
Jam lima sore Dea baru membuka matanya, orang yang pertama kali dia lihat adalah Anang yang duduk di sampingnya dan tengah menatap dirinya penuh cinta.
"Apakah ada yang sakit?" tanya Anang dengan lembut.
Dea hanya diam saja menatap ke arah Anang, Anang yang mendapatkan tatapan seperti itu pun agak ngeri.
"Kenapa hmm?" tanya Anang lagi.
"Kenapa kamu gak ngasih tau aku sejak awal aku sadar kalau aku keguguran, kenapa kami harus bohong?" tanya Dea menatap Anang dengan serius.
"Itu, emm... itu...."
"Kenapa mas, jawab aku?" tanya Dea dengan tegas.
"Tenang sayang jangan emosi, kamu habis operasi loh."
"Aku gak ngasih tahu kamu karena aku takut kamu akan syok seperti tadi. Itu juga atas perintah dokter karena dokter tidak mau mengambil resiko yang lebih besar lagi." lanjut Anang menjelaskan.
"Aku gagal mas, aku gak bisa jadi ibu yang baik." ucap Dea sedih.
"Ssttt... kamu sudah menjadi ibu yang baik buat anak kita, kamu jangan sedih lagi ya biar anak kita tidak sedih di sana." balas Anang agar Dea tidak terus terusan bersedih.
"Kamu tahu mas, aku sudah membayangkan bagaimana nanti setelah anak kita lahir aku akan sibuk mengurus dia dan kamu juga setiap pagi yang selalu teriak teriak manggil aku." ucap Dea sambil melamun membayangkan hal yang sudah dia bayangkan sebelumnya.
"Bukan kamu saja sayang, mas juga membayangkan hal seperti itu. Percaya sama mas kalau nanti kita bakal mendapatkan gantinya yang lebih. Sekarang kami makan dulu ya, lihat tuh makanannya udah mau dingin." ucap Anang sambil menunjuk makanan yang ada di samping tempat tidur Dea.
"Aku gak mau makan mas, mulutku pait." balas Dea.
"Makanya itu kamu harus makan biar mulut kamu gak pait lagi, sini aku suapin." paksa Anang.
Akhirnya mau tak mau Dea pun menerima suapan dari Anang, dengan telaten Anang menyuapi Dea hingga tinggal sedikit Dea sudah tidak mau lagi.
"Udah mas, aku udah kenyang." tolak Dea saat Anang akan menyuapinya lagi.
"Ya sudah, habis ini kamu minum obatnya biar cepat sembuh." suruh Anang mengambilkan obat obatan untuk Dea yang sudah di siapkan di dalam wadah.
Dea pun menerimanya dan langsung memakannya dengan air mineral.
"Ibu sama bapak kemana mas?" tanya Dea setelah meminum obat.
"Ibu lagi sholat, kalau bapak kayaknya lagi ngerokok kayak tadi." jawab Anang.
"Oh iya mas, anak kita kamu kubur di mana?" tanya Dea penasaran.
"Nanti kalau kamu sudah sembuh aku ajak kamu ke sana." balas Anang.
"iya mas." balas Dea.
"Yang aku boleh tanya gak?" ucap Anang.
"Tanya apa mas?" balas Dea.
"Kamu ada makan sesuatu gak sebelum kamu pingsan?" tanya Anang.
"Eemmm... makan apa ya, aku cuma minum obat sama vitamin, tapi sebelum itu aku makan makanan dari ibu Tutik. Emang kenapa mas?" jawab Dea dan bertanya.
"Sudah ku duga." ucap Anang.
"Kenapa sih mas?" heran Dea.
"Apakah makanan dari ibu Tutik itu yang ada di tempat penyimpanan makanan?" bukannya menjawab, Anang malah bertanya lagi.
"Iya mas." jawab Dea.
"Kamu tahu apa yang membuat kamu keguguran?" tanya Anang dan di balas gelengan kepala oleh Dea karena memang dia tidak tahu.
"Tapi aku gak makan apa apa mas."
"Kita tunggu saja hasil lab dari makanan yang kamu makan waktu itu." balas Anang.
"Kalau memang di makanan itu mengandung racun, kenapa ibu Tutik melakukan itu sama aku mas?" heran Dea.
"Mas juga gak tahu apa motifnya, yang pasti tindakan dia sudah jahat dan harus di hukum." balas Anang.
"Kamu akan melaporkannya mas?"
"Iya, karena mas tidak terima dengan apa yang sudah dia lakukan."
"Aku ikutin apa kata kamu saja mas." balas Dea pasrah.
"Kamu tenang saja, meskipun kita tidak sekaya mereka tapi percaya sama mas kalau yang salah akan mendapatkan hukuman yang pantas buat mereka. Kalau tidak di dunia ya nanti saat di akhirat." balas Anang.
"Iya mas aku percaya itu." balas Dea.
Mereka pun berpelukan untuk menguatkan satu sama lain, mereka harus saling support satu sama lain dan harus ada di saat salah satu membutuhkan sandaran.
-
Keesokan harinya, hasil lab sudah keluar dan ternyata hasilnya memang terbukti di makanan yang di berikan ibu Tutik itu mengandung racun yang dapat melemahkan kandungan seseorang.
Sebenarnya racun itu tidak terlalu berbahaya tapi karena Dea mengonsumsinya dalam jumlah banyak dan saat itu juga kondisi tubuh Dea sedang tidak baik sehingga membuat Dea harus mengalami keguguran.
"Nang apa kamu sudah yakin akan membawa kasus ini ke polisi?" tanya ibu Santi.
"Yakin Bu, karena ini sudah termasuk dalam tindakan kejahatan." balas Anang.
"Terus nanti kalau mereka melakukan banding dan lain sebagainya kamu gimana, kita gak ada uang untuk melakukan itu semua Nang?" tanya ibu Santi lagi.
"Kita pikirkan belakangan Bu, yang terpenting orang itu harus mendapatkan jera dulu, mungkin sekarang dia lagi pesta karena mengira kalau kita tidak tahu dan tidak berani melaporkannya." balas Anang yakin.
"Ya sudah ibu hanya bisa bantu doa, semoga semuanya berjalan dengan lancar dan tidak ada hambatan." balas ibu Santi berdoa agar apa yang akan di lakukan Anang berhasil dan tidak mendapatkan hambatan.
"Aamiin bu, bapak mana bu Anang mau mengajak bapak untuk pergi ke kantor polisi." tanya Anang.
"Seperti biasa bapakmu pasti lagi merokok, ibu heran sama dia sehari masak habis 4 pak rokok, bisa bangkrut nanti ibu." tak habis pikir ibu Santi.
"Mungkin bapak sudah kecanduan Bu." balas Anang santai.
"Kamu juga mas, aku gak suka ya kalau kamu jadi perokok." ucap Dea pada Anang.
"Iya sayang, kamu kan tahu sendiri kalau aku tidak merokok." balas Anang.
"Ya sudah bu, aku pamit dulu doain semoga semuanya lancar." pamit Anang pada ibu Santi.
"Iya nak doa ibu selalu menyertai kamu." balasan ibu Santi.
"Yang aku pergi dulu ya, doain aku semoga semuanya lancar." pamit Anang pada Dea.
"Iya mas, kamu'hati hati ya, ajak bapak biar kamu ada temennya." balas Dea.
"Iya yang." balas Anang dan pergi dari ruangan Dea.
Anang pergi mencari bapak mertuanya yang sibuk merokok, setelah mendapatkan bapak mertuanya, Anang langsung mengajak pak Dadang untuk pergi ke kantor polisi.
Anang lupa kalau dia mempunyai Abang yang akan selalu membantunya, mungkin nanti kalau Joni tahu dia akan marah sama Anang karena sudah tidak memberitahu dirinya perihal Dea yang mengalami keguguran.
...*** ...