
Anang pulang ke rumahnya sudah malam hari, dia langsung masuk ke dalam rumah karena memang dia juga membawa kunci rumah sendiri.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, mungkin Dea juga sudah tidur sekarang.
Anang masuk dan membuka pintu kamarnya pelan pelan agar nanti Dea tidak kebangun.
"Maaf ya sayang, aku pasti membuat kamu menunggu lama." ucap Anang merasa bersalah pada Dea.
Anang mengecup kening Dea dan setelah itu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum nanti dia akan bergabung bersama Dea untuk tidur.
Dea memang sudah tertidur, tadi dia hampir saja menangis karena Anang tak kunjung pulang, tapi dia mencoba untuk berfikir positif mungkin Anang sedang bekerja dan harus lembur, pikir Dea.
Padahal Dea tadi sudah menyiapkan kejutan buat Anang, jadi sekarang Dea harus menundanya dulu, mungkin besok pagi dia akan memberikan kejutan itu.
Selesai membersihkan diri, Anang langsung naik ke atas ranjang tidur di samping Dea.
Dea yang merasakan ada pergerakan di sampingnya pun membuka matanya.
"Mas, kamu udah pulang?" ucap Dea pada Anang yang sudah berada di sampingnya.
"Ssttt... maaf ya mas bangunin kamu, tidur lagi gih." balas Anang sambil mengelus rambut Dea agar Dea tidur kembali.
Dea yang memang masih ngantuk pun menuruti perintah Anang, dia tidur kembali dalam pelukan Anang.
-
Paginya hari pun tiba, Dea sudah bangun, dia pergi ke dapur untuk menghangatkan makanan yang kemaren karena masih banyak, sayang kalau harus di buang.
Setelah selesai dia pergi ke kamar untuk membangunkan Anang.
"Mas, bangun kamu harus kerja, ini udah siang." ucap Dea membangunkan Anang.
"Jam berapa yang?" tanya Anang membuka matanya.
"Masih jam setengah enam, ayo siap siap biar nanti kami tidak terburu-buru seperti kemarin." jawab Dea.
"Maaf ya kemaren aku pulangnya malam." ucap Anang merasa bersalah.
"Gak papa mas, tapi sebaiknya kamu kasih kabar dulu biar aku gak nungguin kamu." balas Dea.
"Iya sayang, kemaren handphone aku mati, terus aku juga lupa gak ngasih kabar buat kamu." balas Anang.
"Emang kemaren kamu kemana?" tanya Dea penasaran.
"Aku kemarin pergi ke tempat penjualan barang barang rumah tangga yang aku maksud ke kamu waktu itu, dan kamu tahu gak ternyata pemilik tempat itu adalah salah satu pelanggan akun yang beli rumah di aku kemaren." jelas Anang.
"Seriusan mas, bagus dong. Terus gimana kelanjutannya?"
"Nanti aku di suruh datang ke rumah mereka dan mereka akan antar aku ke tempatnya." balas Anang.
"Aku ikut ya mas." pinta Dea.
"Iya sayang, mereka juga menyuruh aku untuk bawa kamu ke sana." balas Anang.
"Makasih mas, ayo cepat kamu mandi habis itu kita langsung sarapan." suruh Dea.
"Iya sayang, bawel banget sih." balas Anang mencubit hidung Dea.
"Sakit tau mas." ringis Dea sambil mengelus hidungnya yang memerah karena Anang.
"Hehehe maaf sengaja biar mancung." balas Anang dan langsung beranjak pergi ke kamar mandi.
Dea menyiapkan pakaian Anang dan sesudah yang sudah dia rencanakan dari kemaren, dan setelah selesai dia langsung pergi dari kamar agar nanti surprise nya semakin terasa.
Anang yang baru selesai dari kamar mandi pun langsung masuk kedalam kamarnya dan mencari pakaian kerjanya yang sudah di siapkan oleh Dea.
"Aku yang dulu bukanlah yang sekarang, dulu di tendang sekarang ku di banting." Anang bernyanyi lagu jaman dulu yang sempat Viral tapi dia mengganti lirik bagian akhirnya.
"Loh ini apa?" ucap Anang melihat ada kotak kado di bawah pakaiannya.
"Sayang, ini punya kamu bukan?" teriak Anang bertanya tapi tidak ada jawaban dari Dea.
Karena jiwa penasaran Anang yang menggebu gebu, Anang pun mengambil kotak itu dan membolak-balikkan nya.
"Apaan sih ini, emang ada yang ulang tahun ya?" gumam Anang.
Anang pun akhirnya memilih untuk membuka kotak itu dari pada penasaran, saat dia buka terlihat di sana ada tiga benda yang berukuran kecil tapi panjang.
"Ini kan tespek yang waktu itu aku beli buat Dea." ucap Anang.
Karena Anang tidak mengerti dengan cara kerja tespek maka Anang pun langsung mencari di internet bagiamana cara mengetahui hasil tespek itu positif atau negatif.
Dan di sana tertera kalau ada garis mereka dua itu berarti tandanya positif, dan kalau satu itu berarti sebaliknya.
Setelah membaca itu Anang kembali melihat ke arah tiga tespek itu, dan di sana terlihat ada dua garis merah yang sangat kentara.
"Hah, ini beneran aku akan jadi ayah?" tanya Anang tak percaya.
"Sayang on the beneran punya kamu?" teriak Anang keluar dari kamar hanya mengenakan celana saja belum memakai baju.
"Astaga mas, kamu kok belum pakai baju sih, nanti kamu bisanya telat loh." ucap Dea pura pura tidak tahu saat melihat Anang datang kepadanya.
"Sayang ini punya kamu kan?" tanya Anang pada Dea.
"Apa itu, kamu dapat di mana?" tanya Dea pura pura tidak tahu.
"Aaaa... sayang jawab dong, ini punya kamu apa bukan?" tanya Anang merengek.
"Iya itu punya aku, kenapa kamu suka?" tanya Dea.
"Aaaa... aku senang banget yang, akhirnya aku akan menjadi seorang ayah dan kamu akan menjadi ibu." senang Anang memeluk Dea.
Setelah itu Anang melepaskan Dea dan langsung sujud menghadap kiblat untuk melakukan sujud syukur.
"Kamu kapan ngetesnya, kok gak ada bilang aku?" tanya Anang pada Dea.
"Kemaren setelah kamu pergi kerja, sebenarnya sih semalam aku udah siapin surprise buat kamu sama mau makan malam yang romantis sama kamu, ehh taunya malah kamu gak pulang pulang."
"Tuh lihat makanannya masih banyak kan, jadi makan makanan kemaren deh pagi ini." lanjut Dea sambil menunjuk makanan yang ada di atas meja.
"Maafkan mas ya, mas gak tahu kalau kamu nyiapin semua ini kemaren, mungkin kalau mas tahu mas akan pulang aja kemaren." balas Anang merasa bersalah.
"Iya mas gak papa kok, lagian yang kamu lakukan kemaren kan juga demi masa depan kita juga." balas Dea yang semakin hari semakin dewasa sikapnya.
"Terimakasih ya sayang, kamu sudah menjadi istri yang pengertian buat aku, dan makasih juga karena kamu sudah mau mengandung darah daging ku." ucap Anang yang merasa Dea adalah pemberian terindah dari Tuhan untuknya.
"Aku melakukan ini semua karena memang ini sudah menjadi tugas aku sebagai istri, nanti kalau seandainya aku ada salah kamu kasih tahu aku aja ya, jangan marahin aku." ucap Dea meminta agar Anang tidak membentaknya atau memarahinya kalau dia ada berbuat salah.
...***...