
Anang sudah mengajukan tuntutan buat ibu Tutik dan akan segera di proses oleh polisi, setelah dari kantor polisi Anang mengajak pak Dadang pergi keluar toko miliknya Anang.
"Kita mau kemana Nang?" tanya pak Dadang.
"Anang mau mengajak bapak pergi ke toko milik Anang yang baru buka pak." jawab Anang.
"Ooh ayo kalau begitu, bapak juga pengen lihat." balas pak Dadang.
Anang pun melajukan motornya membelah jalanan Semarang yang tidak terlalu ramai karena sekarang masih jam kerja dan anak sekolah juga belum waktunya pulang jadi jalan lengang.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam akhirnya mereka pun sampai di depan toko milik Anang.
"Ini toko kamu Nang?" tanya pak Dadang.
"Iya pak, ayo kita masuk." ajak Anang.
Anang pun membuka tokonya dan masuk ke dalam di ikuti pak Dadang.
"Wah tokonya besar ya Nang, bapak gak nyangka kalau anak bapak bisa memiliki suami seperti kamu." kagum pak Dadang.
"Bapak ngomong apa sih, ini semua juga berkat bantuan Dea juga, kami merintisnya sama sama pak." balas Anang.
"Terus tempatnya ini juga Anang masih pinjam punya Abang Anang." lanjut Anang.
"Tapi tetap saja bapak bangga sama kamu, karena kamu yang bisa mengelola semuanya." balas pak Dadang.
"Terimakasih pak, doakan Anang dan Dea agar bisa sukses seperti orang orang."
"Bapak dan ibu selalu mendoakan kalian berdua agar selalu hidup bahagia dan sehat." balas pak Dadang.
Anang menggajak pak Dadang untuk mengelilingi toko miliknya dan setelah itu dia dan pak Dadang memutuskan untuk pulang ke rumah sakit lagi.
-
Sementara di tempat tinggal Dea, semua warga di hebohkan dengan adanya beberapa polisi yang datang ke rumah ibu Tutik dan membawanya pergi ke kantor polisi.
"Pak saya tidak salah, ini fitnah." ucap ibu Tutik meminta untuk di lepaskan.
"Nanti bisa anda jelaskan di kantor." jawab pak polisi yang membawa ibu Tutik.
"Pa, tolong mama pa, papa harus bawa pengacara papa buat bebasin mama pa." ucap ibu Tutik meminta pertolongan pada suaminya.
Pak Suswanto hanya diam saja memandangi kepergian istrinya yang di bawa mobil polisi.
Sementara itu para warga sekitar terutama ibu ibu mereka pada bergosip menggosipkan ibu Tutik.
"Jahat banget ya ibu Tutik, saya kita ibu Tutik sudah tobat dan berteman dengan mbak Dea, ehh taunya malah menusuk dari belakang." ucap ibu Marni yang kali ini menjadi biang gosip ibu Tutik.
"Benar Bu, kita semua juga gak ada yang menyangka kalau ibu Tutik akan sejahat ini." setuju yang lain.
Sementara itu ibu Iva, dan teman satu geng ibu Tutik pun tidak berani keluar dari rumah mereka, karena mereka takut akan terkena imbasnya juga.
"Sudah ibu ibu ayo kita bubar, di rumah ibu ibu ada pekerjaan yang lebih penting lagi dari pada bergosip." ucap ibunya Iva selaku ibu RT agar warganya tidak saling menggunjing satu sama lain.
"Hah, iya benar aku tadi masak air lupa kompornya belum aku nyalakan."
"Sepertinya nasiku tadi jugalah lupa aku colokkan."
Dan banyak lagi keluhan warga yang lainnya.
Mereka semua pun bubar dan pulang ke rumah mereka masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan rumah mereka yang tertunda karena adanya kedatangan polisi.
-
Anang yang mendapatkan kabar kalau ibu Tutik sudah di tangkap pun sedikit lega, tapi dia masih belum sepenuhnya lega sebelum keputusan sidang nanti.
Anang takut kalau nanti pak Suswanto selaku suami dari ibu Tutik membantu membebaskan ibu Tutik dari sana.
Tok tok tok.
"Permisi kami akan memeriksa pasien." ucap dokter beserta suster yang datang menghampiri ruangan Dea.
"Mari dok silahkan masuk." balas Anang.
Dea pun langsung di bantu Anang untuk berbaring kembali dan setelah itu dokter pun langsung memeriksa keadaan Dea.
"Bagiamana dok?" tanya Anang.
"Alhamdulillah perkembangan cukup baik, nanti kalau ibu Dea sudah lancar berjalan ibu bisa pulang lebih cepat." jawab dokter itu.
"Beneran Dok?" tanya Dea antusias karena dia sudah merasa bosan di sana.
"Kalau begitu kami permisi pergi dulu karena masih ada pasien yang harus kami periksa." pamit dokter itu.
"Baik dok terimakasih." balas Dea dan Anang.
"Ayo mas ajarin aku jalan biar aku cepat pulang, aku sudah bosan di sini." pinta Dea pada Anang.
"Iya sayang, sini mas bantu turun." balas Anang dan langsung membantu Dea untuk turun dari ranjang.
Anang pun dengan sabar mambantu Dea untuk belajar jalan, kadang Dea harus meringis merasakan sakit di area perutnya yang ada bekas operasi.
Ingin rasanya Dea menyerah, tapi dia ingat kalau dia harus cepat cepat pulang selain karena dia bosen dia juga takut kalau terlalu lama di rumah sakit nanti biayanya akan semakin besar.
Setelah lama belajar jalan akhirnya Dea pun sudah mulai bisa berjalan sendiri, dia berjalan mondar mandir di dalam ruangannya dengan Anang yang selalu mengawasinya.
"Yeee aku bisa mas." senang Dea.
"Iya tapi pulangnya besok aja, sekarang udah malam." balas Anang.
"Isss...." Dea mencabikkan bibirnya.
"Gak usah protes, dah sana tidur udah malam biar besok bisa bangun pagi." suruh Anang.
"Iya iya." kesal Dea.
Dea pun berjalan menuju bangkarnya kembali hendak berbaring di sana.
"Auww...." ringis Dea.
"Sayang kamu kenapa?" panik Anang berlari menghampiri Dea.
"Tapi boong, hahaha...." tawa Dea karena berhasil mengeprank Anang.
"Awas ya kamu nanti." geram Anang dan langsung menggendong Dea dan meletakkannya di atas bangkar.
"Auw sakit mas." ringis Dea kali ini beneran.
"Hehehe maaf, mas lupa." cengir Anang.
"Ibu sama bapak beneran gak ke sini lagi mas?" tanya Dea karena sejak ibu dan bapaknya pamit pulang ke rumah Dea dan Anang mereka tidak kembali lagi.
"Mungkin iya, sudahlah biar mereka bisa istirahat dengan nyenyak juga, kasian beberapa hari ini mereka kurang tidur." balas Anang.
"Kamu tidur di sini ya mas." pinta Dea agar Anang tidur satu bangkar dengannya.
"Jangan ngaco kamu yang, mana muat aku di sini."
"Muat mas, nih coba deh." pinta Dea menyingkir sedikit agar Anang tidur di sampingnya.
Mau tak mau Anang pun tidur di samping Dea, mereka berdua tidur berdekatan karena memang kondisi ranjang yang sempit.
"Peluk mas." pinta Dea, karena merindukan pelukan Anang.
"Iya sini aku peluk." balas Anang dan memeluk Dea dari belakang seperti saat Dea waktu hamil dulu.
"Biasanya kamu selalu mengelus perut aku kalau malam, sekarang sudah hak bisa lagi." ucap Dea.
"Kata siapa, ini bisa." balas Anang dan tangannya mengelus perut Dea.
"Tapi gak ada dedeknya." cemberut Dea.
"Nanti kalau kami sudah sembuh kita buat lagi." balas Anang santai.
"Ngaco kamu."
"Lah kan benar, masak aku salah."
"Iya iya kamu benar aku yang salah."
"Nah begitu lebih baik." balas Anang yang membuat Dea kesal.
Mereka terus berbicara hingga akhirnya Dea tertidur dan Anang pun menyusul tidur Dea.
Mereka terlihat sangat romantis, sudah lama kedua orang itu tidak tidur barengan seperti ini semenjak Dea masuk rumah sakit.
Anang yang memeluk Dea dari belakang dan Dea yang menggenggam tangan Anang yang memeluknya.
...*** ...