From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#16



"Kamu marah?" tanya Dea mendongakkan kepalanya lagi.


"Marah? Marah buat apa hmm?" tanya Anang.


"Ya karena aku gak mau turutin mau kamu." jawab Dea.


"Hahaha... kamu ini ada ada saja, aku mana mungkin sih marah sama kamu. Kalau kamu gak mau juga aku tidak apa apa, aku akan menahannya." balas Anang.


"Tapi sekarang aku mau kok." Dea melepaskan pelukan Anang dan menatap Anang.


"Yakin?" tanya Anang memastikan.


"Iya, tapi pelan pelan ya." balas Dea.


"Hahahaha... aku mana mungkin kasar sih yang." tawa Anang.


"Ya waktu itu buktinya kamu kasar mainnya." balas Dea.


"Iya iya sayang, nanti kalau aku kasar kamu ingetin aku ya."


"Beneran nih mau?" tanya Anang memastikan.


"Iya sayangku." balas Dea.


Tak membuang kesempatan, Anang pun langsung menerjang Dea. Anang melakukannya dengan sangat lembut hingga membuat Dea menikmatinya.


Awal mula memang lembut, Tapi lama kelamaan Anang berubah jadi bruntal juga. Dea sampai kewalahan menyeimbangi Anang. Mereka main sampai jam 2 dini hari, itu pun karena Dea sudah terkapar lemah, coba kalau belum pasti Anang akan melanjutkan gempurannya sampai subuh mungkin.


-


Pagi harinya, Dea sudah selesai masak dan menatanya di meja makan. Sekarang tugasnya adalah membangunkan suami tercintanya yang masih tidur padahal ini sudah jam setengah enam.


"Mas ayo bangun." ucap Dea membangunkan Anang.


"Hmm." balasan Anang masih asik dengan tidurnya.


"Mas ayo bangun ini udah siang kamu harus kerja." ucap Dea lagi.


"Bentar sayang aku masih ngantuk." balas Anang.


"Makanya kalau malam itu tidur." omel Dea.


"Ayo cepat bangun, kalau kamu gak bangun aku siram pakai air nih." ancam Dea.


Cup.


Anang bangun dan langsung memberikan kecupan selamat pagi.


"Pagi cintaku, pagi pagi jangan ngomel." ucap Anang dan langsung berlari menuju kamar mandi dengan keadaan telanjang karena dari semalam setelah bercinta Anang belum sempat memakai celananya.


"MAS ANANG." teriak Dea geram.


Sedangkan Anang yang berada di dalam kamar mandi pun tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya yang terasa kram gara gara tertawa.


"Jangan teriak teriak sayang nanti tetangga kira aku apa apain kamu." teriak Anang dari kamar mandi sambil berusaha meredam tawanya.


"Awas aja kamu ya mas, nanti malam tidak akan aku kasih jatah." balas Dea yang geram dengan kelakuan Anang.


"Gak papa nanti aku paksa kamu." balas Anang dari kamar mandi.


Dea tak lagi membalas ucapan Anang. Dea pergi menyiapkan semua keperluan Anang agar nanti dia tidak teriak teriak tidak jelas seperti sebelum sebelumnya.


Setelah selesai Dea tidak langsung keluar kamar, dia menunggu Anang sampai selesai mandi.


Tak berapa lama Anang keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya saja. Serta tangan yang menggacak acak rambutnya yang basah sehabis keramas.


"Sini cepat pakai baju kamu, ini udah jam enam lewat loh." ucap Dea menyuruh Anang agar cepat cepat bersiap.


Tak banyak bicara Anang menurut saja dengan Dea. Dea membantu memakaikan baju Anang serta mengeringkan rambut Anang yang basah dengan hairdryer agar cepat kering.


"Yang celananya pakaiin juga dong." manja Anang.


"Enak aja, pakai sendiri." tolak Dea.


"Astaga mas Anang." teriak Dea dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa sih, orang kamu juga udah sering lihat." ucap Anang sambil memakai ****** ******** dan setelah itu dia memakai boxer pendek dan setelah itu dia memakai celana hitamnya.


"Udah sayang buka tangannya." ucap Anang menyuruh Dea untuk membuka tangannya.


Dea pun perlahan menurunkan tangannya dan melihat penampilan Anang yang sudah lengkap sekarang.


"Sini aku rapiin." ucap Dea menyuruh Anang agar mendekat padanya.


Anang pun mendekati Dea, dan Dea pun langsung merapikan pakaian Anang. Setelah rapi Dea membantu Anang untuk memakai kaos kaki serta sepatunya.


"Udah yuk kita ke bawah sarapan." ajak Dea setelah melakukan tugasnya sebagai seorang istri.


"Sayang terimakasih ya." ucap Anang.


"Terimakasih buat apa?" tanya Dea.


"Terimakasih karena kamu sudah menjadi istri yang baik buat aku." jawab Anang.


"Itu sudah menjadi tugas aku. Seperti kamu yang berusaha untuk membuat aku hidup bahagia, dan aku juga akan berusaha untuk menjadi istri yang baik dan perhatian buat kamu." balas Dea.


"Makin cinta deh sama kamu."


Cup.


Anang memberikan kecupan di kening Dea dan langsung menggandeng tangan Dea keluar dari kamar mereka menuju meja makan.


"Bentar yang aku panasin motor dulu." ucap Anang saat teringat kalau dia belum memanaskan motornya.


"Ya udah aku siapkan makanan kamu dulu." balas Dea.


Anang pergi menuju tempat motornya dan langsung menghidupkannya. Sedang Dea pergi ke tempat makan dan langsung menyiapkan makanan di piring Anang.


Setelah motornya hidup, Anang pergi menuju meja makan menghampiri istrinya untuk sarapan.


"Ini mas, apa masih kurang?" tanya Dea menyerahkan satu piring berisi makanan untuk Anang.


"Udah sayang, ini kan memang porsi aku." balas Anang menerima piring dari Dea.


Mereka berdua pun makan dengan tenang tanpa ada yang mengajak ngobrol satu sama lain hingga makanan mereka habis. Dan setelah itu Anang langsung pamit pergi kerja kepada Dea.


"Sayang aku berangkat ya, kamu hati hati di rumah. Nanti kalau ada apa apa kamu langsung telfon aku." pamit Anang.


"Iya mas kamu hatinya hati ya." balas Dea.


Cup.


"Daaa sayang aku pergi dulu." ucap Anang setelah memberikan kecupan di kening Dea.


"Iya mas hati hati." Balas Dea sambil mencium punggung tangan Anang.


Anang pun pergi bekerja sedangkan Dea kembali lagi ke dapur untuk membersihkan piring serta peralatan masak yang kotor sehabis mereka makan tadi.


Setelah selesai Dea pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sekaligus mencuci pakaian kotor miliknya dan juga Anang.


Selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah, Dea duduk di ruang tamu sambil memainkan handphonenya untuk mencari barang-barang apa yang bisa di jual secara online.


Dea mencari Ouner yang bisa dia ambil barang dagangannya.


"Enaknya jual apa ya." bingung Dea setelah mendapatkan banyak berbagai macam barang yang bisa dia jual.


Mulai dari perabotan rumah tangga, pakaian dan juga ada beberapa merk kosmetik dan juga obat obatan.


"Apa nanti aku tanya mas Anang aja ya, dia kan yang lebih ngerti daerah sini yang laris batang apa aja." monolog Dea.


Dea pun meng-screenshot barang barang yang dia jual agar nanti bisa dia tanyakan saat Anang sudah pulang dari tempat dia kerja.


Dea bersantai santai sambil membalas chat dari temannya yang berada di Malang. Kadang juga dia kalau sepi tidak ada pesan dia mengscroll toktok yang videonya tidak ada ujungnya.


...***...