
Dea yang sudah mencuci baju dan mandi pun berganti baju dan setelah itu dia keluar rumah untuk menjemur pakaian yang sudah dia cuci di depan rumahnya.
Satu persatu Dea mulai menjemur pakaiannya dengan Anang. Entah kebetulan atau apa, dari arah kiri Dea melihat ada segerombolan ibu ibu yang suka Ghibah akan melewati jalan di depan rumahnya.
"Ehh mbak Dea, habis nyuci baju ya." ucap ibu Tutik kepada Dea.
"Iya Bu." balas Dea ramah.
"Kenapa gak minta di beliin mesin cuci aja mbak sama suaminya, pasti gak bakalan harus capek capek cuci gosok." usul ibu Tutik.
"Benar tuh mbak Dea, kan suaminya kerja di pabrik masak gak mampu sih beliin mesin cuci yang harganya gak seberapa itu." timpal ibu Iva yang sebelas dua belas sama ibu Tutik.
"Nah bener tuh, suami bu jupi aja mampu beliin mesin cuci meskipun cuma pekerja bangunan, masak suami mbak Dea yang kerja di pabrik gak mampu sih." timpal ibu Tutik lagi.
"Apaan sih Bu Tutik, saya beli mesin cuci itu nyicil kok." ucap ibu jupi yang tidak suka jika mereka mulai mengghibah.
"Ya gak papa Bu, meskipun nyicil kan yang penting suaminya masih mampu beliin, dari pada enggak. Oh atau jangan jangan suami mbak Dea ngasih uang hasil kerjanya ke cewek lain ya." kompor ibu Tutik.
"Astaghfirullah hallazim ibu, kenapa kalian gak ada bosannya sih ghibahin orang terus. Ingat ghibah itu dosa. Dan untuk ibu Tutik, tolong kalau berbicara di jaga." tegur ibu Ira selaku ibu RT yang baru saja datang ke sana.
Ibu Ira tadi sebenarnya akan pergi ke warung, tapi saat melihat gerombolan ibu ibu yang suka berghibah berada di depan rumah Dea, ibu Ira pun bergegas pergi ke sana karena takut kalau mereka akan ngomong yang pedas dan melukai hati Dea.
"Saya itu memberi tahu untuk mbak Dea supaya lebih hati hati lagi. Apalagi kan sekarang lagi musimnya yang seperti itu." bela ibu Tutik.
"Bener tuh, kemaren aja aku lihat di berita ada istri sah yang membunuh suaminya karena ketahuan punya selingkuhan di tempat dia kerja." setuju ibu Iva.
"Udah stop." teriak Dea membuat mereka semua diam.
Dea yang sedari tadi diam saja pun lama lama panas juga kupingnya. Dea tak suka suaminya di tuduh tuduh seperti itu. Dea percaya pada suaminya kalau dia tidak akan mengkhianati Dea.
"Ibu ibu kalau kurang bahan ghibah jangan menuduh suami saya yang enggak enggak. Emang ibu gak takut kalau nanti kembali lagi ke diri kalian. Bagiamana kalau ternyata suami kalian yang selingkuh, dan Dea yakin kalau kalian pasti punya anak. Bagiamana nanti kalau anak kalian yang di selingkuhi oleh suaminya." ucap Dea panjang lebar membuat semua orang diam termaksud ibu Ira juga.
Ibu Ira tidak menyangka kalau Dea akan berani berbicara seperti itu kepada mereka. Dia kira Dea itu anaknya polos dan pemalu, kalau tahu gini tadi seharusnya ibu Ira gak perlu repot-repot ingin membantu Dea.
"Di sebuah hubungan itu harus di landasi dengan saling percaya satu sama lain. Dan Dea percaya kepada suami Dea kalau dia tidak akan pernah mengkhianati Dea. Jadi kalau ibu ibu mau memanas manasi hati Dea suapa tidak percaya kepada suami Dea kalian salah. Dea percaya sama dia, kalau dia tidak mencintai Dea dia tidak akan mungkin jauh jauh pergi ke Malang hanya untuk menikahi Dea." lanjut Dea.
Ibu ibu yang ada di sana pun satu persatu mulai pergi menjauh dari depan rumah Dea tanpa mengucapkan apapun. Hingga sekarang hanya tinggal ibu Ira dan Dea saja di sana. Bahkan ibu Tutik yang paling koar koar pun entah pergi kemana tadi.
"Kamu yang sabar ya nak menghadapi mereka, kamu harus terbiasa dengan mereka. Abaikan saja kalau mereka ada ngomong yang dapat melukai hati kamu." ucap ibu Ira pada Dea.
"Iya bu terimakasih tadi sudah mau membela Dea." balas Dea.
"Iya nak Dea, kalau begitu saya permisi dulu ya mau pergi ke warung." pamit ibu Ira.
"Iya Bu." balas Dea.
Tak ada dalam benak Dea untuk pergi keluar rumah, seperti pergi ke rumah tetangga sebelah atau ke tetangga yang lainnya pun. Dea terlalu malas untuk menghadapi orang orang yang sukar julid.
Sebenarnya sejak awal tinggal di rumah itu Anang sudah menawarkan kepada Dea untuk membelikan Dea mesin cuci tapi Dea menolaknya. Bagi Dea selama dia masih sanggup mencuci dengan tangannya sendiri kenapa tidak.
Lebih baik uangnya di tabung untuk membuka usaha dari pada buat beli barang barang yang Dea bisa kerjakan dengan tangannya sendiri.
-
Anang sudah sampai di depan rumahnya. Dia meletakkan motornya di teras dan dia langsung turun dari motor dan masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamualaikum sayang." salam Anang saat memasuki rumahnya.
"Waalaikum salam mas." balas Dea menghampiri Anang.
Dea langsung mencium punggung tangan Anang dan Anang membalasnya dengan mencium kening Dea. Dea langsung mengambil tas selempang yang Anang kenakan.
"Mas mau mandi dulu atau mau langsung makan?" tanya Dea pada Anang yang sekarang sudah duduk di ranjang kamarnya sambil melepaskan sepatunya.
"Kamu sudah masak yang?" tanya Anang.
"Belum sih, itu ada masakan tadi pagi, soalnya mau masak sayang kan kalau masih ada." jawab Dea.
"Ya udah kalau gitu ayo kamu ikut aku habis ini nongkrong sama teman temanku, sekalian biar nanti kamu bisa kenalan sama mereka." ajak Anang.
"Kapan mas, sekarang?" tanya Dea.
"Iya habis ini, tapi aku mau mandi dulu." jawab Anang.
"Ya udah aku mau siap siap dulu, kamu mau pakai baju apa?" tanya Dea.
"Terserah kamu aja, nongkrongnya di cafe." jawab Anang.
Cup.
"Aku mandi dulu ya." pamit Anang setelah memberikan kecupan di bibir Dea.
Dulu mungkin Dea akan kaget saat tiba tiba Anang menciumnya secara tiba tiba seperti ini. Tapi sekarang Dea sudah terbiasa dengan kelakuan Anang yang susah untuk di tebak.
Dea langsung pergi mencari pakaian yang cocok untuk dia dan Anang kenakan. Dea mengambilkan Anang sweater rajut cream dan kemeja putih lengan pendek sebagai ********** dan juga tak lupa dia mengambil celana jeans yang berwarna cream juga.
Sedangkan untuk Dea sendiri, dia mengambil kemeja putih lengan panjang dan juga outher cream agar sama seperti Anang dan juga celana bahan kain yang warna crean dan kerudung warna putih tulang.
...*** ...