
Jam kerja Anang sudah berakhir, saat ini dia tengah duduk di atas motornya sambil memainkan handphone miliknya. Dia mencoba menghubungi Dea yang berada di rumah.
'Halo sayang.' sapa Anang.
'Halo mas, kamu udah pulang?' balas Dea bertanya.
'Iya ini baru keluar dari pabrik, kamu mau pesan sesuatu gak?' tanya Anang.
'Eemm... apa ya, sepertinya gak ada mas.' jawab Dea.
'Yakin nih?'
'Iya mas.'
'Padahal ini mas baru gajian loh.' iming-iming Anang.
'Sebenarnya sih aku pengen singkong keju, tapi sayang uangnya lebih baik di tabung saja dari pada buat jajan. Kan semalam udah jajan banyak.' balas Dea.
'Ya udah kalau kamu berfikir seperti itu, aku tutup dulu ya mungkin setengah jam aku baru sampai rumah.' pamit Anang.
'Iya mas, hati hati di jalan.'
'Iya sayang. Emuah.'
Tut.
panggilan pun berakhir, Anang langsung menghidupkan motornya dan menjalankannya menuju rumah dia. Di perjalanan Anang mencari penjual singkong keju, meskipun tadi Dea bilang tidak usah beli tapi buat Anang itu harus di beli.
Karena dulu Dea hidup bersama orang tuanya apa apa yang dia mau bisa dia beli. Masak dia yang tinggal menerima setelah gede malah buat Dea sengsara. Kan itu gak adil banget.
Anang membelokkan motornya saat melihat ada penjual singkong keju di sebrang jalan. Anang turun dari motor dan langsung menghampiri penjual singkong keju itu.
"Permisi buk, saya mau beli singkong kejunya dua porsi ya." ucap Anang kepada penjual singkong keju.
"Baik mas, silahkan di tunggu sebentar ya." balas penjual singkong keju.
Anang melihat cara memasaknya dan dia juga melirik para pembeli yang di makan di situ. Dia melihat ke arah singkong keju yang pembeli itu makan, sepertinya sangat enak sekali.
"Emm... buk saya tambah satu porsi lagi ya, jadi totalnya tiga porsi." ucap Anang menambah pesanannya.
"Baik mas." balas penjual singkong keju.
Setelah menunggu hampir lima belas menit, singkong keju itu pun akhirnya sudah jadi.
"Berapa buk?" tanya Anang.
"Tiga puluh ribu mas." balas penjual singkong keju.
Anang pun mengambil uang di dalam dompetnya, Anang membayar dengan uang pas jadi dia tidak perlu harus menunggu uang kembalian.
"Terimakasih ya buk." ucap Anang.
"Sama sama mas." balas penjual singkong keju.
Anang pun melanjutkan perjalanan pulang menuju rumahnya sambil membawa tiga porsi singkong keju. Anang sudah tidak sabar untuk sampai di rumah karena nanti pasti Dea akan sangat senang.
Sampai di depan rumahnya Anang turun dari motor dan langsung berjalan memasuki rumahnya. Di samping rumahnya terlihat ibu ibu tengah bergosip ria, seperti tengah membicarakannya. Terlihat dari pandangan mereka saat melihat dia datang. Tapi Anang tak menghiraukannya, bagi Anang mengurusi orang orang seperti itu hanya akan membuang buang waktu saja.
"Assalamualaikum sayang, mas pulang." ucap Anang saat membuka pintu rumahnya.
"Waalaikum salam mas, aku di dapur." balas Dea yang berada di dapur dengan berteriak.
Anang pun berjalan menuju dapur dan meletakkan kantong kresek yang berisi tiga porsi singkong keju ke atas meja makan dan setelah itu dia langsung memeluk Dea dari belakang yang tengah sibuk di depan kompor.
"Astaga mas." kaget Dea.
"Hehehe kaget ya, maaf." cengir Anang.
"Masak apa kamu, mau aku bantu gak?" tawar Anang.
"Enggak usah, mending kamu mandi sana. Pakaian kamu udah aku siapin di atas ranjang." suruh Dea.
"Oke sayang."
Cup.
Anang langsung berlari menuju kamarnya setelah mencuri ciuman di pipi sebelah kanan Dea.
"Mas Anang." geram Dea yang sudah tidak dapat di dengar oleh Anang lagi karena dia sudah menghilang di balik pintu kamar.
"Harus ekstra sabar kalau menghadapi suami yang seperti ini." gumam Dea.
Dea pun melanjutkan acara memasaknya. Kali ini dia memasak mujaer sambal asam pedas. Tadi kebetulan di warung depan ada ikan mujair yang segar, jadi Dea membelinya.
Setelah ikan mujaernya matang Dea langsung membuat sambal asam pedasnya. Dan setelah selesai semua, Dea langsung menyajikannya di atas meja makan.
"Loh ini apa?" tanya Dea pada dirinya sendiri saat melihat ada bungkusan kresek makanan di atas meja makan.
"Kenapa sayang?" tanya Anang yang sekarang sudah segar dan berganti pakaian menjadi pakaian santai.
"Ini apa mas?" tanya Dea.
"Ooh itu aku tadi beli singkong keju buat kamu." balas Anang dan duduk di kursi makan.
"Ya ampun mas, kenapa kamu beliin sih. Kan aku udah bilang sama kamu kalau gak usah beli, semalam kita udah jajan banyak banget loh." kesal Dea.
"Maaf yang, aku pikir karena aku ada uang makanya aku beliin apa yang kamu mau." balas Anang merasa bersalah.
"Udahlah mas, udah terlanjur juga. Lain kali kalau mau beli apa apa itu di pikir dulu ya. Katanya kamu mau buka usaha sendiri, jadi lebih baik uangnya kita tabung buat buka usaha." ucap Dea dengan bijak.
"Iya sayang, mas minta maaf ya."
"Iya, udah sekarang ayo kita makan. Kamu suka ikan kan?" tanya Dea.
"Suka lah, apalagi kalau kamu yang masak, pasti aku lebih suka." jawab Anang sambil menggombal.
"Apaan sih, udah ayo cepat makan." suruh Dea yang tengah salting.
"Iya sayang." balas Anang.
Akhirnya mereka berdua pun makan ikan mujaer sambal asam pedas. Setelah makanan mereka habis, seperti biasa Dea memberikan bekas tempat mereka makan.
Tapi kali ini ada yang berbeda, Anang membantu Dea. Dea yang mencuci piring piringnya, sedangkan Anang yang membereskan dapur agar terlihat rapi kembali.
"Sayang kapan kapan kita ke supermarket ya buat belanja kebutuhan yang lainnya. Dari pada kamu beli di warung dekat rumah kan harganya lebih mahal." ajak Anang.
"Ya mending ke pasar kalau gitu mas, di pasar kita bisa menawar, sedangkan di supermarket tidak." balas Dea.
"Emang kamu mau aku ajak ke pasar, di pasar itu bau loh."
"Ya mau lah, orang dari kecil juga aku udah sering ikut ibu ke pasar." balas Dea.
"Wah beneran, ternyata istriku ini serba bisa ya. Belanja di supermarket atau minimarket bisa, belanja di pasar juga bisa. Kalau di mall bisa gak yang?" tanya Anang.
"Hehehe kalau belanjanya sih bisa orang tinggal cari barang aja. Cuma kalau beli di sana gak pernah soalnya mahal mahal." cengir Dea.
"Kamu doain semoga rezeki aku lancar ya, biar nanti aku bisa ajak kamu ke mall, terus kita belanja sepuasnya di sana." ucap Anang.
"Aamiin." balas Dea mengamini doa Anang.
...***...