From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#18



"Mas." pangil Dea pada Anang.


"Kenapa hmm?" balas Anang.


Saat ini mereka berdua tengah duduk di atas ranjang sambil berpelukan dan televisi yang menyala di depan mereka berdua.


"Ini aku udah ketemu barang barangnya yang bisa aku jual online, menurut kamu aku harus jualan yang mana?" tanya Dea menunjukkan nama nama barang yang ada di handphonenya.


Anang mengambil handphone Dea dan melihatnya satu persatu.


"Kamu maunya jualan apa?" tanya Anang.


"Kalau aku sih pengennya kosmetik mas, kan sekarang banyak tuh orang orang yang berlomba lomba kepingin punya kulit yang putih bersih dan yang pasti glowing." jawab Dea.


"Ya udah kamu pilih ini aja, mas denger dari teman teman kerja mas kalau produk ini bagus terus banyak peminatnya gitu." usul Anang.


"Emang itu bagus mas, aku juga kepikiran mau ambil produk itu. Soalnya dari yang aku baca baca penjualan produk itu ada harganya sendiri jadi kita tidak boleh membuat harga sendiri gitu. Nanti kalau ada yang ngurangin harga atau apa gitu bakal dapat sangsi dari perusahaan. Tapi aku mau ambil keputusan itu kan harus tanya kamu dulu." balas Dea.


"Ya udah kamu ambil ini aja, terus kamu udah tahu owner daerah sini?" tanya Anang.


"Ada mas, aku udah punya nomor telfonnya kok." jawab Dea.


"Ya udah nanti langsung kamu hubungi aja."


"Terus nanti aku kalau ke sana sama siapa, kan kamu harus kerja."


"Kan bisa waktu aku pulang kerja sayang, kan aku pulang kerja sampai rumah jam setengah lima. Nah terus nanti habis magrib aku antar kamu." jelas Anang.


"Tapi kan kamu kecapekan nanti mas, kamu kan juga harus istirahat."


"Tidak sayang, mas bisa kok antar kamu kemanapun kamu mau." kekeh Anang.


"Ya udah terserah kamu aja mas, tapi kalau kamu capek kamu bilang sama aku biar aku naik ojol aja ya." ngalah Dea.


"Iya sayang." balas Anang.


"Matiin TV nya yuk tidur." ajak Anang.


"Bentar mas, aku belum ngantuk." tolak Dea.


"Ini udah malam sayang, besokkan harus bangun pagi."


"Tapi aku gak bisa tidur mas."


"Biasanya juga gak bisa tidur, tapi ujung ujungnya juga kamu tidurnya nyenyak."


"Iya juga sih."


"Ya udah ayo sini kita tidur." ajak Anang.


Dea pun mematikan saluran televisi dan dia langsung berbaring dalam pelukan Anang. Malam ini Anang tidak meminta jatahnya pada Dea, karena Anang pikir pasti Dea lagi capek. Jadi mungkin besok malam dia akan minta.


-


Pagi hari seperti biasa, Dea menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Kali ini dia hanya membuat nasi goreng sama telur ceplok saja. Karena nasi kemaren masih banyak, jadi sayang kalau tidak di manfaatkan.


"Sayang ini uang belanja kamu ya, mas pergi dulu kamu hati hati di rumah." pamit Anang memberikan beberapa lembar uang belanja buat Dea.


"Iya mas kamu hati hati ya." balas Dea.


Dea yang sudah bersih bersih dan mandi pun memutuskan untuk pergi ke warung mbok Inah untuk membeli beberapa sayuran untuk dia masak hari ini.


Seperti biasa saat dalam perjalanan dia berpapasan dengan ibu ibu rempong. Siapa lagi coba kalau bukan ibu Tutik and the geng.


"Ehh ada mbak Dea, mau kemana mbak pagi pagi gini kok udah cantik aja. Mau godain suami suami kita ya." ucap ibu Tutik tak memikirkan perasaan Dea sama sekali.


"Astaghfirullah Bu, kalau ngomong di jaga ya. Saya cuma mau ke warung mbok Inah saja tidak ada maksud untuk godain suami ibu. Lagian apakah salah kalau saya tampil seperti ini." balas Dea yang mulai tersulut emosi.


"Halah mbak Dea gak usah bohong, orang suami kita sendiri kok yang bilang kalau mbak Dea itu cantik." ucap ibu Iva.


"Dasar suami capek kerja cari uang, ehh malah istrinya di rumah sibuk godain suami orang." cibir ibu Tutik.


"Astaghfirullah ibu, saya tidak seperti itu. Bukan salah saya kalau suami ibu suka sama saya. Tapi salah'ibu ibu sendiri kenapa sibuk mencibiri saya. Dari pada ibu ibu bergosip sana sini, lebih baik ibu duduk anteng di rumah mempercantik diri biar suami gak kepincut." balas Dea.


"Kamu bilang kita gak cantik gitu?" tanya ibu Iva yang tak suka dengan kalimat yang di ucapkan Dea.


"Lah bukannya emang begitu Bu, kalau ibu cantik ya mana mungkin suami ibu akan berpaling. Toh apa yang suami ibu bilang itu benar kalau saya itu cantik." balas Dea dengan pede mengakui kecantikannya.


"Ingat ibu ibu, jangan kebanyakan bergosip di luar nanti kalian bisa item loh. Lebih baik duduk anteng di rumah pakai masker biar suami nanti pangling." ucap Dea dan segera pergi dari sana meninggalkan ibu ibu yang sibuk mencerna ucapan Dea.


"Apa yang di bilang mbak Dea sepertinya benar Bu, kita harus mempercantik diri seperti mbak Dea biar suami kita gak berpaling." ucap ibu yupi yang setuju dengan apa yang Dea ucapkan.


"Iya itu benar, yang sudah nanti ayo kita cari skincare yang bisa bikin kita putih glowing seperti anak muda." setuju ibu Tutik.


"Ya udah ayo kita pulang, biar kita tidak hitam seperti apa yang mbak Dea bilang tadi." ajak ibu Iva.


"Iya ayo." balas mereka.


Akhirnya pasukan ibu ibu itu pun pergi dari sana pulang ke rumah masing-masing karena takut hitam seperti apa yang Dea ucapkan tadi.


Sementara itu di posisi Dea, dia tengah memikirkan sesuatu.


"Sepertinya nanti ibu ibu itu bisa aku jadikan pelanggan perdana. Mumpung mereka lagi kemakan omonganku jadi aku nanti malam harus segera gercep daftar member." gumam Dea sambil berjalan menuju warung mbok Inah.


Sampai di warung Dea langsung memilih sayuran yang hendak dia beli.


"Kangkungnya ini berapa mbok seikat?" tanya Dea pada mbok inah yang tengah menghitung uang.


"Tiga ribu ndok." jawab mbok Inah.


Dea pun memilih kangkung yang masih segar dan memilih sayuran yang lainnya lagi. Dea mengambil jagung manis, cabe rawit sama cabe mereh. Terus dia juga menggambil kecap ada sansetan sama terasi.


"Ini semua berapa mbok." tanya Dea memberikan sayuran yang sudah dia ambil.


"Dua puluh dua ribu ndok." jawab mbok Inah setelah menjumlahkan belanjaan Dea.


"Tambah tahunya satu mbok." ucap Dea menunjuk tahu putih yang ada di hadapan mbok Inah.


"Jadi berapa mbok?" tanya Dea.


"Dua puluh lima ndok." jawab mbok Inah.


Dea pun memberikan uang seratus ribu kepada mbok Inah dan mbok Inah pun langsung mengambil langkah uang kembaliannya.


...***...