From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#54



Setelah kepergian dokter itu mereka bertiga duduk di sofa yang tak jauh dari sana, mereka bertiga saling diam tak ada yang berbicara.


"Ehem." batuk pak Dadang bapak Dea.


"Makanya pak, ibu kan sudah bilang jangan kebanyakan merokok, jadi batuk kan." balas ibu Santi ibunya Dea.


"Apaan sih, ibu gak jelas." balas pak Dadang.


"Kenapa bisa seperti ini Nang?" tanya pak Dadang yang akhirnya membuka suara.


"Anang juga tidak tahu pak, waktu Anang pulang dari toko Anang sudah menemukan Dea dengan keadaan yang tak sadarkan diri di dalam kamar." jawab Anang jujur.


"Lalu kata dokter bagiamana?" tanya ibu Santi.


"Kalau kata dokter, katanya Dea mengonsumsi racun dengan jumlah terlalu banyak yang dapat membuat kandungan lemah." jawab Anang.


"Kamu tahu Dea makan apa?" tanya pak Dadang dan di jawab gelengan kepala oleh Anang.


"Baiknya nanti kalau Dea sudah sadar kita harus tanyakan ini semua pada Dea langsung, karena kita di sini tidak tahu apa apa." ucap pak Dadang.


"Benar pak, apakah kamu ada tetangga yang tidak suka sama kamu?" tanya ibu Santi.


"Tidak ada Bu, tetangga Anang semuanya pada baik baik." balas Anang.


"Sepertinya ada yang aneh, Dea juga tidak mungkin akan makan makanan yang sembarang."


"Benar Bu, bapak juga merasa ada yang aneh." setuju pak Dadang.


"Paginya sih sebelum Anang pergi ke toko Dea emang sudah muntah muntah dan Anang pagi itu memutuskan untuk tidak pergi ke toko, tapi Dea memaksa Anang untuk tetap pergi ke toko, jadinya ya Anang pergi keluar toko dan sebelum pergi Anang titip Dea pada ibu Tutik tetangga Anang." jelas Anang panjang lebar.


"Nah itu, sebaiknya sekarang kamu pulang dan cari sesuatu yang mencurigakan di rumah kamu, khususnya makanan. Nanti kalau kamu sudah mendapatkannya bawa makanan itu ke sini agar di cek di lab." suruh pak Dadang.


"Baik pak, kalau begitu Anang titip Dea sebentar ya Anang akan pulang dulu." pamit Anang.


"Iya kamu hati hati ya." balas pak Dadang dan bu Santi.


Anang pun mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di rumah, dan saat sampai di depan rumah dia mendapati ada banyak ibu ibu yang bergerombol di depan rumahnya.


"Permisi Bu, maaf numpang lewat." ucap Anang dari atas motornya karena ibu ibu itu menghalangi jalan Anang untuk masuk ke terasnya.


Seketika pasukan ibu ibu itupun minggir dan memberikan jalan buat Anang.


"Mas Anang mas Anang, mbak Dea kenapa kok di bawa ke rumah sakit?" tanya ibu Marni mewakili ibu ibu yang lain.


"Dea keguguran Bu, Anang minta doanya ya agar kami di berikan ketabahan untuk menerima ini semua." jawab Anang.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, kami turut berdukacita ya mas Anang, nanti kapan kapan kami akan datang menjenguk mbak Dea ke rumah sakit." balas ibu Ira.


"Iya bu terimakasih." balas Anang sambil tersenyum.


Dari deretan ibu ibu itu, Anang tidak mendapati adanya ibu Tutik di sana, dengan seperti itu Anang semakin menaruh rasa curiga yang kuat untuk ibu Tutik.


"Kalau begitu Anang pamit masuk dulu ya Bu, soalnya Anang mau ambil baju ganti buat Dea." bohong Anang.


"Iya mas, kami hanya bisa bantu doa semoga mbak Dea lekas sembuh dan sabar menghadapi cobaan ini."


Anang mengunci pintunya dari dalam dan dia pun langsung melancarkan aksinya dengan mencari sesuatu yang pantas dia curigai di rumahnya.


Anang mengeledah seluruh rumah, di kamar dia menemukan sebotol air mineral yang ada di atasnya meja dan ada banyak camilan milik Dea.


Anang pun tidak yakin dengan camilan itu karena belum ada yang terbuka kemasannya, dia hanya mengambil botol air mineral itu.


Setelah itu Anang berpindah ke dapur, dia mengeledah isi dapur hingga dia mendapatkan ada berbagai macam makanan yang sudah masak.


"Loh ini kok banyak makanan di sini?" tanya Anang pada dirinya sendiri.


Anang pun melihat makanan itu satu persatu, dan dari kelihatannya itu bukan masakan Dea.


Anang sudah hafal masakan Dea, masakan Dea itu pasti selalu berwarna agak kekuningan karena dia suka dengan kunir ,dan makanan yang ada di depannya ini warnanya serba merah seperti banyak cabenya.


"Fix, ini akar dari semuanya." yakin Anang.


Anang pun langsung mencari wadah dan memasukkan makanan makanan itu kedalam wadah dan setelah itu dia langsung pergi ke rumah sakit untuk meletakkan makanan itu di lab agar di cek kandungan yang ada di makanan makanan itu.


"Gimana nak?" tanya ibu Santi saat Anang memasuki ruangan Dea.


"Benar Bu, ada beberapa makanan yang mencurigakan di rumah." jawab Anang.


"Kalau sampai memang dia pelakunya, berarti di sini Anang yang salah bu karena sudah memberikan kesempatan buat mereka." ucap Anang merasa bersalah.


"Ini sudah takdir nak, kamu yang tenang ya, ingat kamu masih ada Dea yang harus kamu tenangkan nanti, jadi kamu jangan seperti ini." balas ibu Santi agar Anang tetap kuat.


Anang melirik Dea yang masih belum tersadar, benar apa kata ibu, kalau dia harus kuat demi Dea, dia harus tetap tegar kate di sini dia adalah kepala rumah tangga.


"Iya Bu, Anang minta maaf karena tidak bisa menjaga Dea dengan baik, Anang mengingkari janji Anang pada ibu dan bapak." ucap Anang.


"Tidak nak, kamu sudah berhasil menjadi suami yang baik, ibu bangga sama kamu." balas ibu Santi.


"Sudah jangan sedih, nanti insyaallah kalau kalian ikhlas Allah bakal menggantinya."


"Iya Bu."


"Bapak kemana Bu?" tanya Anang yang tidak mendapati bapak mertuanya di sana.


"Biasalah, bapakmu itu lagi ngerokok, tadi ibu suruh pergi dari sini, masak ada anaknya sakit dia malah merokok di sini." jawab ibu Santi.


"Kamu tolong jagain Dea dulu ya, ibu mau sholat soalnya." lanjut ibu Santi.


"Iya Bu." balas Anang.


Ibu Santi pun pergi menuju musholla untuk melakukan, sedangkan Anang dia berjalan menghampiri Dea dan duduk di samping Dea.


"Hai sayang, maaf ya mas tinggal kamu terus, nanti kalau kamu sudah sadar lagi kamu jangan sedih ya, kamu harus kuat biar anak kita bangga punya ibu seperti kamu." ucap Anang pada Dea yang masih belum sadar lagi.


"Kamu tahu gak, tadi waktu aku baru sampai di rumah ternyata di sana banyak ibu ibu yang menanyakan kamu loh, mereka baik banget ya sama kamu." lanjut Anang mengajak Dea ngobrol.


...***...