
"Itu semua berkat bantuan istriku." balas Joni sambil merangkul pundak istrinya.
"Apaan sih mas, malu ada orang itu loh." Zakia melepaskan tangan Joni yang berada di pundaknya karena tidak enak sama Anang dan Dea.
"Biarin ajalah, orang mereka juga biasanya gitu. Iya kan Nang?" Joni menaik turunkan alisnya dan di balas senyuman saja oleh Anang.
"Ehh ini kok malah jadi temu kangen kalian berdua sih, Dea ke sini kan karena mau daftar member CISA. iya kan De?" ucap Zakia.
"Hahaha... iya kak, tapi biarlah mereka berdua kangen kangenan, toh kasihan juga udah lama gak ketemu." balas Dea.
"Iya juga sih, ayo kita ngobrol di ruang tengah aja biar mereka berdua ngobrol sendiri di sini." ajak Zakia dan di setujui oleh Dea.
"Ma, buatin tamunya minum lah, masak ini cuma air mineral doang." ucap Joni menyuruh Zakia untuk membuatkan Anang minum.
"Gak usah bang, ini aja udah cukup kok." sahut Anang karena dia juga tadi udah kebanyakan minum waktu di rumah.
"Bener gak papa?"
"Iya bang."
"Tuh kamu dengerkan mas, orang dia aja gak masalah kok." sungut Zakia.
"Ya kan bisa saja dia bohong, mana ada sih tamu yang minta minum." balas Joni tak mau kalah.
"Udah lah, kalau kamu mau ya kamu buatin sendiri. Ayo De kita pergi." Zakia pun membawa Dea pergi dari sana menuju ruang tengah.
Di sana Zakia memperkenalkan seluruh produk CISA kepada Dea. Mulai dari yang untuk perawatan wajah dan perawatan tubuh.
Hingga pukul sembilan malam barulah Anang dan Dea pulang. Dea pulang sambil membawa beberapa produk untuk dia buat stok di rumah nanti.
"Gimana tadi, udah ngerti belum?" tanya Anang pada Dea.
"Apa mas?" tanya Dea karena suara Anang tidak terlalu jelas.
"Gimana tadi kamu udah ngerti apa belum?" ulang Anang dengan suara yang agak keras.
Saat ini mereka berdua dalam perjalanan pulang, oleh karena itu suara Anang jadi tidak terlalu jelas di pendengaran Dea.
"Udah mas, nanti sampai rumah tinggal di pelajari lagu biar makin lancar nanti jualannya." balasan Dea.
"Oh iya mas, nanti bantuin Dea buka toko di aplikasi oren ya." pinta Dea.
"Iya sayang." balas Anang.
"Mau mampir beli apa dulu gak?" tanya Anang pada Dea.
"Enggak deh mas, udah malam juga males mau makan." balas Dea.
"Ya udah berarti ini kita langsung pulang ke rumah ya."
"Iya mas."
Anang pun menambah kecepatan motornya agar cepat sampai di rumah dan Dea pun menambah pegangannya pada pinggang Anang lebih erat lagi karena takut jatuh.
-
Mereka sampai di rumah, Dea langsung pergi le kamar mandi untuk gosok gigi dan mencuci kaki dan tangannya.
Sedangkan Anang dia pergi ke kamar untuk bergantian sama Dea ke kamar mandinya. Setelah Dea keluar dari kamar mandi, barulah Anang masuk ke dalam kamar mandi.
"Sayang celana boxer aku yang putih mana ya?" tanya Anang yang tak mendapati celana boxernya ada di dalam lemari pakaian.
"Kayaknya masih aku cuci terus belum kering deh mas, mending kamu cari yang lain aja." balas Dea.
Anang pun mencari celah boxer yang lain dan setelah mendapatkannya Anang pun memakainya.
"Mas enaknya aku kasih nama apa ya toko aku?" tanya Dea pada Anang.
"Eemmm... apa ya?" Dea berfikir untuk mencari nama yang cocok untuk tokonya.
"Kalau Dea shop bagaimana mas?" tanya Dea meminta pendapat Anang.
"Boleh itu juga baik." pendapat Anang.
"Ya udah itu aja deh mas, terus habis itu ini gimana?" tanya Dea menunjukkan handphonenya pada Anang.
"Ya ini kamu tinggal isi alamat lengkap kita sama nomor telfon kamu aja." balas Anang.
Anang pun mengisikan alamat serta nomor telfon Dea di halaman untuk daftar membuka toko di aplikasi oren.
"Dah ini kamu tinggal upload jualan aja." ucap Anang yang sudah menyelesaikan mengisi formulir pendaftaran toko.
"Makasih mas." balas Dea.
"Sama sama sayang, kamu udah tahu kan cara upload jualannya?"
"Udah mas tadi aku sama mbak Zakia nonton di YouTube."
"Ya sudah besok aja ya upload jualannya, ini udah malam lebih baik kamu tidur dulu." suruh Anang.
"Peluk ya." pinta Dea dengan wajah imutnya.
"Iya, sini mas peluk." balas Anang.
Dea pun langsung berhambur masuk ke dalam pelukan Anang dan Anang pun langsung menyambut pelukan Dea.
"Tidur yang nyenyak ya istri cantikku." ucap Anang sambil menepuk pantat Dea seperti bayi yang mau tidur.
"Hmm." Dea hanya bergumam saja karena dia sangat menikmati perlakuan Anang kepadanya.
Setelah merasa Dea tertidur Anang melepaskan pelukannya pada Dea. Anang membenarkan tidur Dea agar dia merasa tenang, dan setelah itu Anang pergi keluar dari kamar meninggalkan Dea.
Anang duduk di sofa ruang tamu sambil mengotak-atik handphone miliknya.
"Aku harus segera merencanakan sesuatu, karena aku tidak yakin aku tidak akan terkena PHK nanti." gumam Anang.
Anang berfikir untuk mulai memikirkan usaha apa yang akan dia buat, karena mungkin 80% dia akan terkena PHK juga.
Anang tadi sempat mencari tahu berapa kerugian perusahaan tempat dia kerja sampai sampai mau meng-PHK para pekerjanya, dan ternyata jumlah kerugian yang perusahaan tempat dia kerja bukanlah sedikit.
Anang berfikir mungkin saja dia dan teman temannya juga akan ikutan terkena PHK melihat sebesar apa kerugian yang di alami perusahaan.
"Apa aku minta saran bang Joni aja ya." monolog Anang setelah berfikir panjang tapi tidak juga menemukan jawabannya.
"Tapi ini udah malam, gak enak kalau aku telfon dia malam malam seperti ini." lanjutnya.
Anang berpindah pola pikir, sekarang dia mengecek tabungannya sudah sebanyak apa sampai sampai dia mau membuka usaha.
"Haduh cuma modal segini mana bisa buat usaha yang gede." gumam Anang setelah melihat jumlah tabungannya.
"Apa aku pinjam di bank aja ya."
"Ehh jangan deh, nanti kan itu ada bunganya."
"Terus aku harus gimana, sekarang aku sudah menghidupi anak orang, kan gak mungkin aku terlantarkan dia begitu saja." pusing Anang.
Tanpa Anang sadari ternyata Dea sedari tadi ada di belakang Anang.
Tadi Dea merasa tidurnya terganggu karena ada pergerakan di ranjang tempat dia tidur. Dea yang baru saja tertidur pun membuka matanya, dan dia melihat Anang pergi keluar dari kamar.
Dea kira Anang pergi ke kamar mandi atau dapur untuk mengambil minum, lama Dea menunggu Anang tak kunjung menampakkan dirinya, hal itu membuat Dea kepikiran dan alhasil Dea pun pergi menyusul Anang keluar dari kamar.
...***...