From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#58



"Kenapa?" tanya Dwi karena mereka semua menatapnya.


"Hah, enggak kok gak papa." balas pak Suswanto.


"Oh." udah segitu saja balasan dari Dwi.


Kenapa tadi mereka bilang tidak ada apa apa padahal dalam hati mereka bilang kalau Dwi aneh karena tidak ada yang lucu tiba tiba dia tertawa sendiri.


Mereka takut kalau nanti salah ngomong Dwi akan nangis dan akan sangat susah sekali menenangkannya, itu semua terjadi karena faktor kehamilan Dwi.


Mereka semua berbincang bincang hingga sore hari barulah mereka pamit pulang, dan tak lama setelah kepergian mereka Dea bangun dari tidurnya.


"Mas." pangil Dea pada Anang yang tengah berada di depan cermin meja rias Dea.


"Loh kamu udah bangun yang, mau mandi gak ini udah sore?" tanya Anang.


"Enggak mas, kan aku masih belum boleh mandi." jawab Dea.


"Ya sudah sana kamu cuci muka, katanya mau pergi ke makam anak kita." ajak Anang mengingatkan.


"Oh iya mas, untung kamu ingetin aku hampir aja lupa." balas Dea.


"Ya sudah ayo siap siap udah sore ini." ajak Anang.


"Iya mas." balas Dea.


Dengan berjalan pelan Dea pergi le kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan bergosok gigi.


Dea tidak mandi karena masih belum di perbolehkan oleh dokter sebab takut luka bekas operasi yang belum kering akan terkena air nantinya.


"Yuk mas." ajak Dea pada Anang setelah dia selesai bersiap.


"Ayo." balas Anang.


Mereka berdua pun keluar dari kamar dan mendapati kedua orang tua Dea yang juga sudah berpakaian rapi seperti mereka.


"Loh ibu sama bapak mau kemana?" tanya Dea pada mereka berdua.


"Ibu sama bapak mau ikut yang, kan mereka juga pengen lihat makam cucu mereka." jawab Anang.


"Oh, ya sudah ayo kita pergi." ajak Dea.


Mereka berempat pun pergi berjalan kaki menuju pemakaman umum karena memang lokasinya tak jauh dari rumah Anang.


Sampai di pemakaman Anang langsung membawa mereka ke tempat dimana dia menguburkan calon anaknya.


"Mana mas?" tanya Dea tidak sabaran.


"Itu." tunjuk Anang pada sebuah tanah yang terlihat seperti habis galian yang di tandai sebuah batu.


Dea yang melihat itu pun langsung berjongkok dan menatap makam itu dalam.


"Nak, ini mama, kamu tunggu mama di sana ya, maafkan mama yang belum bisa jadi mama yang baik buat kamu." ucap Dea dalam hati.


Lama mereka ada di sana hingga menjelang magrib barulah Anang mengajak mereka pulang.


"Ayo kita pulang, ini udah mau magrib." ajak Anang pada Dea dan kedua orang tuanya.


"ayo." balas mereka bertiga.


Mereka pun akhirnya pergi dari sana menuju rumah Anang dan Dea.


-


Malam hari mereka berempat makan bersama di rumah Anang, tadi karena mereka tidak sempat untuk masak jadi Anang menggunakan go food untuk memesan makan malam mereka berempat.


"Nak, ibu sama bapak besok mau pulang ya." izin ibu Santi pada Anang dan Dea.


"Loh kenapa pulang Bu, kalian di sini aja lah biar kalau mas Anang pergi ke toko Dea ada temennya di rumah." balas Dea menahan agar ibu dan bapaknya tidak pulang.


"Kalau kita di sini siapa yang akan merawat tanaman bapak di Malang De, kakak kakakmu juga sudah pada sibuk sama urusan mereka." balas pak Dadang.


"Ya kan bisa bayar orang pak." balas Dea santai.


"Kalau bayar orang itu mahal, terus juga harus di awasi langsung biar tetap berjalan lancar." balas ibu Santi.


"Iya juga sih pak, tapi kan Dea masih kangen sama kalian."


"Ya kalau kalian kangen main lah ke Malang, kalian juga sudah lama tidak berkunjung ke Malang." balasan ibu Santi.


"Ya udah bu, nanti kapan kapan Dea sama mas Anang akan datang ke Malang bawa uang yang banyak buat ibu." balas Dea.


"Siap ibu tunggu kabar dari kalian." balas ibu Santi.


"Kamu ini ada ada saja De, kamu sama Anang datang ke sana saka ibu sama bapak sudah senang." lanjut ibu Santi.


"Iya Bu, Dea tadi cuma becanda kok, lagian Dea mana ada uang banyak." balas Dea.


"Makanya ayo semangat cari uangnya yang biar bisa punya uang banyak, punya mobil pribadi, dan punya rumah yang lebih besar." balas Anang yang sedari tadi hanya diam.


"Aamiin." balas Dea, ibu Santi Dan juga pak Dadang kompak.


"Dih kompak bener orang tua sama anak." balas Anang.


"Harus dong, ya gak buk, pak?"


"Yoi." balas kedua orang tua Dea kompak.


"Udah cepat habiskan makanannya, nanti keburu dingin." suruh Anang pada mereka.


" Baik tuan." kompak mereka bertiga lagu yang membuat Anang menggelengkan kepalanya.


Mereka berempat pun makan dengan tenang, dan setelah selesai mereka berempat pergi keluar kamar mereka masing-masing untuk tidur karena hari sudah larut malam.


-


Paginya harinya kedua orang tua Dea sudah bersiap untuk pulang ke Malang, Dea dan Anang mengantarkan mereka sampai di depan rumah saja karena memang pak Dadang membawa motor sendiri dari Malang.


"Ibu sama bapak hati hati ya di jalan, Dea titip salam buat keluarga yang di Malang, doakan Dea Dan mas Anang agar bisa cepat berkunjung ke sana." ucap Dea pada ibu Santi dan pak Dadang.


"Iya nak ibu sama bapak akan hati hati, kalian di sini baik baik ya, Anang jagain anak ibu ya, kalau dia bandel jewer aja kupingnya." balas ibu Santi membuat Dea cemberut.


"Nanti pasti waktu ibu datang kakak kakak mu akan langsung memberondong ibu dengan banyak pertanyaan mengenai kalian di sini." lanjut ibu Santi.


"Ayo bu berangkat nanti keburu siang." ajak pak Dadang.


"Iya pak." balas ibu Santi.


"Nang bapak pulang dulu ya, jagain Dea dengan baik dan jangan lupa buatin cucu buat bapak lagi." pamit pak Dadang pada Anang.


"Siap pak, bapak tunggu saja kabarnya." balas Anang.


"Dasar sama aja." ucap ibu Santi dan Dea.


"De bapak pulang dulu ya, kamu yang nurut sama suami jangan membantah." pamit pak Dadang pada Dea.


"Iya pak, bapak hati hati bawa motornya." balas Dea.


"Iya nak." balas pak Dadang.


Akhirnya ibu Santi dan pak Dadang pun pulang, dan setelah motor pak Dadang takut terlihat lagi Dea dan Anang pun masuk ke dalam rumah mereka kembali.


"Mas kamu kapan mulai buka toko lagi, kamu udah lama loh gak buka toko?" tanya Dea pada Anang.


"Mungkin hari ini yang, kamu gak papakan kalau mas tinggal sendiri?" tanya Anang.


"Iya mas gak papa kok, Dea janji akankah jaga diri baik baik." balas Dea mengizinkan Anang untuk pergi.


"Ya sudah kalau gitu mas siap siap dulu." Anang pun pergi ke kamar dan berganti pakaian untuk pergi kerja.


Sedangkan Dea, dia pergi ke dapur untuk mencuci piring dan peralatan yang lainnya.


Hari ini semuanya di mulai seperti dulu lagi, Dea yang sibuk jualan online dan Anang yang sibuk berjualan di toko miliknya.


Mereka berdua sama sama sibuk mencari uang untuk mengubah hidup mereka agar tidak di pandang rendah oleh orang lagi.


...***...