
Dea dan Anang sudah sampai di cafe tempat Anang janjian bersama teman temannya. Anang menggandeng tangan Dea memasuki cafe yang baru buka, dia mencari keberadaan teman temannya di dalam.
"Woy Nang." Pangil Gilang melambaikan tangannya.
"Yuk, teman temanku ada di sana." Ajak Anang pada Dea.
Dea pun mengikuti langkah kaki Anang menuju teman teman Anang dengan tangannya yang masih setia dalam genggaman tangan Anang.
"Sorry lama." Ucap Anang kepada teman temannya.
"Santai aja bro." Balas Sahrul.
"Oh iya kenalin ini istri gw. Sayang kenalin ini teman temanku." Ucap Anang memperkenalkan Dea pada teman temannya.
"Dea." Ucap Dea memperkenalkan dirinya sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Sahrul, dan ini cewek gw Rita." Balas Sahrul.
"Gilang/Bima/Rizky/Rayuan." Balas Gilang, Bima, Rizky dan Rayyan gantian.
Anang dan Dea pun duduk di tempat yang masih kosong. Dea duduk tepat di samping Rita pacar Sahrul. Sedangkan Anang duduk di samping Dea.
"Kalian belum pesan makanan?" Tanya Anang karena tak melihat adanya makanan di meja mereka.
"Belumlah, kita kan nungguin Lo." Balas Gilang.
"Kalian mau pesan apa ini ada menunya?" Tanya Rizky mengambil buku menu yang ada di depannya.
"Aku samain aja lah kayak kalian, biar gak ribet." Ucap Anang.
"Ya udah kita pesan makanan yang sama-sama aja ya, pesan ayam geprek aja gimana?" Tanya Rizky.
"Gw sih oke oke aja." Setuju Bima.
"Gw juga." Timpal Rayyan.
"Kamu mau apa yang?" Tanya Sahrul pada pacarnya.
"Sama seperti yang lain aja." Balas Rita pacar Sahrul.
"Gw sama pacar gw sama." Ucap Sahrul pada Rizky.
"Kalau lo apa Nang?" Tanya Rizky pada Anang.
"Gw sama seperti kalian, tapi istri gw maunya ayam panggang." Jawab Anang.
"Ya udah berarti ayam geprek 7 ayam panggang satu ya. Terus minumnya kopi semua gak nih?" Tanya Rizky.
"Aku jus mangga aja."balas Dea yang memang tidak menyukai kopi.
"Gw juga sama kayak Dea." Timpal Rita.
"Kalian gimana?" Tanya Rizky pada teman temannya.
"Kita mah kopi, ya gak gaes?" Tanya Bima.
"Yoi." Balas mereka semua.
"Oke berarti ini minumannya yang cewek mangga yang cowok kopi ya?" Ucap Rizky mengulang pesanan mereka lagi.
"Yoi." Balas mereka.
Rizky pun memanggil pelayan cafe dan menyebutkan pesanan mereka. Dan setelah itu pelayan itu pun pergi untuk membuatkan pesanan mereka.
"Ehh kamu kuliah gak?" Tanya Rita pada Dea.
"Hehehe enggak." Balas Dea sambil memperlihatkan deretan giginya.
"Ooh berarti kerja dong." tebak Rita.
"Enggak juga." balas Dea.
"Lah terus?"
"Di rumah aja, ibu rumah tangga." jelas Dea.
"Iih sayang banget, kenapa gak kerja aja. Lumayan kan uangnya biar bisa bantu suami juga."
"Permisi ini pesanannya, selamat menikmati." ucap tiga orang pelayan yang membawakan pesanan mereka.
"Iya terimakasih." balas Bima.
"Yuk lah langsung di gas." ucap Rayyan yang sudah tersaji makanan di hadapannya.
"Mas kamu suka ini gak?" tanya Dea menunjukkan daun kemangi kepada Anang.
"Kenapa, kamu gak suka?" tanya Anang di balas anggukan oleh Dea.
"Ya udah sini." balas Anang.
Dea pun memberikan daun kemangi itu kepada Anang. Mereka yang melihat adegan keduanya pun merasa menjadi obat nyamuk di sana.
"Udahlah kita makan aja, biarin mereka berdua yang lagi di mabuk asmara." ucap Rizky.
"Kalau iri bilang bos." balas Anang.
"Dih sorry aja ya, jomblo lebih nikmat." balas Rizky.
Anang pun tak lagi menghiraukan Rizky, dia kembali fokus menyantap ayam geprek dengan sambal yang sangat menggoda selera.
Sedangkan pasangan Rita dan Sahrul, mereka berdua asik asik saja makannya tidak menghiraukan yang lainnya.
Setelah makanan mereka habis, mereka pun melanjutkannya dengan ngobrol ngobrol santai terlebih dahulu sebelum pulang.
"Ehh Dea lo dari Malang kan?" tanya Rayyan.
"Iya, emang kenapa?" balik tanya Dea.
"Bromo indah gak sih aslinya?"
"Indah banget lah, lo kalau ke Malang harus mampir ke sana." bukan Dea yang menjawab tapi Anang yang menjawabnya.
"Sok tahu Lo, emang lo pernah ke sana?" balas Rayyan.
"Pernah lah, nih lihat." Anang menunjukkan foto waktu dirinya pergi ke Bromo.
"Wah beneran nih anak, gw kira lo dulu boong." ucap Bima tak menyangka.
"Iya lah, kalian aja yang orangnya gak percayaan." balas Anang.
"Kapan kapan kalau mudik ke Malang ajakin kita lah De, biar kita bisa numpang makan gitu." ucap Sahrul yang tertarik dengan keindahan Malang.
"Boleh, nanti kalau kalian ke Malang bilang aja biar nanti aku bilang ke keluarga aku kalau kalian mau mampir ke sana, pasti nanti mereka akan masak banyak buat kalian." balas Dea.
"Wah beneran nih?" tanya Sahrul.
"Iya lah, mertua gw kan orangnya baik dan dermawan. Gw waktu di sana aja makannya enak enak terus." jawab Anang yang memang benar adanya.
Selama di Malang Anang memang mendapatkan perlakuan khusus dari keluarga Dea. Bahkan sebenarnya Anang lah orang yang paling sedih saat meninggalkan Malang karena dia bakal merindukan masakan Malang.
Apalagi di sana dia tidak boleh ngapain ngapain. Keluarga Dea semuanya pada baik ke Anang, bahkan Dea yang keluarga mereka sendiri aja sampai tidak percaya melihat itu. Karena memang Dea tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari keluarganya.
"Bener tuh De? Tanya Bima tak percaya.
"Iya, bahkan aku yang anak kandung keluargaku aja tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu. Aku sempat iri pada mas Anang, dan ingin mengusir dia waktu itu dari rumah. Tapi kasian juga, nanti dia bisa bisa kelaparan di jalan." balas Dea di sambut gelak tawa oleh mereka semua.
"Ternyata teman teman mas Anang tidak begitu buruk." batin Dea menilai teman teman Anang.
"Wkwkwk, seharusnya lo usir aja dia, biar sekalian jadi gelanggang di jalan." sahut Rizky dengan tawanya yang cukup keras.
"Wah wah wah, sayang kamu kok jadi akrab sama mereka sih. Tadi katanya kamu malu mau aku ajak jalan sama mereka, ehh sekarang kamu kok malah akrab gini." tak terima Anang.
"Salahuddin lo sendiri kenapa bawa bini ke sini, lo kan tahu sendiri gimana kita " balas Bima.
"Ya setidaknya tau tempat lah, ini bini gw." balas Anang.
"Iya iya kita tahu, udah gak usah baper gitu. Gak bakal kita ambil juga kok, kita kan punya prinsip tidak akan menggambil milik teman." ucap Rizky agar Anang tidak salah faham.
"Gw juga tahu, tadi gw hanya becanda." balas Anang yang langsung mendapatkan pukulan di pundaknya dari Bima yang duduk tepat di samping Anang.
...***...