
Mereka berdua pulang ke rumah setelah mendapatkan banyak jajanan yang Dea inginkan. Saat ini mereka berdua tengah menonton televisi di dalam kamar mereka sambil memakan jajanan yang tadi mereka beli di alun alun.
"Kamu mau gak?" tanya Dea menawarkan rambut nenek pada Anang.
"Aa...." Anang membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Dea.
"Gimana manis gak?"tanya Dea.
"Enggak biasa aja." jawab Anang.
"Iiih kok gitu sih, padahal ini itu manis banget."
"Iya sayang, tapi masih manis kamu kemana mana." gombal Anang.
"Apaan sih gombal mulu." salting Dea.
"Bener loh aku gak gombal, kamu itu manis banget. Gak percaya?"
Dea menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang Anang ucapkan.
"Mau lihat buktinya?" tanya Anang lagi dan di balas anggukkan oleh Dea.
Cup.
"Tuh kan manis." ucap Anang setelah mengecup bibir Dea.
"Kamu mes... eemhh...." Anang tak membiarkan bibir Dea protes.
Anang ******* bibir Dea dengan lembut. Rasa rambut neneknya yang ada di dalam bibir Dea membuat Anang semakin betah menjelajahi isi mulut Dea.
Merasa nafas Dea mulai menipis, Anang pun melepaskan ciumannya.
"Kamu hah, kamu mau cium itu bilang bilang." omel Dea dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Udah ngomelnya nanti aja, ambil nafas dulu yang banyak." balas Anang santai.
Tangan Anang mengambil rambut nenek yang berada dalam genggaman tangan Dea. Anang memakannya dengan santai tak memperdulikan tatapan Dea yang tengah menatapnya dengan tajam.
"Enak banget sih, rugi tadi beli cuma dua." ucap Anang sambil terus menikmati rambut nenek.
Udah?" tanya Dea setelah Anang menghabiskan satu bungkus rambut nenek.
"Belum, kan itu masih ada satu bungkus lagi." balas Anang santai dan tangannya akan mengambil rambut nenek yang berada tak jauh dari tempatnya duduk.
Plak.
"Enak aja, ini jatah aku." ucap Dea setelah memberikan tamparan di tangan Anang.
"Kasar banget sih, sakit tauk." balas Anang sambil mengelus tangannya yang tidak terasa sakit sama sekali.
"Biarin." balas Dea dan mulai memakan rambut nenek yang tinggal satu bungkus.
"Aku makan ini ya." ucap Anang menggambil krepes yang ada di depannya.
"Hmm, tapi satu aja." jawab Dea.
Anang pun langsung memakannya dengan lahap karena rasanya sangat lejat dan bergiji.
"Yang, minta dong." pinta Anang pada Dea yang masih asik memakan rambut nenek sedangkan krepes miliknya tadi sudah habis.
"Makanya kalau beli itu tadi jangan cuma dua." omel Dea tapi dia tetap menyuapi Anang rambut nenek.
"Kan aku gak tahu kalau rasanya akan seenak itu. Aku kira rasanya sama seperti gula kapas." balas Anang.
"Enggak lah beda."
Mereka terus menghabiskan jajanan yang mereka beli tadi. Bahkan sampai jam sepuluh malam makanan mereka belum habis, tinggal yang berat berat seperti cilok dan batagor. Karena perut mereka sudah tidak muat, akhirnya Dea pun menyimpannya di tempat penyimpanan makanan biar besok bisa di hangatkan lagi.
"Aaah... kentangnya." ucap Dea yang mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Aku belum." balas Anang.
"Lah, tadi bukannya kamu bilang udah kenyang. Kalau kamu masih lapar kamu habiskan aja cilok sama batagor tadi." balas Dea.
"Bukan kenyang itu."
"Lah terus apaan?" tanya Dea heran.
"Ini." ucap Anang dan langsung menyerang bibir Dea.
Dea sampai kewalahan menyeimbangi ciuman Anang. Dea memukul dada Anang saat merasa pasokan udaranya mau habis.
"Kamu gila ya." ucap Dea marah.
"Kalau aku mati gimana?"
"Ya jangan dong, kalau kamu mati terus aku sama siapa dong."
"Ya cari yang bar...."
Cup.
"Jangan ngomong gitu lagi, aku gak suka." ucap Anang menatap Dea tajam.
Dea yang melihat tatapan Anang pun merinding, dia memeluk Anang dan menenggelamkan kepalanya di dada Anang tidak mau menatap wajah Anang.
"Maaf sayang, aku cuma gak suka kalau kamu ngomong gitu." ucap Anang yang merasa bersalah karena sudah menatap Dea seperti itu.
"Jangan marah, aku minta maaf ya." ucap Dea dalam pelukan Anang.
"Tidak sayang, aku tidak marah sama kamu." balas Anang mengelus rambut Dea.
"Yang."Pangil Anang.
"Kenapa?" tanya Dea sambil mendongakkan kepalanya menatap Anang.
"Boleh gak aku minta itu." izin Anang.
"Itu apa?" tanya Dea pura pura tidak tahu, padahal sebenarnya dia sudah tahu apa yang Anang maksud.
"Iiisss... itu loh."
"Iya itu apa?" goda Dea.
"Iiih ayang mah gitu." ngambek Anang.
"Dih pakai acara ngambek segala, kamu tuh gak pantes ngambek gitu." balas Dea mengejek Anang.
"Terus aku pantasnya apa?" tanya Anang.
"Kamu itu pantasnya hanya menenangkan aku di saat aku ngambek." jawab Dea.
"Oooh jadi yang pantas ngambek itu hanya kamu gitu?" tanya Anang.
"Iya lah." balas Dea.
"Ya udah coba kamu ngambek nanti biar aku tenangin." tantang Anang.
"Emang gimana tenaginnya?" tanya Dea penasaran.
"Soal itu mah gampang, tinggal gempur kamu semalaman trus besok pagi gak bisa jalan, mudah kan." jawab Anang santai.
"Sembarang kalau ngomong, gak ahh aku gak mau, aku mau tidur aja." ngambek Dea dan tidur memunggungi Anang.
"Ooh mau tidur, ya udah tidur aja dulu. Emang kamu bisa tidur ya?" goda Anang pasalnya Dea emang masih belum terbiasa tidur di rumah mereka, jadi agak susah buat Dea untuk memejamkan matanya ketika tidur malam hari.
"Aduh kan aku gak bisa tidur ya kalau gak mas Anang peluk." batin Dea yang sekarang sudah terbiasa bisa tertidur kalau berada dalam pelukan hangat Anang.
"Kok gak ada jawaban, udah tidur ya? Ya udah kalau udah tidur aku juga mau tidur." ucap Anang dan langsung diam supaya Dea mengira kalau Anang memang sudah tidur.
"Kok udah sepi, apakah mas Anang sudah tidur?" gumam Dea yang masih di dengar oleh Anang.
Dea pun langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Anang dan Anang langsung membawa Dea masuk ke dalam pelukannya.
"Mas, kamu belum tidur?" tanya Dea sekaligus kaget. Dea mendongakkan kepalanya menatap wajah Anang yang berada di atasnya.
"Menurut kamu?" balas Anang.
"Udah ayo tidur, aku gak akan paksa kamu kok kalau kamu gak mau." lanjut Anang memasukkan kepala Dea agar lebih menempel di dadanya.
"Aduh gimana nih, sebenarnya ini memang sudah menjadi tugas aku. Tapi aku masih trauma kalau rasanya akan sakit." batin Dea yang merasa bersalah.
"Gimana ini, udah ahh dari pada dosa. Kalau sakit yang di obatin lagi." lanjut batin Dea.
"Mas." panggil Dea.
"Hmm." balas Anang hanya bergumam saja karena dia sudah memejamkan matanya.
"Mas." pangil Dea lagi menggerakkan tubuhnya agar bisa menatap wajah Anang.
"Kenapa sayang, ini udah malam ayo tidur." balas Anang membawa Dea masuk ke dalam pelukannya lagi.
...***...