
"Tidak, Abang yang lebih hebat." balas Anang merendah.
"Kita semua akan hebat kalau kita mau berusaha." balas seseorang dari belakang mereka.
"Loh, pak Sus sama bu Tutik datang juga." kaget Anang saat melihat pak Suswanto dan ibu Tutik di belakangnya.
"Iya dong, masak ada tetangga buka toko kita gak datang, kita juga mau ngerasain dapat diskon dong." balas pak Suswanto.
"Bener tuh Nang, kamu ini buka toko gak bilang bilang, saya malah tahunya dari besan saya." sambung ibu Tutik.
"Hehehe Anang malu bilangnya Bu." cengir Anang.
"Ngapain pakai malu sih, kita kan memang di sini memulai semuanya dari nol, jadi ya jangan malu." balas pak Suswanto.
"Mas Anang di dalam ada diskon gede-gedean gak?" tanya ibu Tutik.
Biasalah ibu ibu itu demen banget kalau ada yang namanya diskon.
"Ada Bu, mari silahkan masuk." jawab Anang mempersilahkan ibu Tutik untuk masuk ke dalam toko.
"Pa aku mau lihat di dalam dulu ya." pamit ibu Tutik pada pak Suswanto.
"Iya ma." balas pak Suswanto.
Ibu Tutik pun masuk ke dalam toko untuk mencari barang barang yang dia butuhkan.
Sedangkan di luar Anang pun terus mengobrol sama Joni dan pak Suswanto, mereka bertiga kelihatan sangat akrab seperti udah lama saling kenal.
Hari pun kembali malam hari, toko Anang juga sudah tutup. Saat ini Anang du bantu Dea tengah menghitung uang dari laba jualan tadi.
"Wah mas ini untungnya banyak banget." ucap Dea setelah menghitung laba jualan hari ini.
"Iya sayang Alhamdulillah, jadi nanti kamu bisa jajan sepuasnya gak harus nunggu masih gajian tiap bulan." balas Anang.
Dea tak menghiraukan Anang, dia terlalu asik menghitung uang yang ada di tangannya.
"Mas kayaknya nanti kamu butuh karyawan deh." ucap Dea.
"Iya sayang nanti mas akan cari, tapi tidak sekarang karena kan keuangan kita juga belum stabil."
"Untuk sementara mungkin mas akan tanganin sendiri tokonya." lanjut Anang.
"Ya udah nanti Dea bantu ya mas." pinta Dea.
"No, kamu du rumah aja, aku gak mau kamu kecapekan. Terus nanti kalau kamu ada paket banyak kamu minta bantuan orang aja terus nanti kamu bayar biar kamu gak terlalu capek." tolak Anang.
"Yah, mas mah gitu, padahalkan Dea pengen bantu." cemberut Dea.
"Kalau kamu bantuin mas di toko, terus gimana sama jualan kamu, emang kamu mau para pembeli kamu kabur gara-gara pelayanan kamu kurang?" balas Anang.
Dea menggelengkan kepalanya, tidak mau apa yang Anang bilang itu terjadi karena dia sudah susah payah mencari pembeli ehh malah mereka pergi.
"Makanya kamu harus layanin mereka dengan baik." balas Anang.
"Ya udah Dea ada di rumah aja, tapi nanti kalau Dea gak ada pembeli Dea mau ikut mas ke toko ya." pinta Dea.
"Ya sudah terserah kamu saja, tapi mas gak mau ya denger kamu kecapekan dan sakit."
"Iya mas Anang sayang." balas Dea.
"Udah malam, ayo tidur biar besok pagi kita lebih semangat jalanin aktivitasnya." ajak Anang.
"Yuk, ini uangnya mau simpan di mana?" tanya Dea.
Dea pun memberikan uang itu pada Anang dan Anang pun langsung menyimpannya di dalam lemari pakaian mereka.
Mereka berdua pun tidur dengan posisi Dea yang membelakangi Anang dan Anang yang memeluk Dea dari belakang sambil mengelus perut Dea yang masih rata karena memang usia kandungan Dea masih jalan dua bulan.
-
Pagi harinya entah kenapa Dea merasakan mual kembali, dia sudah beberapa kali memuntahkan isi perutnya, dengan Anang yang setia memijat tengkuk Dea untuk mengurangi rasa mual yang Dea rasakan.
"Sayang mas gak kenal toko ya." ucap Anang setelah dia membaringkan Dea du atas ranjang.
"Jangan mas, toko kan baru buka kemaren masak udah kamu tutup. Aku gak papa kok du rumah sendiri, palingan nanti siang juga udah mendingan." balas Dea tak mengizinkan Anang berada di rumah.
"Tapi sayang kamu lagi gak fit seperti ini, mana mungkin mas tega tinggalin kamu sendirian di rumah." balas Anang yang tidak tega meninggalkan Dea sendiri dengan kondisinya yang seperti ini.
"Udah mas aku gak papa kok, lagian juga kan ini udah biasa di awal kehamilan dulu." balas Dea.
"Tapi yang...."
"Udah mas pergi aja, Dea bisa sendiri di rumah. Ingat mas, mas berjuang dengan keras untuk membuka toko itu, jadi jangan mas sia siakan kesempatan yang ada mas." potong Dea.
Anang diam, benar apa yang Dea katakan, perjuangannya tidak mudah untuk membuka toko itu, lantas saat sudah bisa dia gapai masakan iya mau dia abaikan begitu saja.
"Ya sudah mas akan pergi ke toko, tapi nanti kalau ada apa apa kamu langsung telfon mas ya." ucap Anang yang akhirnya memilih untuk pergi.
"Iya mas, udah gih sana pergi nanti keburu siang kasian pembeli kamu." balas Dea menyuruh Anang untuk pergi karena memang ini sudah jam tujuh.
"Mas pergi dulu ya, nanti kamu jangan lupa makan dan di minum obat sama vitaminnya."
"Iya mas, kamu hati hati ya."
"Iya sayang."
"Daa ayah, semangat kerjanya cari uang yang banyak biar nanti dedek bisa beli mainan yang banyak." ucap Dea menirukan suara anak kecil.
"Iya anak ayah, ayah pergi dulu ya jangan nakal saat ayah pergi kasian nanti bundanya." balas Anang di depan perut Dea.
Cup.
"Mas pergi dulu assalamualaikum." pamit Anang setelah memberikan kecupan di kening Dea dan perut rata Dea.
Anang pergi meninggalkan Dea sendirian disini rumah, saat berada di perjalanan Anang teringat akan sesuatu, Anang pun langsung memutar motornya menuju sebuah tempat.
Tok tok tok.
"Iya sebentar." balas orang pemilik rumah yang Anang ketuk pintunya.
Ceklek.
"Ehh mas Anang, mbak Dea nya mana?" tanya ibu Tutik yang melihat Anang tanpa Dea di depan pintu rumahnya.
"Dea ada di rumah Bu, bu saya boleh minta tolong gak?" balas Anang meminta tolong.
"Minta tolong apa ya mas, kalau susah susah maaf saya gak bisa."
"Enggak susah kok Bu, Anang cuma minta bantuan ibu Tutik nanti untuk sering sering datang ke rumah buat nengokin Dea di rumah. Soalnya tadi Dea muntah muntah lagi dan saya gak biasa jagain Dea karena saya harus pergi ke toko." jelas Anang meminta tolong.
"Ooh itu, kalau itu mah saya bisa. Mas Anang gak perlu khawatir nanti saya akan sering sering datang ke rumah mas Anang." balas ibu Tutik.
"Makasih ya Bu, kalau gitu saya pamit dulu." pamit Anang.
...*** ...