
Setelah Anang berangkat kerja, seperti biasa Dea langsung bersih bersih rumah dan membersihkan tubuhnya sendiri. Selesai bersih bersih Dea duduk bersantai di sofa ruang tamu sambil nyemil.
"Bismillahirrahmanirrahim semoga ini bisa menjadi sumber rejeki bagi keluarga hamba."
Dea berdoa sebelum mulai memposting barang dagangannya di akun media sosialnya dan juga di toko yang baru dia buka di aplikasi oren.
Dea memposting mulai dari berbagai macam rangkaian skincare hingga perawatan anggota tubuh.
"Kok kepalaku pusing ya." gumam Dea saat merasakan kepalanya yang berdenyut denyut.
Dea pun mengakhiri bermain handphone karena akan membuat kepalanya semakin pusing, dia pergi ke kamar untuk merebahkan tubuhnya.
Tok tok tok.
"Assalamualaikum mbak Dea." ucap seseorang yang mengetuk pintu rumah Dea.
Dea yang baru saja ingin memejamkan matanya pun mengurungkan niatnya, dia bagun dan segera membukakan pintu untuk orang yang mengetuk pintu rumahnya.
"Assalamualaikum mbak Dea." salam tamu itu lagi.
"Iya sebentar, waalaikum salam." balas Dea.
Dea berjalan sempoyongan menuju pintu rumahnya dan segera membuka pintunya.
Ceklek.
"Ehh ibu Marni, mari silahkan masuk Bu." Suruh Dea mempersilahkan ibu Marni masuk ke dalam rumahnya.
"Iya mbak." balas bu Marni dan langsung ikut masuk ke dalam rumah Dea.
"Sebentar ya bu aku buatkan minum dulu." pamit Dea.
"Gak usah repot-repot mbak."
"Enggak repot kok Bu, hanya teh anget saja." balas Dea dan langsung pergi menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk ibu Marni.
"Ini bu silahkan di minum." suruh Dea meletakkan secangkir teh hangat di atas meja depan ibu Marni duduk.
"Iya mbak terimakasih." balas ibu Marni dan mulai meminum teh hangat itu.
"Mbak Dea udah ada produknya ya, aku lihat tadi di story WA mbak Dea?" tanya ibu Marni setelah menelan teh hangat yang dia minum.
"Iya Bu, Alhamdulillah saya mulai jualan hari ini." jawab Dea.
"Aku mau dong mbak yang sabun bikin kulit putih itu. Ehh tapi itu beneran aman kan mbak?"
"Aman dong Bu, semua produk dari CISA sudah BPOM." balas Dea yakin.
"Ya udah mbak saya mau coba itu dulu, nanti kalau cocok saya beli yang lainnya lagi."
"Baik bu, bentar ya Dea ambilkan barangnya dulu."
"Iya mbak."
Dea pun pergi mengambilkan barang yang ibu Marni mau beli, Dea masih belum menatanya karena dia belum ada tempat, jadi Dea meletakkan barang dagangannya di kamar.
"Ini bu untuk sabunnya, nanti bisa ibu gunakan buat mandi dan di gosokkan ke seluruh tubuh kecuali wajah ya Bu, karena kalau untuk wajah nanti beda lagi." ucap Dea menyerahkan sabun mandi sekaligus menjelaskan cara pemakaiannya.
"Ooh gitu ya mbak, terus kalau mau buat untuk wajah itu yang mana ya mbak?" tanya ibu Marni.
"Kalau untuk wajah ibu bisa pakai produk yang ini, soalnya tekstur kulit wajah sama tubuh kita itu beda, jadi perawatannya juga beda ya Bu." jawab Dea.
"Oke deh mbak aku pakai yang ini dulu, kebetulan kalau untuk wajah di rumah masih ada sedikit tapi itu dari produk lain, nanti kalau punya saya sudah habis pasti saya beli di mbak Dea." balas ibu Marni.
"Ini jadi berapa mbak?" tanya ibu Marni.
"Karena sekarang ibu pelanggan pertama Dea jadi ibu mendapatkan diskon dari Dea. Harga aslinya enam puluh ribu tapi untuk hari ini Dea diskon jadi lima puluh ribu saja Bu." jawab Dea.
"Wah beneran ini mbak, terimakasih ya semoga rezeki mbak Dea tambah banyak dan lancar." senang ibu Marni karena mendapatkan diskon.
"Aamiin bu terimakasih doanya." balas Dea.
"Ini mbak uangnya, kalau gitu saya mau sekalian pamit ya mau saya langsung coba di rumah, karena kebetulan saya belum mandi juga." ibu Marni memberikan uang seratus ribuan pada Dea.
"Boleh tuh Bu, nanti Dea minta testimoninya ya bu setelah seminggu pakai sabun itu." balas Dea.
"Oh iya Bu, nanti ibu bisa potong sabunnya menjadi enam bagian ya bu biar tidak cepat habis." lanjut Dea memberitahu cara pemakaian agar awet tidak cepat habis.
"Baik mbak." balas ibu Marni.
Dea pergi ke kamar untuk menggambilkan uang kembalian ibu Marni, dan setelah itu dia kembali lagi ke ruang tamu.
"Ini bu kembaliannya." Dea menyodorkan uang lima puluh ribu kepada ibu Marni.
"Terimakasih mbak, kalau begitu saya langsung pamit ya." pamit ibu Marni.
"Iya Bu, sekali lagi saya berterimakasih ya Bu." balas Dea.
Ibu Marni pun pergi dari rumah Dea dengan membawa sabun mandi yang dia beli.
Dea pun langsung memotret uang pembelian ibu Marni dengan background ibu Marni yang berjalan menjauh dari rumahnya, dan setelah itu Dea langsung mempostingnya di story sosmednya.
Terimakasih pelanggan pertama Dea, untuk pembelian hari ini ada diskon gede-gedean ya🥰🥰 Spesial buka toko.
Caption yang Dea tuliskan di postingan foto itu.
"Alhamdulillah, semoga laris manis." ucap syukur Dea.
Dea menutup pintu rumahnya kembali dan dia langsung pergi ke dalam kamar untuk melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda tadi.
-
Sementara itu di tempat kerja Anang, banyak karyawan yang marah marah karena mereka terkena PHK besar-besaran dari perusahaan. Terlebih lagi uang pesangon yang mereka terima tidak seberapa.
Bahkan banyak juga dari mereka yang akan melakukan demo, agar setidaknya uang pesangon mereka di tambahkan lagi.
"Gimana Nang?" tanya Gilang menghampiri Anang yang tengah memegang sebuah surat.
"Ya mau gimana lagi, lagian mau demo seperti mereka juga percuma gak bakalan bisa tetap kerja di sini juga." balas Anang.
Ya, seperti dugaan Anang, dia akan terkena PHK. Alasannya sudah jelaskan karena Anang akhir akhir ini sering melakukan cuti yang sangat lama, dan itu semua dia lakukan karena dia ada acara pernikahan beberapa waktu lalu di Malang.
"Lo yang sabar ya, nanti kalau gw denger ada info lowongan pekerjaan gw pasti bakal ngasih tahu lo kok." ucap Rizky yang baru saja datang.
"Thanks, kalian memang sahabat terbaik gw." balas Anang terharu karena memiliki sahabat sebaik mereka.
"Kita kan sudah seperti saudara, jadi kita juga harus saling membantu satu sama lain." timpal Bima.
Di antara satu sahabat itu, hanya Anang saja yang terkena PHK. Karena semua teman teman Anang itu sudah sangat lama bekerja di sana jadi mereka aman.
Kebanyakan yang terkena PHK ada karyawan baru dan juga karyawan yang banyak izin, dan bukan hanya itu saja, karyawan yang kerjanya kurang atau tidak maksimal juga akan terkena PHK dari perusahaan.
...***...