From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#48



Ada yang lebih kaget dari teman teman Dwi dan Kenzo, yaitu Dea dan Anang. mereka berdua kaget melihat keberadaan ibu Tutik dan pak Suswanto di sana.


"Mas ini sebenarnya acara apa sih?" tanya Dea pada Anang.


"Aku juga gak tahu yang." balas Anang yang sama bingungnya.


"Udah kita lihat saja nanti ada apa selanjutnya." lanjut Anang dan di angguki Dea.


Mereka berdua pun menatap orang orang yang ada di hadapan mereka berdua.


"Papa sama mama kok bisa ada di sini?" tanya Dwi pada ibu Tutik dan pak Suswanto.


"Ya bisa dong, kan papa kamu mau jadi wali nikah kamu." jawab ibu Tutik.


"Ini sebenarnya gimana sih, kok aku bingung?" bingung Dwi.


"Sudah nanti saja akan di jelaskan oleh Kenzo, mari kita lakukan prosesi akad nikah dulu soalnya penghulunya mau ada acara lain lagi." ucap pak Kenan.


Meskipun bingung dan tidak mengerti tapi Dwi tetap mau menikah dengan Kenzo karena menikah dengan Kenzo sebenarnya juga salah satu dari keinginannya.


Prosesi akad nikah pun selesai, mereka berdua sekarang sudah sah menjadi suami istri, dan para tamu undangan pun sudah pada pulang termasuk sahabat Dwi dan Kenzo.


Sekarang hanya tinggal keluarga inti dan yang pastinya ada Dea dan juga Anang di sana.


"Mbak Dea sama mas Anang kok bisa ada di sini?" tanya ibu Tutik kepada Dea dan Anang.


"Kamu kenal dengan mereka Tut?" tanya pak Kenan.


"Iya Ken, mereka ini tetangga baru kami." balas pak Suswanto.


"Ooh begitu, ternyata dunia ini beneran selebar daun kelor ya." balas pak kenan.


"Pa, ma Ken ajak Dwi ke kamar dulu ya." pamit Kenzo pada orang tua dan juga mertuanya.


"Cieee yang udah gak sabar, ingat Ken kalian masih kuliah." balas pak kenan yang sudah tidak di hiraukan oleh Kenzo.


Kenzo pergi membawa Dwi ke dalam kamar yang tadi.


"Gimana Nang, apa kamu beneran tertarik mau buka toko di tempatmu?" tanya pak kenan pada Anang.


"Iya pak Anang yakin." jawab Anang.


"Ya sudah habis ini kalian ikut saya sama Istri saya ke tempat pengambilan barang barang." balas pak kenan.


"Baik pak." balas Anang.


"Besan kalau gitu kami pamit pulang dulu ya, takut nanti kemalaman, kami titip Dwi pada kalian ya." pamit pak Suswanto.


"Iya Sus, kalian tenang saja, pasti Kenzo akan menjaga Dwi dengan baik kok." balas pak Kenan.


Setelah itu pak Suswanto dan ibu Tutik pun pergi meninggalkan rumah pak Kenan, mereka berdua hendak pulang ke rumah mereka sendiri.


Sedangkan Anang dan Dea pergi mengikuti pak kenan dan juga ibu Zoya menaiki mobil mereka menuju tempat pengambilan barang barang yang akan Anang jual nanti.


-


Sementara itu di tempat pengantin baru, Dwi masih setia memakai dress ketatnya, sedangkan Kenzo berada di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket.


"Seriusan nih gw sekarang udah nikah sama Kenzo." ucap Dwi tidak percaya dengan kenyataan yang ada di hadapannya.


"Aaa aku gak nyangka banget." lanjut Dwi.


Ceklek.


Kenzo keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk sebatas pinggangnya saja.


"Kamu gak mau mandi?" tanya Kenzo pada Dwi.


"Nanti ajalah Ken, aku masih malas." jawab Dwi.


"Oh iya aku minta penjelasan sama kamu, bagiamana bisa kita tadi menikah dan kenapa mama sama papaku ada di sini?" lanjut Dwi bertanya.


"Jadi dulu kedua orang tua kita itu sahabatan, dan mereka berjanji kalau seandainya punya anak nanti akan mereka jodohin, jadi ya gitu sekarang kita berdua nikah." penjelasan singkat Kenzo.


"Masak cuma gitu doang, terus bagaimana bisa kamu suka sama aku, bukannya kamu sering bilang kalau aku tepos?" tanya Dwi lagi.


"Hahaha... sumpah kalau soal itu aku juga sebenarnya gak bermaksud sih, orang aku juga gak tahu segede apa punya kamu." tawa Kenzo mengingat kalau dia sering menjahili Dwi.


"Terus kalau gak tahu kenapa kamu ngatain aku begitu?" tanya Dwi lagi.


"Ya biar kamu marah terus kita berantem, kan dengan kita berantem tiap hari berarti kita akan sering sering ketemu." balas Kenzo.


"Terus kalau kamu gimana, kenapa bisa suka sama aku?" sekarang giliran Kenzo yang bertanya.


"Ya gak tahu, aku juga heran kenapa bisa suka sama kamu padahal kan kamu itu suka jahat sama aku." jawab Dwi.


"Tau gak, aku tuh kesel banget setiap kamu bilang kalau aku tepos, aku jadi gak pede waktu pergi kemana mana." lanjut Dwi.


"Hehehe maaf ya sayangku, lagian juga sebenarnya gede kan, tuh buktinya." mata Kenzo mengarah pada dada Dwi.


"Enak aja, ini gara gara serum yang mama aku belikan waktu itu, terus juga setiap malam aku selalu memijatnya agar cepat gede." balas Dwi tak menyadari kalau dia sudah membicarakan rahasianya.


"Ooh jadi kamu pakai serum, mana serumnya biar aku pakaiin."


"Ehh, itu kamu salah dengar, maksud aku tadi itu emang udah takdir dari sananya." elak Dwi malu.


"Halah aku lebih percaya dengan yang kamu katakan waktu awal tadi." balas Kenzo.


"Mulai sekarang kamu gak perlu pakai serum serum segala, biar aku yang bekerja untuk membesarkan dada kamu. Emang kamu mau segede apa hmm?" goda Kenzo.


"Apaan sih, udah deh aku mau mandi." Dwi akan menghindar dari Kenzo karena dia sudah malu.


"Ehh mau kemana hmm, ayo sini aku mandiin." Kenzo kang menggendong Dwi pergi ke kamar mandi.


Kenzo mandi lagi bersama Dwi, entah apa yang mereka berdua lakukan, biasanya mandi yang hanya di tempuh dengan waktu setengah jam sudah selesai, ini sampai dua jam mereka berdua belum keluar dari kamar mandi.


Ceklek.


Kenzo keluar dari kamar mandi mengendong Dwi ala bridal style.


"Bentar ya aku cari pakaian buat kamu dulu " ucap Kenzo setelah mendudukkan Dwi di atas ranjang.


Dwi hanya mengangguk saja, dia melihat Kenzo mengobrak abrik lemari miliknya untuk mencarikan pakaian buat Dwi.


"Kamu pakai kaos aku dulu ya, soalnya di sini gak ada pakaian wanita, nanti biar aku minta sama mama." udah Kenzo menyerahkan pakaian untuk Dwi.


"Kok cuma kaos doang, celana Dala sama br*nya mana?" tanya Dwi.


"Aku gak punya sayang, nanti kita cari untuk sementara kamu pakai itu dulu." balas Kenzo.


"Iihh aku malu loh."


"Gak usah malu, lagian aku juga sudah melihat semuanya." balas Kenzo.


"Ya tapikan...."


"Udah sini aku pakaiin, tuh lihat hasil karya aku bagus kan?" ucap Kenzo yang melihat di sekitar leher dan dada Dwi penuh dengan tanda merah buatannya.


...***...