
Saat ini Dea dan Anang berada dalam perjalanan pulang setelah tadi nongkrong bersama teman teman kerja Anang. Dea memeluk pinggang Anang dengan erat sedangkan Anang mengunakan satu tangannya untuk memegang tangan Dea yang berada di perutnya.
"Kamu mau jalan jalan lagi gak?" tanya Anang pada Dea dengan suara agak keras agar Dea dapat mendengarnya.
"Hah, apa?" tanya Dea karena dia tidak mendengar dengan jelas suara Anang.
"Kamu mau jalan-jalan lagi gak?" tanya Anang menggulung ucapannya lagi, tapi kali ini Anang menggunakan suara yang lebih keras lagi.
"Terserah kamu aja." balas Dea.
"Ya udah kita ke alun alun kota aja mau gak?"
"Mau mau banget." balas Dea senang.
Dea kalau di ajak jalan jalan itu sangat suka. Apalagi kalau jalannya sama orang yang kita sayang.
Anang pun melajukan motornya menuju alun alun kota Semarang. Setelah sampai di sana Anang langsung memakirkan motornya di tempat parkir dan dia menggajak Dea untuk jalan jalan di sana.
"Kamu mau jajan apa?" tanya Anang karena di pinggir jalan banyak stan stan yang menjual jajanan.
"Nanti aja aku mau jalan jalan aja sama kamu." tolak Dea.
"Ya udah nanti kalau mau apa apa bilang ya sama aku." ucap Anang dan di balas anggukan oleh Dea.
Mereka berjalan mengelilingi alun alun, kadang juga Dea meminta Anang untuk memfotokan dirinya. Dan terkadang juga Dea mengajak Anang untuk berfoto selfie terus terus dia upload di story sosmed nya.
"Kita duduk di sana yuk mas." ajak Dea melihat ada tempat duduk yang kosong.
Dea menyeret tangan Anang mendekati tempat duduk itu dan setelah sampai di sana dia langsung mendudukinya dan Anang duduk di sampingnya.
"Indah banget ya malam ini." ucap Dea sambil menyandarkan kepalanya di pundak Anang.
"Iya, tapi ada lagi yang lebih indah dari malam ini." balas Anang menatap ke arah wajah Dea.
"Apa?" tanya Dea penasaran dan juga menatap ke arah Anang.
"Kamu."
"Kamu itu jadi terindah yang Tuhan ciptakan untuk aku, aku sangat bersyukur karena bisa mempunyai kamu. Kamu adalah keindahan yang paling indah di antara keindahan yang lainnya." lanjut Anang.
"Apaan sih gombal." pipi Dea bersemu merah.
"Siapa juga yang gombal, orang aku serius kok." balas Anang menatap ke depan.
"Aku tuh gak nyangka banget bisa mendapatkan kamu. Dulu aku kira saat aku datang ke Malang bakal mendapatkan penolakan dari keluarga kamu. Ehh taunya mereka malah menerima aku, bahkan mereka juga menyambut aku dengan sangat baik."
"Dari sana aku bertekad untuk membahagiakan kamu, aku akan berusaha dan bekerja keras untuk membahagiakan kamu." lanjut Anang.
"Mas, kamu so sweet banget sih." terharu Dea, Dea memeluk Anang dari samping.
"Tidak, ini belum seberapa. Aku akan membuktikan ke kamu kalau aku bisa membuat kamu hidup bahagia lebih dari yang sekarang." balas Anang.
Anang menarik Dea yang memeluknya dari samping ke dalam pelukannya yang lebih dalam lagi. Anang meletakkan kepala Dea di depan dadanya agar Dea bisa mendengarkan detak jantung Anang.
"Apakah kamu mendengarnya?" tanya Anang dan di balas anggukan oleh Dea.
"Seperti itu lah kalau aku chatingan setiap hari semasa pacaran kita dulu." balas Anang.
"Aaa... mas aku jadi makin baper deh." ucap Dea mendongakkan kepalanya menatap wajah Anang yang berada di atasnya.
"Aku tahu tadi kamu sempat tidak nyaman saat berada di cafe, kamu minder sama teman teman aku. Apalagi setelah Rita pacar Sahrul mengajak kamu ngobrol." ucap Anang lagi membuat Dea melepaskan pelukan Anang.
"Kamu denger?" tanya Dea dan di balas anggukan oleh Anang.
Anang kembali membawa Dea ke dalam pelukannya sambil tangannya mengelus kepala Dea dengan lembut sehingga menimbulkan rasa nyaman bagi Dea.
"Bukan maksud aku melarang kamu untuk bekerja, aku cuma tidak suka aja kalau kamu nanti dekat dengan laki laki lain. Aku cemburu melihat kamu dekat dengan lelaki lain." jelas Anang.
"Tapi kan aku bisa bekerja di tempat yang gak ada cowoknya mas." balas Dea.
"Tetap saja aku tidak suka, kalau kamu memang mau mencari uang, kamu bisa mencarinya hanya di rumah saja." bantah Anang.
"Maaf aku terlalu protektif sama kamu, itu semua aku lakukan karena aku sayang sama kamu. Aku gak mau kamu kenapa kenapa di luar sana." lanjut Anang.
"Terus aku kalau di rumah itu kerja apa mas, aku kan juga pengen tahu rasanya dunia luar." balas Dea.
"Kamu bisa berjualan online atau membuka toko di rumah. Kalau kamu mau tahu dunia luar tunggu aku pulang kerja, aku pasti akan langsung menggantarkan kamu kemanapun kamu mau."
"Tapi kalau aku berjualan online kan aku gak ada teman teman di kota ini, temanku semuakan adanya di Malang."
"Apakah kamu lupa kalau sekarang sudah banyak toko online tempat orang orang berjualan. Kamu bisa membuka toko kamu di sana, soal dananya kamu gak perlu khawatir."
"Ya udah mas, tapi nanti kamu bantuin aku ya. Biar aku bisa menghasilkan uang dan tidak merepotkan kamu lagi." balas Dea dan langsung mendapatkan tatapan tidak suka dari Anang.
"Ini yang aku tidak suka dari kamu kalau kami kerja. Ingat ya nanti meskipun kamu sudah mendapatkan uang itu uangnya semua untuk kamu sendiri jangan buat untuk biaya kehidupan sehari hari seperti di dapur. Karena itu menjadi tanggung jawab aku." pesan Anang.
"Iya mas aku tahu, makasih ya kamu udah baik banget sama aku." balas Dea tak mau lagi memperpanjang masalah.
"Itu memang baru aku lakukan, dan kamu jangan terus terusan merasa di repotkan ya. Aku tidak keberatan, aku malah suka kalau kamu merepotkan aku. Itu tandanya aku sebagai suami memang berguna."
Mereka berdua berpelukan sangat lama, hingga pukul tujuh malam baru Dea mengajak Anang untuk membeli jajanan karena dia sudah mulai lapar lagi.
"Masih aku mau ini ya." ucap Dea saat sampai di penjual krepes.
"Mas aku mau krepesnya dua ya, kamu mau rasa apa sayang?" tanya Anang pada Dea.
"Coklat keju." jawab Dea.
"Krepes dua rasa coklat keju semua ya mas." ucap Anang.
"Baik mas, silahkan di tunggu sebentar ya." balas penjual krepes.
"Mau apa lagi?" tanya Anang.
"Mau itu boleh?" tanya Dea menunjuk penjual rambut nenek.
"Boleh, emang kamu gak mau gula kapas?"
"Enggak, aku mau rambut neneknya aja." balas Dea.
"Ya udah kamu tunggu di sini ya, biar aku yang beli." ucap Anang dan di angguki oleh Dea.
...***...