
Saat ini mereka tengah bersiap untuk tidur, Anang ingin berkata jujur pada Dea soal dia yang terkena PHK, tapi Anang bingung harus mengawalinya bagaimana.
"Yang." pangil Anang.
"Iya mas kenapa?" tanya Dea yang tengah meng-upload barang dagangannya.
"Aku kena PHK." ucap Anang to the poin.
Seketika Dea langsung menatap ke arah Anang.
"Kenapa kamu gak bilang dari tadi mas?" tanya Dea menatap Anang.
"Maaf, aku takut kalau kamu kecewa karena aku sekarang sudah tidak punya pekerjaan, tapi kamu tenang saja besok aku udah dapat kerja kok." jawab Anang.
"Mas, bukan itu yang aku harapkan, aku tanya kenapa kamu gak jujur dari tadi sama aku." balas Dea.
"Aku takut kamu kecewa sama aku." balas Anang menundukkan kepalanya.
"Mas, aku gak mungkin kecewa sama kamu. Aku tahu kamu sudah berusaha semaksimal kamu, tapi mungkin memang rezeki kamu bukan di sana lagi. Percaya saya aku kalau kamu akan mendapatkan gantinya yang lebih besar lagi." ucap Dea bijak.
"Aku malah merasa bersalah sama kamu mas, di saat kamu lagi pusing mikirin ini itu aku malah minta anterin kamu kesana kesini." lanjut Dea.
"Kamu ngomong apa sih, aku suka nganterin kamu kemana pun, tapi kalau tadi jujur tangan aku pegal." jujur Anang.
"Maaf ya mas, sini aku pijitin." balas Dea mengambil tangan Anang dan langsung memijat tangan Anang yang sebelah kanan.
"Pengertian banget sih istriku ini." ucap Anang memuji Dea.
"Harus dong, biar suami tetap cinta." balas Dea.
"Udah nanti juga ilang, ayo kita tidur biar besok pagi kita kembali semangat lagi. Aku semangat kerja dan kamu semangat jualannya." ajak Anang.
Anang juga tahu kalau Dea capek, malah mungkin lebih capek Dea dari pada dia, karena pekerjaan yang begitu banyak yang tidak ada selesai selesainya di rumah.
"Kamu besok kerja di mana mas?" tanya Dea.
"Untuk sementara aku ikut sama bang Joni dulu, nanti sambil berfikir usaha apa yang mau aku buat." jawab Anang.
"Kamu ada rekomendasi gak usaha apa yang cocok buat aku?" lanjut Anang meminta pendapat Dea.
"Kalau aku sih mending yang sesuai sama besik kamu aja." balas Dea.
"Dulu kamu waktu kuliah ambil jurusan apa?" lanjut Dea bertanya.
"Aku sih dulu ambil manajemen bisnis, jadi sekarang aku bingung mau buka usaha apa." bingung Anang.
"Emmm... bagaimana kalau kita menekuni jualan produk CISA aja." usul Dea.
"Kita gak mungkin hanya bergantung pada satu usaha saja sayang, sedangkan keuntungan jualan itu tidak tentu, kadang ada pembeli kadang juga enggak." tidak setuju Anang.
"Ya kita buka usaha lainnya lagi." usul Dea lagi.
"Kalau itu kamu saja yang menekuni, nah kalau aku, aku mau buka usaha sendiri sayang." balas Anang.
"Hufft... ya sudah kalau gitu aku gak ada ide buat bantu kamu, kamu kan tahu sendiri kalau aku tuh kurang faham soal masalah begituan."
"Aku minta doa kamu saja semoga aku di berikan rezeki yang melimpah buat kamu dan calon anak anak kita nanti."
"Iya mas, aku selalu doain kamu kok." balas Dea.
"Ya udah yuk kita tidur." ajak Anang.
Mereka berdua pun tidur seperti biasa Anang yang selalu memeluk Dea dan Dea yang tidur nyenyak dalam pelukan Anang.
-
Huek huek huek.
Suara muntah muntah seseorang di sebuah kamar mandi, Anang yang merasa tidurnya ada yang kurang pun meraba sisi tempat tidurnya.
"Sayang." pangil Anang yang tidak menemukan Dea di sampingnya.
"Sayang kamu di mana?" pangil Anang dan tak ada jawaban dari orang yang dia panggil.
Anang pun keluar dari kamar untuk mencari Dea di dapur dan saat sampai di dapur dia tidak menemukan Dea di sana.
"Sayang kamu di mana?" pangil Anang lagi.
Huek huek huek.
"Sayang." pangil Anang yang mendengar suara orang muntah muntah dari arah kamar mandi.
Anang berlari menuju kamar mandi dan langsung membuka pintu kamar mandi yang kebetulan tidak terkunci.
"Astaga sayang kamu kenapa?" panik Anang yang melihat Dea jongkok di depan kloset dan kepalanya yang Dea arahkan ke kloset.
Huek huek huek.
Dea terus muntah muntah tapi hanya cairan bening yang keluar karena semua makanan yang ada di dalam perutnya sudah Dea keluarkan.
Anang pun membantu Dea dengan memijat tengkuk Dea agar rasa mualnya berkurang.
"Kamu kenapa bisa seperti ini hmm?" tanya Anang setelah Dea sudah tidak muntah muntah lagi.
"Gak tahu mas, tiba tiba aku mual aja." balas Dea.
Anang membantu Dea berkumur dan membasuh wajah Dea dan setelah selesai Anang langsung membopong tubuh Dea kembali ke dalam kamar.
"Bentar ya aku cariin minyak kayu putih dulu." ucap Anang setelah membaringkan Dea di atas ranjang dan hanya di balas anggukan saja oleh Dea.
Anang pergi mencari minyak kayu putih dan setelah mendapatkannya Anang pun langsung mengoleskan di perut serta dada Dea agar rasa mual Dea berkurang.
"Gimana udah enakan?" tanya Anang.
"Lumayan mas." balas Dea lemah.
Anang melihat ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul dua dini hari, masih terlalu pagi untuk orang bangun tidur.
"Kamu tidur lagi ya, ini masih malam." suruh Anang.
"Peluk." manja Dea.
"Iya sini aku peluk." Anang berbaring di samping Dea dan membawa Dea ke dalam pelukannya.
"Pasti kamu masuk angin gara gara cari jambu air semalam." ucap Anang sambil membelai rambut Dea.
"Mungkin, soalnya semalam aku gak pakai jaket." balas Dea yang belum tidur.
"Udah sekarang tidur, biar nanti waktu bangun udah enakan." suruh Anang dan di angguki Dea.
Dea pun mulai memejamkan matanya dan setelah itu di susul oleh Anang, mereka berdua pun tidur kembali karena memang ini masih malam hari.
-
Paginya hari Anang bangun lebih dulu dari pada Dea, dia langsung membasuh wajahnya dan setelah itu pergi ke warung mbok Inah yang memang bukanya pagi hari.
Anang pergi belanja sayuran dan juga bumbu bumbu lainnya yang sudah habis di rumah. Banyak ibu ibu yang memperhatikan Anang, mereka semua merasa iri dengan Dea karena bisa mendapatkan suami yang seperti Anang.
Tapi tak jarang juga di antara mereka ada yang mencibir Dea, karena sebagi istri malah membiarkan Anang yang berbelanja.
"Ehh ada mas Anang, mbak Deanya kemana mas kok mas Anang yang belanja?" tanya ibu Iva.
"Dea ada di rumah Bu, kebetulan saja saya gak sibuk jadi saya yang belanja." balas Anang menutupi kalau Dea masih tidur.
Ingat istri tidak boleh membuka aib suaminya dan begitu juga sebaliknya.
...***...