From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#35



"Mass...." Dea menatap Anang dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf bukan maksud mas membentak kamu, tapi ini demi kebaikan kamu." balas Anang memasukkan martabak Dea ke dalam kantong plastik.


Dea diam tak membalas ucapan Anang, dia terlanjur sakit hati karena Anang sudah membentaknya.


"Sayang." pangil Anang tapi Dea tak membalasnya.


"Hufft...." hela nafas Anang.


"Kamu mau jalan jalan gak?" tanya Anang tapi Dea masih diam saja tak membalas ucapan Anang.


"Baiklah kalau kamu tidak mau, padahal seharusnya mumpung aku lagi ada waktu. Tapi kalau kamu gak mau sih ya gak papa." lanjut Anang dan menyibukkan dirinya dengan bermain handphone.


Anang akan membiarkan Dea marah, dia ingin melihat seberapa lama Dea akan mendiamkannya seperti ini.


"Oh iya, sekarang kan lagi ada pasar malam di alun alun kota, aduh bisa bisanya aku lupa sih. Ehh, tapikan percuma juga mau pergi ke sana gak ada yang mau di ajak juga." ucap Anang memanasi Dea.


"Aduh aku pingin banget pergi ke pasar malam, apalagi naik biang Lala." batin Dea.


"Tapi kan aku lagi marah sama mas Anang, masak iya aku harus ngajak dia sih, gak mau ah nanti malah dia kepedean lagi." lanjut Dea dalam hatinya.


Dea tetap diam menunggu Anang untuk membujuknya, satu menit, dua menit bahkan sampai setengah jam Anang hanya diam saja sambil memainkan handphonenya.


Dea melihat jam yang ada di tangannya, sekarang sudah menunjukkan pukul 5 sore dan mereka masih ada di taman tapi tidak ada yang berbicara satu sama lain.


Dea melirik ke arah Anang yang sedang melihat handphonenya sambil tersenyum senyum gak jelas, tangan Dea yang sudah gatal pun langsung merebut handphone Anang yang ada di tangan Anang.


"Apaan sih yang." ucap Anang berusaha mengambil handphone miliknya.


"Apa, gak boleh, jangan bilang kalau kamu lagi chattingan sama cewek." tuduh Dea pada Anang.


"Apaan sih, mana ada chatingan sama cewek." balas Anang.


"Terus kenapa kamu main handphone sambil senyum senyum sendiri, mana aku gak boleh lihat lagi." curiga Dea.


"Ya udah liat aja, kalau sampai aku gak chatingan sama cowok kamu gak boleh diamkan aku lagi."


Dea pun langsung membuka handphone Anang, di sana dia melihat kalau ada sebuah artikel dan Dea pun langsung membacanya.


"Hahaha... sumpah ini lucu banget mas, dari kecil aku suka banget baca cerita Abu Nawas." tawa Dea setelah membaca artikel itu yang ternyata adalah salah satu dari seribu satu cerita Abu Nawas.


"Tuh, makanya jangan main tuduh aja." balas Anang.


"Ya kamu mencurigakan." balas Dea.


"Mana ada, salah sendiri kamu suka ngambek."


"Kamunya ngeselin jadi aku ya ngambek." balas Dea.


"Aku seperti itu juga karena aku sayang sama kamu, aku gak mau kamu sakit." balas Anang menatap Dea dengan penuh cinta.


"Tapikan memang aku belum kenyang, aku masih mau makan itu." tunjuk Dea pada martabak yang ada di sebelah Anang.


"Nanti lagi ya sayang, kamu tadi sudah makan terlalu banyak nanti perut kamu bisa sakit." balas Anang mencoba memberikan pengertian pada Dea.


"Ya tapikan aku mau makan itu mas." kekeh Dea.


"Nanti ya, bagiamana kalau kita ke pasar malam aja, nanti setelah selesai dari pasar malam baru kamu boleh makan ini lagi." ajak Anang.


"Ayo, aku juga pengen naik biang Lala." balas Dea semangat.


"Tapikan nanti kita harus pergi ke rumah mbak Zakia mas?" tanya Dea.


"Kita pending aja dulu, besok kita ke sananya." balas Anang.


"Baiklah, kalau seperti itu ayo kita pergi sekarang, aku sudah gak sabar." ajak Dea tidak sabaran.


"Tuh kan, kamu mah gitu, ya udah aku mau makan itu lagi aja." kesal Dea.


"Hahaha, gak gak, udah ayo pergi." Anang menggandeng tangan Dea pergi meninggalkan taman sambil tangan yang satunya lagi membawa martabak milik Dea.


-


Mereka pulang terlebih dahulu untuk meletakkan martabak sekaligus berganti pakaian yang lebih hangat karena nanti mereka akan sampai malam hari pulangnya.


Setelah berganti pakaian mereka langsung pergi menuju pasar malam, dan saat sampai di sana keadaannya sudah lumayan rame tapi belum banyak pengunjung, mungkin nanti malam akan lebih rame.


"Jadi mau naik biang Lala?" tanya Anang pada Dea.


"Nanti aja kalau malam, sekarang lampunya belum nyala." jawab Dea sambil matanya melihat ke segala arah.


"Terus sekarang kamu mau apa?" tanya Anang lagi.


"Mau beli makanan boleh gak?" tanya Dea dengan wajah yang memelas.


"No, nanti beli makanannya tidak sekarang." bantah Anang tak mengizinkan Dea.


"Yah, padahal aku pengennya sekarang." cemberut Dea.


"Kamu ini kenapa sih yang kok jadi suka makan, dulu kamu meskipun suka makan tapi gak gini gini banget deh?" heran Anang yang merasa kalau Dea berubah pola makannya.


"Masak sih, aku rasa biasa biasa aja tuh." balas Dea.


"Terus mood kamu juga akhir akhir ini sering berubah ubah, kamu jadi makin cengeng." tambah Anang.


"Kalau itu entah aku juga gak tahu, yang jelas kalau kamu bikin kesel aku suka pengen nangis." balas Dea, kali ini dia membenarkan apa kata Anang.


"Tuh kan, kamu itu emang aneh akhir akhir ini."


"Ya aku juga gak tahu."


"Apa jangan jangan kamu hamil lagi, soalnya aku pernah dengar kalau orang yang moodnya suka berubah itu biasanya orang hamil."


"Mana ada, orang aku gak hamil kok." sanggah Dea.


"Emang udah kamu cek?" tanya Anang.


"Ya belum sih, tapi beneran loh aku gak hamil."


"Kenapa kamu seyakin itu?"


"Ya karena aku gak merasa kalau aku lagi hamil." jawab Dea yakin.


"Ya kan bisa aja kamu gak tahu kalau kamu lagi hamil."


"Udah ah, kenapa jadi ngomongin tentang kehamilan sih, mending kita keliling mencari sesuatu yang menarik." ajak Dea mengalihkan pembicaraan, Dea menarik tangan Anang untuk mengelilingi pasar malam yang baru buka.


Mereka berkeliling mencari sesuatu yang entah apa itu, karena mereka juga tidak tahu apa yang akan mereka cari di sana.


Sebenarnya sih Dea ingin membeli makanan lagi, tapi sudah pasti Anang tidak akan mengizinkannya.


Jadi ya daripada bosen mending dia mengajak Anang berkeliling melihat seluruh penjuru pasar malam, siapa tahukan nanti ada yang menarik perhatian Dea.


Dea melihat ada penjual aksesoris, Dea pun langsung menarik tangan Anang menuju penjual itu.


"Kamu mau cari apa?" tanya Anang pada Dea.


Dea tak menghiraukan Anang, dia fokus memilih gelang yang ada di gantungan itu.


...***...