
"Yang nanti malam kita periksa ke dokter yuk." ajak Anang.
"Emang kamu gak capek mas?" tanya Dea.
"Enggak dong, apalagi kalau mau lihat dedek bayi pasti capek mas langsung ilang." balas Anang.
"Ya sudah nanti sambil nganterin paket ke kantor ya." balas Dea dan di angguki Anang.
Anang terus terusan mendusel duselkan kepalanya di perut Dea, dia mengajak calon anaknya untuk ngobrol sambil terkadang Anang juga memberikan kecupan kecupan kecil di perut Dea.
"Sayang nanti kamu mau anak cowok apa cewek?" tanya Anang mendongakkan kepalanya menatap Dea.
"Kalau aku sih cowok biar nanti bisa jagain adik adiknya." jawab Dea.
"Wah berarti ada kesempatan buat anak lagi nih." canda Anang.
"Ya adalah, kan gak mungkin kita hanya punya anak satu aja, kasian nanti anak kita gak ada temannya." balas Dea.
"Benar juga apa kata kamu sayang."
"Kalau kamu mau anak cewek apa cowok?" tanya Dea.
"Aku sedikasihnya aja yang, mau cewek atau cowok semuanya sama saja yaitu penting kalian harus tetap sehat dan tidak boleh sakit." balas Anang menatap Dea dengan penuh cinta.
"Mas, tidur yuk aku ngantuk." ajak Dea karena memang semenjak dia hamil dia jadi lebih suka tidur.
"Ya udah yuk." balas Anang menuruti permintaan Dea.
Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar setelah mengunci pintu rumah mereka.
Seperti biasa mereka tidur dengan saling memeluk satu sama lain dengan perasaan yang penuh cinta di antara keduanya.
-
Dwi yang sudah sampai rumahnya pun segera mandi dan selesai mandi tak lupa dia memakai serum itu agar payud*** cepat besar.
"Kalau tahu dari dulu efeknya bakal sebagus ini aku bakalan beli." gumam Dwi melihat tubuhnya di dalam cermin.
Dwi mengoleskan serum itu secara merata dan setelah itu dia memijatnya seperti sebelum sebelumnya.
Karena sekarang kondisi rumahnya lagi sepi Dwi pun bebas melakukan apapun tanpa takut ketahuan seperti biasanya.
"Gak terbayang gimana nanti rasanya kalau tangan berotot Kenzo yang mijat ini." gumam Dwi membayangkan kalau tangan Kenzo yang berada di dadanya.
Hampir satu jam Dwi melakukan itu hingga bisa di lihat kalau payu**** miliknya bertambah besar, Dwi pun mencoba br*yang tadi dia beli satu persatu.
"Lah, yang tiga enam kok udah sesak, mana aku tadi belinya banyak yang ukuran tiga enam lagi." gumam Dwi saat mencoba br* ukuran tiga enam sudah tidak muat lagi menampung dadanya.
"Gilak sih ini, mungkin kalau besok aku pakai baju seksi udah bakal keliatan nonjol." lanjut Dwi.
"Aku harus memijatnya lagi biar besok semakin kelihatan besar." lanjutnya dan mengulangi kegiatannya yang tadi.
Sore hari hanya di gunakan Dwi untuk memijat dadanya karena dia sangat terobsesi agar dadanya bisa besar saat besok pergi ke acara pesta ulang tahun Kenzo.
Malam hari saat mendengar kedatangan kedua orang tuanya barulah Dwi mengakhiri kegiatannya, dia merapikan pakaiannya dan berganti dengan br* ukuran tiga delapan yang rasanya juga sebenar lagi akan tidak muat kalau Dwi terus sering sering memijat dadanya.
Setelah rapi Dwi keluar dari kamarnya untuk menyambut kedatangan kedua orang tuanya.
-
Tadi mereka juga sudah mengantarkan paket ke kantor ekspedisi terdekat.
Sampai di rumah sakit Anang dan Dea langsung di persilahkan masuk karena memang tidak antri.
Mungkin nanti lain kali kalau mau periksa kandungan lagi sebaiknya malam hari seperti ini biar tidak antri, orang dokternya juga dua puluh empat jam nonstop bisa melayani pasien.
"Selamat datang ibu, dan bapak, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang dokter perempuan kepada Dea dan Anang.
"Saya ingin mengecek keadaan kandungan saya dok, sekaligus juga ingin mengetahui sudah berapa usia kandungan saya." jawab Dea.
"Baik, apakah sebelumnya pernah melakukan pemeriksaan?" tanya dokter itu lagi.
"Belum dok, ini yang pertama kali, kemaren saya hanya mengeceknya melalui tespek dan ini hasilnya." jelas Dea sambil menyodorkan tespek hasil tes dia kemaren.
Dokter itu menerimanya dan melihat tespek itu.
"Baik bu, kalau di lihat dari sini memang ibu senang mengandung, dan untuk lebih jelasnya lagi silahkan anda berbaring di sana biar saya periksa." ucap dokter itu menyuruh Dea agar berbaring di atas ranjang yang sudah di sediakan di sana.
Dea pun menurut, di bantu Anang Dea naik ke atas bangkar dan berbaring di sana.
Dokter pun mulai melakukan rangkaian kegiatan sebelum dia akan memeriksa Dea dan setelah semuanya siap dokter itu pun mulai memeriksa kandungan Dea.
"Lihat pak, Bu, ini adalah janin ibu, ukurannya masih sebesar biji jagung jadi belum kelihatan jelas." jelas dokter itu.
"Berapa usianya dok?" tanya Anang penasaran.
"Sekitar tiga Mingguan pak." jawab dokter itu dan terus memperhatikan layar monitor yang ada di hadapannya.
"Kami minta di cetak ya dok." pinta Dea.
"Baik bu nanti akan kami cetak." balas sang dokter.
Selesai melakukan pemeriksaan Dea dan Anang duduk kembali di tempat yang tadi dia pakai untuk duduk saat baru sampai di ruangan dokter itu.
"Apakah ada yang ibu keluhkan selama ini?" tanya dokter itu.
"Nafsu makan saya kenapa jadi banyak ya dok, terus terkadang saya juga sering ingin muntah tapi tidak jadi, apakah itu tidak apa apa dok?" tanya Dea menyebutkan keluhannya.
"Semuanya itu normal Bu, nafsu makan meningkat dan mual mual itu sudah biasa terjadi oleh ibu yang sedang hamil." jawab dokter itu.
"Apakah tidak apa apa dok kalau terus terusan makan?" tanya Anang.
"Tidak papa pak, malah lebih buruk lagi kalau ibu tidak mau makan." balas dokter itu.
"Saya sarankan buat bapak harus ekstra sabar dalam menghadapi tingkah laku ibu hamil yang pastinya akan sangat menguras emosi anda, dan juga tolong jangan di biarkan ibu hamil banyak pikiran ya pak." ucap dokter itu memberikan nasihat pada Anang.
"Baik dok." balas Anang.
"Ini saya sudah meresepkan obat pengurang mual dan ada vitamin juga, tolong nanti di makan tepat waktu dan jangan sampai lupa ya Bu." ucap dokter itu lagi memberikan obat pada Dea.
"Emm... dok, apakah kami masih boleh melakukan itu?" tanya Anang tanpa rasa malu.
Sedangkan Dea yang mendengar pertanyaan Anang itupun malu sendiri, ingin rasanya Dea mengubur Anang hidup hidup, kenapa sih Dea harus punya suami yang otaknya seperti ini.
"Bapak tenang saja, kalian masih boleh kok melakukan, tapi jangan sering sering ya, dan jangan mengeluarkannya di dalam." jawab dokter itu membuat Anang lega.
...***...