From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#32



Dea pun langsung membalas pesan dari Yula temannya, Yula membeli beberapa produk kosmetik dari Dea dan Dea dengan senang hati menerima orderan dari Yula.


"Alhamdulillah ya Allah terimakasih karena engkau sudah memberikan hamba rezeki hari ini." ucap syukur Dea karena sudah mendapatkan beberapa pelanggan hari ini.


Dea jadi semakin berjualan Dea mulai membuat konten konten di akun tiktoknya dan saat selesai meng-upload tiba tiba di fyp Dea ada sebuah konten bukbang.


"Wah ini kayaknya enak banget deh, apalagi pedesnya pasti kerasa banget. Kok aku jadi ingin makan itu ya." monolog Dea sambil terus melihat isi konten itu.


"Aku pingin makan bakso pedas, di sini di mana ya ada penjual bakso yang gak jauh dari sini." Dea pun langsung memakai jaket dan segera pergi dari rumahnya, tak lupa dia juga membawa uang untuk membeli bakso.


"Ehh mbak Dea, mau kemana mbak?" tanya ibu Marni yang berpapasan dengan Dea.


"Ini bu Dea mau cari bakso, ibu tahu gak di mana ada penjual bakso dekat dekat sini?" tanya Dea penuh harap.


"Wah kalau daerah sini mah adanya nanti sorean mbak, kalau yang jam segini mah di jalan raya sana." jawab ibu Marni.


"Yah, berarti jauh dong."


"Iya mbak, emang mbak Dea gak masak?" tanya ibu Marni.


"Masak kok Bu, cuma Dea lagi pengen makan bakso aja." balas Dea.


"Oooh gitu, mbak Dea lagi ngidam ya?" goda ibu Marni.


"Ibu ngomong apa sih, enggak kok aku gak lagi ngidam, cuma kepengen aja makan bakso." balas Dea.


"Ooh gitu, ya nunggu nanti sore aja mbak."


"Iya Bu, ya udah kalau gitu Dea pulang dulu Bu."


"Iya mbak." balas ibu Marni.


Dea pun kembali ke rumahnya karena tidak mendapatkan apa yang dia cari.


"Aduh kok kebayang bayang sama kuah bakso ya, mau buat aku males." gumam Dea.


Dea pun kembali ke dalam kamar, dia akan menyibukkan dirinya dengan membalas chat dari orang orang yang bertanya tentang produk CISA.


"Aaah." teriak Dea kesal sekaligus sedih.


"Aku pengen bakso, ini mas Anang mana sih kok lama banget kerjanya gak pulang pulang." kesal Dea yang malah menyalahkan Anang, padahal ini masih jam satu siang.


Dea membuka story WA teman temannya dan malah dia menemukan story temannya yang di Malang sedang makan bakso di tempat langganannya dulu waktu di Malang.


"Aaa... aku pengen bakso." teriak Dea kesal.


Saking kepinginnya Dea sampai menangis karena dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


Tak mau tambah pusing lagi, Dea langsung menelfon Anang untuk di belikan bakso karena dia sangat kepingin.


...**...


Saat ini Anang tengah melayani beberapa pelanggan yang ingin mencari rumah di perusahaan milik Joni.


"Baik pak nanti akan kami kabarin secepat mungkin." ucap seorang pria yang di sampingnya dia temani wanita, sepertinya mereka adalah pasangan pengantin baru.


"Baik pak kami tunggu kabarnya." balas Anang menjabat tangan pelanggannya.


"Kalau begitu kami permisi dulu pak." pamit pelanggan Anang.


"Baik pak." balas Anang.


Pelanggan itu pun pergi dan Anang pun membereskan berkas berkas yang ada di meja, di mana berkas berkas itu terdapat banyak foto dan desain rumah rumah yang mereka jual.


Drrtt drrtt drrtt.


Handphone Anang bergetar dan Anang pun langsung melihat siapa yang telah menelfonnya.


'Iya sayang, kamu lagi ngapain?' ucap Anang mengawali pembicaraan di dalam telfon dengan Dea.


'Hiks hiks hiks.' bukannya suara sambutan atau kata kata sayang yang Anang dapat, dia malah mendapatkan suara tangisan dari sang istri.


'Hiks mas hiks.' tangis Dea.


'Iya ini aku, kamu kenapa hmm?' tanya Anang lagi.


'Kamu kapan pulang, aku pengen bakso hiks.' balas Dea sambil menangis.


'Astaga sayang, kamu menangis cuma gara gara mau bakso?' tak percaya Anang.


'Iya aku pengen makan bakso, ayo cepat kamu pulang.' pinta Dea.


'Sabar ya sayang, aku kan lagi kerja. Nanti jam empat mungkin aku baru pulang.' balas Anang.


'Gak mau mas, aku pengen baksonya sekarang.' kekeh Dea.


'Sayang, aku kan baru masukkan kerja, masak iya aku udah izin.' ucap Anang berusaha memberikan pengertian buat Dea.


'Gak mau mas, aku pengen bakso sekarang hiks hiks hiks.' tangis Dea semakin menjadi.


"Kenapa Nang?" tanya Joni yang baru datang.


"Oh enggak bang, ini Dea minta di beliin bakso." jawab Anang.


"Ooh gitu, ya udah beliin aja." balas Joni.


"Tapi ini masih jam kerja bang."


"Udah gak papa kamu pergi aja, kasian istrimu pasti dia lagu ngidam."


"Istri aku gak lagi hamil bang." balas Anang.


'Mas, ayo aku pengen bakso.' ucap Dea dari sebrang sana.


"Tuh kamu dengerkan kalau istrimu minta cepet cepet di beliin bakso, udah gih sana cepat beliin, kasian dia sampai nangis gitu." suruh Joni.


"Ya udah bang, aku pamit pulang duluan ya, maaf lain kali gak akan lagi." pamit Anang merasa tidak enak.


"Iya santai aja, udah cepat sana keburu nanti dia makin nangis loh." balas Joni.


Anang pun pergi dari perusahaan Joni dengan sambungan telefon yang masih terhubung ke Dea.


'Mas, kamu jadi pulang kan?' tanya Dea.


'Iya ini lagi jalan.' balas Anang.


'Makasih mas, nanti baksonya sambal sama bumbu bumbu yang lainnya di pisah ya mas, terus nanti sambalnya minta banyakin.' pesan Dea.


'Iya sayang, ya udah aku tutup dulu ya.'


'Oke mas, kamu hati hati di jalan ya, aku tunggu baksonya.' balas Dea yang sudah tidak menangis lagi karena mau di beliin bakso.


"Hufft...." hela nafas Anang dan dia pun langsung menjalankan motornya untuk pulang sambil mencari penjual bakso.


Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Anang pun langsung pulang dan saat sampai di rumah langsung mendapatkan sambutan dari Dea.


Bukan Anang yang Dea tunggu, tapi bakso yang Anang bawalah yang Dea tunggu.


"Akhirnya kamu pulang juga mas, makasih ya baksonya." ucap Dea langsung mengambil kantong kresek yang berisi bakso dari tangan Anang.


"Sayang kamu gak bawain tas aku?" tanya Anang pasalnya biasanya Dea selalu melakukan itu.


"Taruh di sofa aja mas, nanti kalau aku selesai makan bakso aku bawa ke kamar." balas Dea sambil mulai membuka bungkus kresek itu.


"Hufft... kalah sama bakso dah." gumam Anang dan pergi menuju kamar untuk mandi dan berganti pakaian.


"Wow, ini bau nya harum banget." ucap Dea sambil menghirup uap bakso yang mengebul.


Dea langsung menuangkan sambal yang sangat banyak ke dalam bakso itu dan langsung mencicipinya.


...***...