From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#27



"Aduh siapa sih berisik banget." gumam Dea yang merasa tidurnya terganggu.


"Mas, bukain pintunya gih, keknya ada tamu deh." suruh Dea pada Anang.


"Aku capek sayang, kamu aja yang bukain pintu." balas Anang tidak mau.


"Aisss...." decak Dea.


Mau tak mau Dea pun bangkit dari dan segera mencari pakaiannya yang sudah Anang buang ke sembarang tempat tadi.


Setelah selesai mengenakan pakaian Dea pun langsung keluar dari kamar dan langsung menuju pintu rumahnya.


Tok tok tok.


"Mbak Dea, mbak Dea ada di dalam kan." pangil ibu ibu lagi terus mengetuk pintu rumah Dea tanpa putus asa.


"Iya sebentar." balas Dea dengan wajah yang masih ngantuk.


Ceklek.


Dea membuka pintunya dan melihat ada banyak orang di depan pintu rumahnya.


"Assalamualaikum mbak Dea." sapa ibu Ira.


"Waalaikum salam ibu ibu, ini ada apa ya kok rame rame gini?" tanya Dea bingung.


"Ini mbak kita mau beli produk CISA." jawab ibu Iva mewakili yang lainnya.


"Ooh iya ayo mari masuk." Dea langsung mempersilahkan calon pembelinya untuk masuk ke dalam rumahnya.


Mereka semua pun masuk dan langsung duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


Untung saja sofanya muat untuk menampung mereka semua, kalau tidak mungkin Dea akan mengelar tikar di sana.


"Bentar ya bu Dea ambil dulu macam macam produknya di kamar biar ibu ibu bisa pilih." ucap Dea.


"Iya mbak." balas mereka semua.


Dea pun pergi menuju kamarnya untuk mengambilkan berbagai macam produk CISA yang dia bawa dari rumah Zakia kemaren.


"Ehh kalian lihat gak tadi leher mbak Dea?" tanya ibu Tutik yang sedari tadi memang gagal fokus dengan leher Dea.


"Enggak, emang kenapa?" balas mereka kompak.


"Iiss... masak kalian gak lihat sih, itu loh leher mbak Dea merah merah gitu." jelas ibu Tutik.


"Jangan jangan tadi mbak Dea sama mas Anang lagi...." sambung ibu yupi.


"Berarti tadi kita mengganggu mereka dong." timpal ibu Ira yang ketularan gosip dengan mereka.


"Wah, pantas saja tadi bajunya kok kebalik tadi." timpal ibu Iva.


"Emang iya Bu?" tanya mereka karena mereka tidak memperhatikan penampilan Dea.


"Iya Bu, coba deh nanti liat aja kalau mbak Dea sudah ke sini." balas ibu Iva meyakinkan.


Sedangkan di dalam kamar Dea berusaha untuk membangunkan Anang yang tengah asik tidur.


"Mas ayo dong bangun, tolong buatin minum di depan lagi banyak orang." ucap Dea membangunkan Anang.


"Apa sih yang aku masih ngantuk." balas Anang yang memang benar adanya, dia masih ngantuk.


"Ayo loh bangun, kalau gak bangun nanti gak aku kasih jatah lagi." ancam Dea dan hal itu langsung membuat Anang bangun seketika itu juga.


"Jangan dong yang, kalau kamu gak kasih jatah kasian si otong dong." balas Anang memelas.


"Ya makanya itu ayo bangun, bantuin aku buat minum di depan ada ibu ibu yang mau beli produk CISA." suruh Dea.


Anang langsung memakai celana boxer dan juga kaos oblong tipis miliknya dan segera pergi menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk para calon pembeli Dea.


Sedangkan Dea, dia pergi menuju ruang tamu dengan di tangannya membawa banyak barang.


"Ini ibu ibu pilihannya, ini masih seberapa karena aku kemarin tidak membawa banyak soalnya masih buat coba coba dulu." ucap Dea setelah sampai di hadapan ibu ibu.


Bukannya membalas ucapan Dea, mereka semua malah menatap Dea dan meneliti pakaian Dea dari atas hingga bawah untuk memastikan apa yang tadi mereka bilang.


"Wah ternyata benar apa yang tadi ibu ibu bilang." batin mereka berempat sama.


"Bu, apakah ada sesuatu?" tanya Dea membuat ibu ibu itu langsung tersadar.


"Ahhh tidak mbak, itu tadi kita sibuk mengamati semua produknya, ternyata kemasannya sangat bagus ya." balas ibu Tutik mewakili yang lain.


"Ooh, ini ibu ibu bisa lihat lihat produknya." ucap Dea menunjukkan satu persatu produk CISA.


"Aku pengen yang buat kulit wajah kusam mbak, soalnya wajahku udah kusam banget." ucap ibu Iva menyebutkan keinginannya.


"Kalau untuk wajah yang kusam itu ini buk, selain untuk wajah yang kusam ini juga bisa menghilangkan flek hitam dan juga mengurangi komedo." jelas Dea sambil memegang sebuah skincare yang berwarna pink.


"Harganya berapa ya mbak kalau boleh tahu?" tanya ibu Iva lagi.


"Kalau untuk yang ini seratus enam puluh ribu, tapi untuk hari ini aku diskon jadi seratus lima puluh aja buk." jawab Dea.


"Mahal juga ya mbak ternyata."


"Iya Bu, seperti yang kita tahu pasti ada harga ada rupa, dan ini juga seperti itu, harganya yang mahal tapi kualitasnya juga bukan kaleng kaleng Bu." balas Dea.


"Iya juga sih mbak."


Sedangkan ibu ibu yang lain hanya mendengarkan menunggu giliran mereka nanti.


"Permisi Bu, ini silahkan di minum." ucap Anang yang datang sambil membawa nampan yang berisi minuman.


"Wah terimakasih, repot-repot saja ini suami mbak Dea." balas ibu Ira tidak enak.


"Tidak kok ibu RT, hanya sekedar minum saja." balas Anang.


"Sayang aku ke belakang dulu ya." pamit Anang pada Dea dan di balas anggukan kepala oleh Dea.


Para keempat ibu ibu itu pun mengamati kepergian Anang, dan setelah Anang pergi mereka pun melanjutkan bertanya tanya lagi sama Dea.


Hingga di bagian akhir akhirnya mereka semua membeli produk CISA seperti yang mereka inginkan.


Ada yang untuk perawatan kulit wajah dan juga perawatan anggota tubuh. Setelah membeli mereka langsung pulang dengan membawa barang yang sudah mereka beli.


Bahkan ibu Tutik yang memang statusnya adalah orang kaya itu pun memesan satu paket CISA yang harganya enam ratus ribu lebih, karena Dea belum ada stoknya maka Dea pun akan mengambilkannya terlebih dahulu nanti di tempat Zakia.


"Wih jualannya udah ada yang beli nih." ucap Anang setelah Dea kembali ke kamar.


"Alhamdulillah mas, itu semua juga berkat bantuan mas Anang." balas Dea.


Dea berjalan menuju meja rias untuk bercermin.


"Astaga mas." teriak Dea membuat Anang yang tengah memegang handphone pun langsung menjatuhkan handphonenya karena kaget.


"Kenapa sayang?" panik Anang menghampiri Dea.


"Lihat deh leher aku, apalagi ini baju aku. Pantesan aja tadi ibu ibu lihatin aku terus." ucap Dea menunjuk bagian lehernya yang penuh dengan tanda kissmark Anang.


"Aku kirain kenapa, bikin aku kaget aja yang, sampai sampai handphone aku jatuh." balas Anang santai dan kembali ke ranjang.


"Kamu kok biasa aja sih, gimana nanti kalau ibu ibu tadi berfikir yang enggak enggak sama kita " panik Dea.


...***...