From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#53



"Bagiamana operasinya dok?" tanya Anang.


"Alhamdulillah pak operasinya berjalan dengan lancar, dan nanti ada orang yang akan membawa ari ari kepada anda, dan ini anak anda." ucap dokter itu memberikan kain putih yang di dalamnya ada calon anak Anang dan Dea yang sudah tidak ada.


Anang menerima itu dengan tangan gemetar, dia sedih karena anaknya belum bisa melihat dunia tapi sudah di ambil lagi oleh sang pencipta.


Anang bisa apa selain menerima ini semua, semua yang ada di dunia ini memang akan kembali ke sang pencipta.


"Terimakasih dok." ucap Anang.


"Kami akan segera membawa ibu ke ruangannya nanti silahkan anda ikuti." ucap dokter itu lagi dan pergi meninggalkan Anang.


"Sayang, tunggu ayah sama ibu di surga nanti ya." ucap Anang kepada anaknya.


Dea di bawa keluar dari ruangan operasi dan Anang pun langsung mengikuti Dea dan masuk ke dalam ruangan Dea.


Para perawat pun membenarkan posisi Dea dan infus Dea, dan setelah itu mereka pergi dari sana.


Anang berjalan menghampiri Dea dan duduk di samping tubuh Dea.


"Sayang." ucap Anang membelai wajah pucat Dea.


Anang meletakkan kain putih itu di samping Dea yang tertidur, dan dia duduk di sampingnya.


"Anak kita sudah bahagia di sana." ucap Anang menahan air matanya agar tidak menetes.


"Kita sekarang berdua lagi, gak jadi hidup bertiga."


"Nanti kalau kamu sudah sadar kamu jangan menangis ya, kami harus kuat dan bisa menerima semua ini." lanjut Anang.


Anang terus mengajak ngobrol Dea hingga larut malam dan Anang tertidur di tempat duduknya dengan kepala yang dia letakkan di samping kain putih tadi.


-


Pagi hari Dea sudah sadar tapi Anang belum cerita apa apa pada Dea soal anaknya yang sudah tidak ada.


"Sayang mas pulang dulu ya mau ambil motor biar nanti kalau pulang pergi mudah gak ribet cari ojek." izin Anang pada Dea.


"Iya mas kamu hati hati di jalan." balas Dea.


"Nanti kalau ada apa apa kamu langsung kabarin mas ya." balas Anang sambil mengecup kening Dea dan di balas anggukan serta senyuman manis oleh Dea.


Anang pulang untuk mengubur anaknya serta ari ari Dea di rumah mereka, kalau untuk anak Anang menguburnya di pemakaman umum dekat rumahnya.


-


Orang tua Dea datang ke Semarang, mereka langsung datang ke rumah sakit yang sudah di kasih tahu oleh Anang.


"Permisi sus ruangan ibu Dea Ayuningtyas di mana ya sus?" tanya ibu Dea pada suster yang kebetulan lewat di depannya.


"Ibu Dea yang habis keguguran?" tanya suster itu pada mereka.


"Iya sus." balas ibu Dea.


"Ibu lurus saja nanti ada ruangan mawar itu ruangan ibu Dea." balas suster itu.


"Terimakasih ya sus." balas ibu Dea.


"Sama sama Bu."


Ibu Dea pun langsung menyeret tangan suaminya pergi menuju kamar rawat Dea, sampai di sana mereka mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke dalam.


Tok tok tok.


"Iya silahkan masuk." balas Dea dari dalam.


"Ibu, bapak." kaget Dea yang melihat keberadaan kedua orang tuanya di sana.


"Dea sayang kamu kenapa bisa seperti ini sih, ibu sama bapak khawatir dari kemaren." ucap ibu Dea memeluk Dea.


"Dea gak papa kok Bu, hanya operasi sedikit saja." balas Dea.


"Gak papa gimana, orang anak kamu sampai gak ada itu lho." balas bapak Dea.


"Maksud bapak?" tanya Dea karena memang dia tidak tahu apa apa.


"Loh ibu sama bapak udah di sini ternyata, kenapa gak telfon Anang dulu biar Anang tadi cepat cepat pergi ke rumah sakit." ucap Anang yang baru memasuki ruangan Dea.


"Kamu dari mana saja Hah, istri sakit malah di tinggal keluyuran." tanya ibu Dea garang.


"Mas Anang tadi udah pamit kok bu sama Dea, dia pergi pulang buat ambil motor agar kalau pulang pergi mudah tidak harus mencari ojek dulu." balas Dea agar ibunya tidak menyalahkan Anang.


"Iya Bu, tadi Anang pulang sebentar buat ambil motor." timpal Anang.


"Ibu sama bapak kok bisa ke sini sih, pasti mas Anang ya yang kasih tahu." tebak Dea.


"Iya, dia semalam malam malam sekali telfon ibu dan ngabarin kalau kamu keguguran makannya ibu sama bapak pagi pagi langsung berangkat ke sini." jelas ibu Dea membuat Dea kaget.


"Maksud ibu apa ya, anak Dea masih ada kok, Dea gak keguguran." elak Dea.


"Sayang kamu mending tidur lagi ya, kan habis minum obat harus kamu istirahat." ucap Anang agar Dea lupa dengan apa yang ibunya tadinya ucapakan.


"Ibu sih, bapakkan tadi sudah bilang jangan banyak bicara nanti kalau di depan Dea." ucap bapak Dea menyenggol lengan ibu Dea.


"Ya maaf pak, kan ibu gak tahu, ibu kira Dea udah tahu kalau anaknya udah gak ada." balas ibu Dea.


"Mas, apa benar yang ibu bilang itu, anak kita udah gak ada?" tanya Dea pada Anang.


"Kamu yang tenang ya, anak kita sudah berada di surga menunggu kita berdua." balas Anang menarik Dea ke dalam pelukannya.


"Enggak mas kamu bohong, kamu bilang tadi aku cuma operasi kecil saja." tak percaya Dea.


"Sayang dengerin mas, kami harus tenang ya, kamu ikhlaskan kepergian anak kita biar dia tenang di sana." balas Anang memeluk Dea.


"Enggak mas, enggak. Anak Dea masih ada hiks hiks hiks...." tangis Dea dalam pelukan Anang.


Dea merasa sedih dan syok karena anak yang dia tunggu tunggu malah pergi meninggalkan dirinya untuk selama lamanya, Dea merasa gagal menjadi seorang ibu karena tidak bisa menjaga anaknya.


"Bu tolong panggilkan dokter." pinta Anang pada ibu mertuanya.


"Baik nak." balas ibu Dea dan langsung pergi memanggilkan dokter.


"Enggak mas, enggak. Dia belum pergi." ucap Dea sambil menangis sesenggukan.


"Aku gagal mas, aku gagal menjadi seorang ibu hiks hiks, aku gagal."


"Ssttt... udah ya tenang, kamu baru sembuh jangan seperti ini." ucap Anang agar Dea tenang.


"Permisi pak, ada apa ini?" tanya dokter yang baru datang bersama ibunya Dea.


"Ini dok." balas Anang menunjuk Dea yang berada dalam pelukannya yang masih menangis histeris.


"Baik pak." dokter itu pun langsung menyuntikkan sesuatu kepada tubuh Dea dan lama kelamaan Dea mulai tenang tenang dan akhirnya tertidur.


"Terimakasih dok."


"Sama sama pak, kalau begitu saya permisi dulu nanti kalau obatnya sudah habis pasien akan sadar dengan sendirinya." balas dokter itu dan pergi dari sana.


...***...