
Dea bangun karena merasa ada benda berat yang menimpa tubuhnya, dia membuka matanya untuk memastikan benda apa yang ada di atasnya, dan betapa kagetnya dia saat melihat ternyata itu adalah seorang laki laki.
"Aaa...." teriak Dea dan mendorong tubuh Anang hingga Anang terjungkal ke lantai.
"Aauw." ringis Anang saat merasakan punggungnya yang terasa sakit.
"Mas Anang." kaget Dea karena ternyata orang itu adalah suaminya.
"Apa?" balas Anang menatap Dea kesal.
"Astaga mas, aku minta maaf. Aku gak tahu kalau tadi itu mas Anang, Dea kira itu orang lain makanya Dea teriak." bela Dea.
"Ya kamu pikir emang ada orang yang bisa masuk ke dalam rumah saat kamu mengunci pintunya selain aku?"
"Ya kan Dea gak tahu mas, lagian kok tumben mas Anang jam segini udah pulang, biasanya kan mas Anang pulangnya sore?" tanya Dea.
Anang diam, dia bingung harus bagaimana memberitahu Dea kalau dia terkena PHK.
"Mas kamu kenapa diam, apakah pinggang kamu sakit?" tanya Dea khawatir.
Dea bangun dari tempat tidur dan berjalan menghampiri Anang.
"Maaf ya mas, gara gara Dea mas Anang jadi kesakitan seperti ini." ucap Dea merasa bersalah.
"Auwss... sakit yang pinggangku." ringis Anang.
Anang pikir mungkin dia akan pura pura sakit saja biar Dea tidak banyak tanya kenapa dia pulang lebih awal, mungkin Anang akan memberitahu Dea nanti malam saja.
"Aduh maaf ya mas, sini coba Dea lihat." Dea menyibakkan kaos tipis Anang untuk melihat pinggang Anang apakah ada yang luka atau tidak.
"Auw sakit yang." ringis Anang pura pura, padahal sekarang sudah tidak sakit lagi, hanya sakit sesaat saat dia jatuh tadi.
"Ayo mas bangun, kamu tiduran di ranjang aja biar aku olesi minyak urut di pinggang kamu." suruh Dea.
"Bantu." manja Anang.
Dea pun membantu Anang untuk berdiri dan membawa Anang menuju ranjang.
"Bentar aku ambil minyak urut dulu." ucap Dea dan pergi menuju laci lemari untuk mencari minyak urut.
Setelah mendapatkannya Dea langsung menyuruh Anang untuk berbaring.
"Auw pelan pelan yang, sakit tau." ringis Anang agar Dea percaya kalau pinggangnya sakit.
Dengan lembut Dea mengurut pinggang Anang agar sakitnya berkurang, setelah selesai dia mengembalikan minyak urut itu ke tempat semula.
"Gimana udah mendingan belum?" tanya Dea duduk di samping Anang yang tengah tiduran di atas ranjang.
"Hmm." balas Anang.
"Yang sini deh tiduran lagi." ajak Anang.
"Aku udah terlalu lama tidurnya mas, pusing aku juga sudah ilang." balas Dea.
"Kamu pusing? kenapa ada yang sakit gak? badan kamu panas gak?" bejibun pertanyaan yang Anang lontarkan untuk Dea.
Bahkan tanpa Anang sadari dia langsung bangun dengan tegarnya untuk mengecek keadaan Dea.
"Mas." ucap Dea.
"Iya sayang kenapa, mana yang sakit?" balas Anang bertanya.
"Bukannya pinggang kamu sakit ya?" tanya Dea dengan muka muka curiga.
"Hah, ouh aduh sakit sstttt yang sakit banget yang." ringis Anang pura pura kesakitan.
"Udah deh mas kalau mau pura pura aku udah tahu, kamu itu bikin aku panik saja." balas Dea yang sudah mengetahui kalau Anang tengah berbohong.
"Enggak yang ini beneran sakit, aku gak bohong."
"Iya iya terserah kamu saja, aku mau pergi ke dapur dulu." Dea akan bangkit dari duduknya tapi tangan Anang langsung mencekal tangan Dea.
"Tunggu yang." tahan Anang.
"Apa lagi sih mas, aku mau angetin makanan buat kamu dulu." balas Dea.
Anang menarik tangan Dea dan langsung membawanya ke dalam pelukan doa yang lagi tiduran.
"Aku kangen sama kamu, jadi biarkan seperti ini dulu." ucap Anang yang sudah merubah posisi menjadi Dea yang berada di bawah.
"Kenapa hmm, apa ada masalah?" tanya Dea sambil membelai rambut Anang yang kepalanya berada di tengah tengah dada Dea.
Anang hanya membalasnya dengan gelengan kepala saja, Anang mencari posisi paling nyaman di dada Dea.
"Mas jangan gerak gerak gitu deh kepalanya." tegur Dea.
"Hmm." balas Anang tapi bukannya berhenti, Anang malah semakin menjadi.
"Mas." kesal Dea memegang kepala Anang agar berhenti.
"Yang mau cucu." manja Anang dengan puppy eyes nya.
"Jangan ngada ngada deh, ini masih siang." tolak Dea.
"Iiih ayang Tapi aku kan mau." manja Anang.
"Nanti malam aja ya mas." balas Dea mencoba memberikan pengertian.
"Gak mau aku maunya sekarang." kekeh Anang.
"Hufft... ya udah sini, tapi jangan di gigit ya." peringat Dea pasalnya Anang kalau sudah berada di dadanya itu suka lupa.
"Iya sayang." balas Anang dan langsung saja tangannya menaikkan tagtop yang Dea kenakan.
"Wah makin besar aja." girang Anang saat melihat pemandangan di depannya.
"Apaan sih mas, udah cepat kalau mau cucu jangan di liatin begitu, aku malu." tegur Dea yang merasa malu.
Tak membuang kesempatan, Anang pun langsung melahap kedua barang yang ada didalam hadapannya dengan rakus. Sesekali Anang juga mengigit nya.
Anang tak memperdulikan Dea yang meringis sambil mend*sah karena perbuatannya.
Anang yang sudah tidak tahan pun akhirnya memangsa Dea juga. Anang menggempur Dea habis habisan sampai sampai Dea kelelahan dan tertidur.
-
"Loh ada buk RT juga disini." sapa ibu Tutik dan kawan kawan pada ibu Ira.
"Iya Bu, kebetulan saya juga mau beli." balas ibu Ira.
"Ya sudah kalau seperti itu kita sama sama saja belinya, siapa tahukan nanti bisa dapat diskon yang lebih gede." ajak ibu Tutik.
"Bener tuh Bu." setuju ibu Iva.
"Tapi ini pemilik rumahnya kemana ya Bu, soalnya saya sudah mengetuk pintunya sedari tadi tapi tidak ada yang jawab juga." heran ibu Ira.
"Loh masak sih Bu, kita tadi ke sini juga gak ada orangnya karena kita kira mbak Dea lagi tidur. Tapi kalau sampai sore seperti ini tidak ada orangnya juga, terus kemana mbak Deanya?" balasan ibu Tutik yang merasa heran.
"Tapi itu motor Anang ada, pasti mereka berdua ada di rumah lah." sambung ibu Iva menunjuk motor Anang yang berada di depan rumah.
"Bener juga ya, terus mereka kemana dong."
"Coba saja di panggil lagi, siapa tahu mereka gak dengerkan tadi." usul ibu yupi.
"Ya udah ayo kita coba sama sama." setuju ini Ira.
Tok tok tok.
"Assalamualaikum mbak Dea." salam mereka kompak jadi menimbulkan suara yang keras.
Sepi tidak ada juga jawaban dari dalam.
"Kok masih gak ada jawaban juga ya, ayo kita coba sekali lagi kalau tidak ada jawaban juga berarti mereka gak ada di rumah." ajak ibu Ira lagi.
...***...
Kalau kalian tanya kenapa ceritanya ringan banget gak ada tantangannya, ini memang aku buat yang ringan seperti inilah ya. Kalau kalian mau yang menantang kalian bisa baca karya saya yang lainnya 😁😁
Soalnya ini karya yang spesial wkwkwk 😂