ucap Dea sedih, bahkan sekarang air matanya sudah menetes.


"Sayang maaf kalau mas sudah salah sama kamu, kamu jangan nangis ya, ya nanti mas pakai uang kamu juga buat modal usaha mas." ucap Anang yang akhirnya menerima uang dari Dea nanti.


"Kita ini bukan orang lain lagi mas, jadi kita harus melewati semua sama sama, kamu juga kalau ada masalah jangan di pendam sendiri, bilang sama aku siapa tahu aku bisa bantu kamu." balas Dea sambil air matanya yang terus menetes.


Entah kenapa akhir akhir ini Dea suka menangis hanya karena hal hal yang kecil, seperti saat ini.


"Iya sayang, nanti mas kalau ada masalah bakal cerita sama kamu." balas Anang.


"Terus kapan kamu akan mulai membuka usaha kamu?" tanya Dea sambil menghapus air matanya.


"Mungkin satu bulan lagi saja, karena tidak enak juga kalau aku tiba tiba keluar setelah masih satu hari kerja di tempat bang Joni." jawab Anang.


...***...