From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#59



Hari pun terus berlalu, ibu Tutik sudah mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang sudah dia lakukan.


Saat ini Dea dan Anang fokus memperbesar toko Anang dan juga memperbanyak penjualan produk CISA dari Dea.


Mereka berdua Alhamdulillah sekarang sudah bisa membeli rumah baru yang lebih besar dari sebelumnya, dan juga mereka juga sudah mempunyai mobil baru.


"Sayang kemeja putih aku dimana?" teriak Anang dari dalam kamarnya.


"Astaga, bisa gak sih sekali aja gak teriak teriak mas, perasaan tadi udah aku siapin semuanya deh." kesal Dea yang berada di dapur.


Dea pun langsung pergi ke kamarnya untuk melihat apa yang sudah Anang lakukan di dalam kamar mereka.


"Apa?" garang Dea menatap Anang tajam saat sampai di kamar.


"Hehehe gak jadi, tadi aku gak liat kalau udah ada di ranjang." cengir Anang karena takut menatap wajah garang Dea.


"Terus aja seperti itu sampai entong ini melayang di kepala kamu." garang Dea.


"Ampun yang, aku kan cuma becanda." balas Anang takut.


"Bercandamu kebangetan mas." balas Dea.


"Sayang maaf, jangan marah." rengek Anang memegang tangan Dea.


"Udah lah mas aku mau masak." ucap Dea dingin.


"Sayang...." rengek Anang tapi tak di hiraukan oleh Dea.


Dea pergi meninggalkan Anang di kamar mereka, Dea sudah capek-capek bangun pagi menyiapkan semuanya ehh malah Anang teriak sana teriak sini, minta inilah itulah, pokoknya ada saja alasan Anang buat mengganggu Dea.


Dea pergi ke dapur untuk melanjutkan kegiatan memasaknya yang sudah tertunda gara gara Anang.


Sementara itu Anang yang berada di kamar pun menangis, dia menangis karena Dea sudah mengabaikannya.


"Hiks hiks." Tangis Anang sesenggukan dengan kepala yang dia sembunyikan du di bawah bantal.


Anang belum memakai kemejanya, dia masih memakai kaos lengan pendek yang menutupi tubuh bagian atasnya.


"Hiks hiks hiks." tangis Anang.


Anang terus menangis di dalam kamarnya hingga tertidur kembali.


Dea yang merasa aneh karena Anang tidak keluar keluar dari kamar pun mencari keberadaan Anang di dalam kamar.


"Mas, kami udah siapin apa belum?" tanya Dea saat memasuki kamarnya.


"Astaga mas, kenapa kamu malah tidur lagi sih." kesal Dea menghampiri Anang yang tiduran di ranjang.


Dea berjalan menghampiri Anang dan menggambil bantal yang menutupi kepala Anang.


"Mas ayo bangun kamu harus pergi ke toko." ucap Dea membalikkan tubuh Anang yang tidur tengkurap.


"Mas, kami habis nangis?" tanya Dea pada Anang yang masih belum bangun.


"Cengeng banget sih sekarang." ucap Dea lagi.


"Sayang, ayo bangun kami harus pergi keluar toko loh." ucap Dea membangunkan Anang dengan lembut sambil mengelus pipi Anang agar Anang bangun.


"Hiks hiks maaf." Tangis Anang lagi saat baru bangun.


"Iya aku udah maafin kok, lain kali jangan gitu lagi ya, kan aku juga cepek mas harus bolak balik dapur kamar." balas Dea mencoba memberikan Anang pengertian.


"Iya, tapi aku di maafin kan?" tanya Anang.


"Iya di maafin kok." balas Dea sambil tersenyum.


"Udah yuk bangun, ini udah siang loh kamu harus berangkat ke toko." lanjut Dea dengan lembut agar Anang tidak banyak tingkah lagi.


"Pakaian bajunya." pinta Anang.


"Iya sini aku bantu." balas Dea.


Seperti itulah kegiatan Dea sekarang setiap pagi, Anang yang selalu banyak tingkah dan Dea yang harus bolak balik kamar ke dapur, mana sekarang posisi kamar dan dapur di rumah barunya berjauhan lagi, jadi semakin capek Deanya.


-


Sesuai apa yang Dea katakan waktu itu, kalau dia akan berkunjung ke Malang membawa uang yang banyak untuk orang tuanya.


Dea membawakan banyak oleh oleh dari Semarang, tak lupa juga Dea membawa ampau banyak buat keponakan keponakannya nanti di Malang.


"Gak ada yang ketinggalan kan yang?" tanya Anang pada Dea yang tengah duduk di sampingnya.


"Gak ada kok mas, semuanya sudah kebawa." Jawab Dea.


"Ya sudah, takutnya nanti waktu sampai sana malah ada yang tertinggal." balas Anang.


"Kamu tenang aja, kan aku sudah menyiapkan semuanya dari jauh jauh hari jadi aman." balas Dea.


"Iya deh percaya sama istriku yang cantik ini." balas Anang.


"Harus dong."


Mereka bercanda dalam mobil agar tidak terlalu sepi hingga mereka sampai di Malang banyak keluarga dan kerabat Dea yang menyambut kedatangan Dea.


"Mbak Dea." ucap heboh adik Dea menyambut kedatangan Dea.


Adik Dea langsung memeluk tubuh Dea dengan erat karena saking kangennya.


"Wah adik mbak ternyata sudah besar ya sekarang." ucap Dea pada adiknya.


"Iya song harus, kan setiap hari di kasih makan sama ibu." balas adik Dea.


"Sudah yuk masuk, kasian mereka pasti capek setelah perjalanan jauh." ajak pak Dadang yang mengerti dengan kondisi Dea dan Anang.


Mereka semua pun masuk ke dalam rumah orang tua Dea dan berbincang bincang di dalam sana sama Dea dan Anang, mereka banyak bertanya tentang kehidupan Dea di Semarang.


Dea yang memang orangnya baik hati pun menjawab dengan sabar pertanyaan mereka satu persatu.


Dea juga membagikan ampau untuk anak anak kecil yang ada di rumahnya, dan hak itu membuat anak anak yang ada di sana pun senang bukan main.


Tak hanya anak anak, Dea juga memberikan oleh oleh makanan khas Semarang kepada para orang orang yang ada di sana dan mereka pun menerima dengan senang hati pemberian Dea.


"Dea ada kejutan buat kalian semua, terutama buat kamu mas." ucap Dea kepada mereka semua.


"kejutan apa yang, perasaan kita udah keluarkan semua oleh olehnya?" heran Anang.


"Tara...." Dea mengeluarkan tespek dan juga beberapa foto Rontgen dari dalam tasnya.


"Yang kamu...."


"Iya mas aku hamil." ucap Dea membuat Anang langsung memeluk Dea dengan erat.


"Terimakasih sayang, terimakasih." ucap terimakasih Anang sambil memberikan kecupan bertubi-tubi di seluruh wajah Dea karet saking senangnya.


"Alhamdulillah, selamat ya nak, di jaga baik baik kandungannya agar tidak terjadi hal hal yang buruk." ucap ibu Santi.


"Iya Bu." balas Dea.


Mereka semua yang ada di sana pun mengucapkan selamat dan ikut senang juga, karena mereka tahu bagaimana cerita Dea dulu saat keguguran anak pertamanya.


"Terimakasih sayang, kamu sudah memberikan kehidupan yang berwarna buatan mas, dan terimakasih karena kamu mas bisa merasakan apa artinya keluarga."


"Mas sayang sama kamu. I love you." ungkap Anang.


"I love you too mas Anang." balas Dea.


Mereka berdua pun berpelukan kembali untuk saling menggungkapkan rasa cinta mereka berdua satu sama lain.


Inilah cerita perjalanan Anang dan Dea, mereka berdua berhasil melewati lika liku kehidupan.


Ini bukan akhir dari sebuah cerita, tapi ini adalah awal dari segala.


...~TAMAT ~...


Terimakasih buat kalian semua yang sudah setia membaca cerita ini sampai sini. Jangan lupa baca cerita author yang lainnya ya, di jamin gak kalah seru dari yang lain.


Oh iya tinggalkan komentar kalian di sini ya biar aku tahu ini ada yang baca apa enggak, kalau gak ada yang aku tidak jadi ngasih giveaway buat kalian 😂


Aku tunggu komentar kalian sampai tanggal 2 Oktober ya🥰


Sampai juga di cerita aku yang lain🥰🥰🥰