
"Ooh, enak ya jadi mbak Dea bisa di belanjain suami." balas salah satu dari mereka.
"Iya karena dia istimewa bagi saya." balas Anang.
"Wah mas Anang so sweet banget." kagum ibu ibu itu tapi ada juga yang tak suka dengan jawaban Anang.
Setelah itu Anang pun tak memperdulikan mereka lagi, dia sibuk memilih sayuran apa yang akan dia beli dan setelah mendapatkannya Anang langsung pergi dari sana.
"Eehh ingat gak yang kemarin." ucap ibu Tutik yang mode gosipnya lagi on.
"Iya Inget, yang di rumah mbak Dea itu kan." balas ibu Iva ikutan juga.
"Jangan jangan semalam mereka main lagi sampai sampai buat mbak Dea kelelahan terus makanya mas Anang yang belanja." ucap ibu Tutik.
"Wah bisa jadi tuh buk, mana mereka juga lagi penganten baru jadi pasti lagi anget angetnya." setuju ibu yupi.
"Kalian lagi ngomongin apa sih, kok kita gak ngerti?" bingung ibu ibu yang baru bergabung dengan mereka.
"Jadi kemaren kan kita pergi ke rumah mbak Dea untuk beli produk CISA, nah waktu itu kita lihat...." ibu Tutik menjelaskan masalah yang kemaren secara terperinci tanpa ada yang tertinggal satu pun.
"Wah, pantes aja mas Anang kalau lagi gak kerja betah berada di rumah, orang sama mbak Dea di goyang mulu." ucap ibu Yanti.
"Nah bener tuh, coba deh kalian pikir, selama tinggal di sini saya gak pernah tuh liat mas Anang pergi jalan jalan ke tetangga tetangga sebelahnya, kalau bukan main ya apa lagi yang mereka lakukan kalau lagi di rumah." setuju ibu Iva.
"Heleh di goyang mulu tapi gak jadi jadi, rugi." balas ibu Tutik yang mulai julit lagi.
"Hus ibu Tutik kalau ngomong jangan seperti itu, siapa tahukan kalau mereka memang menunda kehamilan karena kan mereka juga masih muda." tegur ibu Ira yang baru saja datang.
"Aduh bu gak usah belain mereka deh, kalau mereka memang mau tunda juga itu tidak baik, bukannya banyak anak banyak rezeki ya." balas ibu Tutik.
"Ya memang itu benar ibu, tapikan itu semua terserah sama mereka." balas ibu Ira.
"Iya juga sih Bu, tapi saya itu gak suka gitu kalau ada penganten baru yang menunda momongan, soalnya kan sekarang banyak tuh orang orang yang malah pingin punya anak ehh mereka yang punya peluang besar malah tidak mau." entah kenapa otak ibu Tutik kali ini benar.
"Ya sudahlah bu kita gak usah urusin urusan mereka, biarlah itu menjadi masalah mereka, mending sekarang kalian pilih sayur yang seger seger aja." suruh ibu Ira agar mereka bubar dari kerumunan orang orang bergosip.
"Siap bu RT." balas mereka kecuali ibu Tutik karena dia tidak sudah dengan apa yang ibu RT ucapakan.
-
Sementara itu di dalam rumah Anang, Anang tengah bertempur dengan berbagai peraturan dapur. Kali ini Anang akan membuat tempe penyet sama masak sayur lodeh.
Entah kenapa Anang jadi kepengen makan itu secepatnya, tapi itu masih belum masak.
Selesai masak Anang langsung menatanya di meja makan dan langsung pergi ke kamar untuk membangunkan Dea.
"Sayang bangun yuk, ini udah siang." ucap Anang membangunkan Dea.
"Emmhh ... jam berapa mas?" tanya Dea dengan suara khas orang baru bangun.
"Udah jam enam, ayo cepat bangun aku mau mandi dulu." balas Anang.
"Kok kamu gak bangunin aku sih, inikan udah siang dan aku juga belum masakin kamu sarapan." balas Dea.
Kamu tenang saja, aku sudah masakin makanan buat kita kok." balas Anang sambil mengelus rambut Dea.
"Gimana, apakah masih mau muntah?" tanya Anang menanyakan kondisi tubuh Dea.
"Udah enggak mas, makasih ya kamu sudah mau rawat aku semalam." balas Dea terharu.
"Iya mas, tapi aku pakai kamar mandinya dulu ya buat cuci muka."
"Iya, udah ayo bangun."
Dea pun bangun dari tidurnya dan langsung pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar lebih segar.
"Mas Anang pinter banget sih kalau masak, mana harumnya wangi banget lagi, bikin gak tahan aja." ucap dengan setelah sampai di ruang makan dan mendapati meja makan yang sudah penuh dengan makanan.
Dea duduk di sana dan menunggu Anang yang sedang bersiap di dalam kamar mereka, setelah selesai Anang pun langsung keluar dari kamar menemui Dea.
"Gimana udah kamu coba belum?" tanya Anang duduk di depan Dea.
"Belum kan aku nunggu kamu." balas Dea sambil tersenyum menatap Anang.
"Ya kan kalau nyicip sedikit boleh yang."
"Udah jangan banyak omong, ayo kita sarapan perut aku udah bunyi dari tadi." ucap Dea karena memang sedari tadi dia berusaha untuk menahan tangannya agar tidak menyomot makanan yang ada di depannya.
"Gak sabaran banget sih." balas Anang tapi tak Dea hiraukan.
Dea sibuk mengambilkan Anang makanan dan setelah itu dirinya.
"Gimana, enak gak masakan ku?" tanya Anang.
"Iya mas ini enak banget, boleh dong tiap hari du masakin." puji Dea.
"Apaan sih kamu lebay deh, iya nanti aku masakan kalau aku gak buru buru kerja ya." balas Anang.
"Terimakasih mas." ucap Dea berterima kasih karena Anang sudah baik padanya.
"Sama sama sayang." balas Anang.
Mereka berdua pun makan dengan lahap dan setelah selesai mereka langsung mencuci piring mereka hingga bersih. Dan setelah itu Anang pun pergi menuju tempat kerjanya yang baru.
"Ya Allah mudahkanlah rezeki suami hamba ya Allah." doa Dea mendoakan Anang.
Setelah kepergian Anang Dea seperti biasa langsung bersih bersih dan setelah selesai dia bersantai du ruang tamu sambil memantau barang dagangannya.
"Lah, ternyata ada yg beli. Aku harus segera membungkusnya biar nanti waktu kurirnya ke sini paket sudah siap di antar." Dea sebenarnya tidak menyangka karena dia baru buka toko kemaren dan langsung mendapatkan pembeli.
"Alhamdulillah ya Allah." ucap syukur Dea.
Tak berapa lama setelah Dea menyelesaikan membungkus paket pak kurir pun datang ke rumah Dea.
Dea langsung menyerahnya dan dia kembali masuk ke dalam kamar.
Dea akan memposting sesuatu yang nantinya dapat menarik perhatian orang orang yang ada di kontrak nomornya.
"Semoga dengan cara jualan seperti ini aku bisa membantu keuangan keluarga ini." batin Dea agar dirinya semangat.
Klunting.
Handphone Dea bergetar dan Dea pun langsung mengambilnya, di sana terlihat ada temannya yang du kampung bertanya tentang produk yang Dea posting.
"Loh ini kan Yula." gumam Diandra setelah melihat foto profil nomor itu.
...***...