
Hari pun sudah sore, Anang sekarang sedang berada disebuah apotek untuk mencari obat yang Dea share kepadanya.
"Ada yang bisa saya bantu mas?" tanya mbak mbak apoteker kepada Anang.
"Saya mau cari ini mbak." jawab Anang menunjukkan layar handphonenya kepada mbak itu.
"Mau beli berapa mas?" tanya mbak itu lagi setelah melihat barang yang Anang cari.
"Dua saja mbak." jawab Anang.
Entah kenapa Anang kepikiran untuk membeli dua sekaligus, padahalkan satu saja sudah cukup bahkan juga tidak mungkin akan cepat habis. Apakah Anang kepikiran karena dia akan lebih sering melakukan....
Kalian tahu sendirilah apa jawabannya.
"Ini mas, apakah ada lagi?" tanya mbak itu sambil menyerahkan dua buah obat salep pada Anang.
"Tidak mbak, itu saja." balas Anang.
"Totalnya 25 ribu mas."
Anang pun segera membayarnya dan setelah itu dia cabut pergi dari sana. Anang melihat pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah pukul setengah lima. Dia teringat kalau kemaren Dea ingin makan nasi kucing, jadi Anang pun berinisiatif untuk membelikan nasi kucing untuk Dea sebagai oleh oleh saat pulang kerja.
Setelah mendapatkan nasi kucing, Anang langsung pulang menuju rumahnya tidak lagi mampir ke mana mana.
"Assalamualaikum sayang." salam Anang saat memasuki rumahnya.
"Waalaikum salam mas, kamu baru pulang? kok tumben sih, bukannya biasanya kamu pulang jam 4 ya?" tanya Dea menyambut kedatangan Anang.
"Iya kan tadi aku harus cari obat ini dulu, terus sama sekalian aku beliin ini buat kamu." Anang menggangkat kantong kresek yang ada di tangannya ke hadapan wajah Dea.
"Wah apaan itu." penasaran Dea.
"Yuk ke meja makan, kamu pasti belum makan kan?" ajak Anang menyeret tangan Dea pergi menuju meja makan.
Sampai di sana Anang menyuruh Dea untuk duduk, dan dia langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan piring dan peralatan makan yang lainnya.
"Taraa... nasi kucing siap di santap." ucap Anang sambil kedua tangannya penuh dengan makanan.
"Astaga mas ini kamu beneran beliin aku nasi kucing, padahal kan bisa lain kali aja belinya." Dea tidak menyangka kalau Anang akan seperhatian ini kepadanya.
Baru kemaren Dea bilang pingin nasi kucing dan dia gagal mendapatkannya, ehh sekarang malah di beliin oleh Anang. Kan Dea jadi makin cinta cinta cinta sama Anang.
"Mumpung aku masih ingat jadi ya aku beliin. Nih cobain, katanya kamu belum pernah makan kan." suruh Anang.
"Aaa...." Anang menyodorkan satu sendok nasi kucing beserta sambal kepada Dea.
"Ini cuma sama sambal aja, terus ini buat apa?" tanya Dea heran.
Masak iya Anang memberikannya makan cuma lauk sambal doang, terus itu sate usus dan lainnya mau buat apa.
"Cara makannya itu gini loh yang, kamu makan dulu nasi sama sambalnya terus habis itu makan satenya." kasih tahu Anang.
Anang malah memakan nasi yang tadi akan dia berikan kepada Dea. Dan mencontohkannya kepada Dea bagaimana cara makan dengan benar.
"Dih mau gimana pun juga sama aja. Mau sate dulu terus nasi atau seperti kamu itu juga rasanya sama." balas Dea dan mulai makan nasi kucing miliknya sendiri.
"Iih kamu ini, orang aku biasanya gitu kok kalau makan."
"Ya itu kan kamu bukan aku, kalau aku ya gini. Udah ahh kamu diam, aku mau makan ini dulu." ucap Dea agar Anang tidak banyak ngomong lagi.
"Ya udah makan yang banyak ya, aku jadi gak jadi suapin kamu."
Mereka pun makan dengan tenang. Dea sangat menikmati makanan yang ada di hadapannya ini. Bahkan dia rasanya ingin nambah. Milik Dea yang sudah habis duluan dari pada milik Anang pun membuat mata Dea melirik milik Anang.
"Kenapa, masih kurang?" tanya Anang yang menyadari kalau Dea tengah menatap makanannya.
"Emang boleh?" Balas Dea.
"Boleh dong sayang, ini kamu makan aja biar aku makan nasional yang ada di rumah." Anang memberikan nasi kucing miliknya kepada Dea.
"Makasih sayang." Balas Dea dan di balas senyuman oleh Anang.
Tadi sebenarnya Anang akan membeli tiga bungkus, tapi karena takut nanti gak kemakan jadi Anang hanya membeli dua bungkus saja. Dia berfikir nanti kalau Dea emang kurang bisa makan miliknya, maka dari itu tadi Anang makannya sangat pelan biar nanti kalau punya Dea habis Dan ingin lagi bisa makan miliknya seperti sekarang ini.
Sebenarnya nasinya Samarinda aja sih dengan nasi nasi pada biasanya. Tapi Dea sangat menyukai rasa sambalnya. Dan karena sambalnya itu tempatnya di jadikan satu dengan nasi maka ya kalau mau sambal itu juga harus dengan nasinya. Mana satu bungkus cuma sedikit lagi, jadi ya gak ada salah kalau Dea akan kurang jika satu porsi saja.
-
Malam hari Anang sudah selesai membantu Dea mengobati area intinya. Dan sekarang Anang tengah bermain game sambil tiduran berbantalkan paha Dea.
"Yang kamu setuju gak nanti kalau aku buka usaha sendiri." ucap Anang sambil fokus main game.
"Emang kamu mau buka usaha apa mas?" tanya Dea.
"Makanan mungkin, atau bisa yang lainnya juga." jawab Anang.
"Aku setuju saja apa yang mas Anang inginkan. Aku hanya bisa berdoa semoga nanti rezeki kamu di lancarkan sama Allah."
"Terimakasih sayang, jangan lupa ya untuk selalu mendoakan mas ya biar rezekinya di lancarkan. Karena doa kamu itu sangat berarti untuk mas."
"Iya mas, aku selalu mendoakan kamu kok tanpa kamu suruh sekalipun." balas Dea.
"Terimakasih sayang."
"Yah yah yah, kalah deh." ucap Anang karena dia kalah dalam bermain game di handphonenya.
"Kenapa kalah?" tanya Dea dan di balas anggukan oleh Anang.
"Makanya, orang ada istrinya di sini kok di anggurin, malah di tinggal main game." sindir Dea.
"Ooh gitu, ya udah sini biar s*s* kamu aja yang aku mainin." Anang bangkit dari tidurnya dan menatap Dea.
Hal itu membuat Dea merinding, Dea menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Kenapa di tutupin, sini katanya tadi aku anggurin kamu." ucap Anang yang sudah membuang handphonenya ke ranjang di sebelahnya.
"Kamu apaan sih mas, itu aku aja masih belum sembuh." balas Dea agar Anang tidak melanjutkan keinginannya.
"Apa hubungannya Dea s*s* kamu, kan s*s* kamu di atas, sedangkan yang lecet itu du bawah." balas Anang tak mau kalah.
"Ya sama aja, nanti kalau kamu lepas kontrol gimana, emang kamu mau main di kamar mandi?"
"Iya juga sih, soalnya aku kalau udah mulai gak bakal bisa berhenti."
"Nah itu tahu."
"Aaa...." rengek Anang memeluk Dea manja.
...***...