From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#19



"Ini ndok kembaliannya." ucap mbok Inah memberikan kembalian uang Dea.


"Terimakasih mbok." balas Dea.


"Iyo ndok." balas mbok Inah.


Dea pun berjalan pulang menuju rumahnya, di jalan dia bertemu dengan ibu Ira yang tengah menyirami tanaman di depan rumahnya.


"Habis belanja a mbak Dea?" tanya ibu Ira.


"Iya Bu." balas Dea sambil tersenyum.


"Oh iya mbak Dea nanti habis dhuhur bisa gak datang ke acara pengajian di mushola." ibu Ira mengundang Dea.


"Emang ada acara apa Bu?" tanya Dea.


"Pengajian biasa yang di lakukan satu bulan sekali mbak." jawab ibu Ira.


"Oh iya bu nanti akan Dea usahakan datang." balas Dea.


"Nanti kalau mbak Dea mau datang tak panggil ke rumah mbak Dea biar nanti perginya bisa barengan."


"Oh iya bu boleh, nanti ibu langsung pangil ke rumah Dea aja Bu. Emang acaranya jam berapa ya bu tepatnya, biar nanti Dea bisa siap siap?" tanya Dea.


"Jam dua baru di mulai mbak, tapi nanti saya berangkatnya jam setengah dua karena saya kan harus menyebut tamu tamu yang hadir mbak." jawab ibu Ira.


"Oh iya bu nanti biar Dea siap siap. Ya udah kalau gitu Dea pamit pulang dulu ya bu masih mau masak soalnya." pamit Dea pada ibu Ira.


"Iya mbak." balas ibu Ira.


Dea pun melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Sedangkan ibu Ira juga melanjutkan kegiatannya menyiram tanaman yang ada di depan rumahnya.


Sampai di rumah Dea langsung membuat bakwan jagung dan tumis kangkung sama tahu. Dan setelah itu dia juga tak lupa membuat sambal terasi agar nanti kalau makan lebih nikmat.


Dea itu pecinta pedas, sedangkan Anang tidak suka pedas. Jadi Dea kalau masak tidak pernah memakai cabe atau paling tidak hanya memakai cabe satu atau tiga. Dan sebagai gantinya Dea membuat sambal untuk dirinya sendiri.


Selesai masak Dea menyetrika gamis yang nanti akan dia kenakan ke acara pengajian rutin tiap bulan. Untung aja Dea dulu waktu beres beres ke Semarang dia membawa gamis juga, coba kalau tidak bisa bisa dia kelimpungan harus memakai pakaian apa nanti.


-


Saat ini Anang tengah istirahat karena memang sudah waktunya jam istirahat. Dia duduk selonjoran di depan mesin kerjanya untuk merenggangkan otot ototnya.


"Ehh Nang lo udah denger belum?" tanya Rizky teman Anang yang duduk selonjoran di samping Anang.


"Denger apa Riz?" tanya Anang.


"Itu, katanya di pabrik ini bakal ada PHK besar besaran karena pabrik mengalami kerugian yang besar." jelas Rizky.


"Hah, seriusan Lo? Kok gw baru denger sekarang ya. Trus udah ada info gak siapa yang bakal kena PHK?" tanya Anang.


"Ya lo kan sibuk sekarang, kalau soal siapa yang bakal di PHK sih belum jelas."Jawab Rizky.


"Ya semoga saja bukan di antara kita lah, soalnya sekarang nyari kerja itu sulit coy." sahut Gilang yang baru saja datang setelah makan siang.


"Bener, gw tuh kadang mau ngeluh capek setelah pulang kerja, ehh waktu lihat story temen temen yang belum dapat kerja tuh rasanya jadi bersyukur udah dapatin pekerjaan." Sahut Bima.


"Iya kan emang capeknya kerja itu lebih capek saat kita nyari kerja." setuju Sahrul.


"Tapi nanti gimana kalau kita yang kena PHK." takut Anang.


"Ya banyak banyak berdoa saja semoga itu bukan kita." balas Rizky.


"Mana pengeluaran lagi banyak banyaknya lagi." gumam Anang.


"Aamiin semoga saja." balas mereka semua.


"Ehh udah mau jam masuk nih, yok siap siap." ajak Bima.


"Yuk." balas mereka semua dan kembali ke depan mesin mereka masing masing.


Mereka bekerja dengan giat, apalagi setelah mendengar bakal ada PHK makin semangat mereka kerjanya.


-


Dea sudah cantik di depan cermin rias yang ada di kamarnya. Dia memakannya gamis hijau toska dan kerudung Bella square warna putih tulang.


"Dah cantik, saatnya nunggu ibu Ira." monolog Dea di depan cermin riasnya.


Dea juga tadi sudah menghubungi owner dan bilang untuk daftar. Dan setelah itu dia langsung di masukkan ke grup kumpulan para penjual.


Di sana dia dapat belajar cara menjual yang baik dan dapat di minati pembeli itu seperti apa. Dan Dea juga sudah mulai memosting dagangannya di akun media sosialnya.


Meskipun Dea belum membayar untuk daftar member, tapi tadi kata owner Dea itu tidak apa apa. Soalnya Dea memberikan alasan kalau dia nanti malam sehabis magrib akan membayarnya ke sana.


Tok tok tok.


"Mbak Dea, ayo berangkat." ucap ibu Ira memanggil Dea sambil mengetuk pintu rumah Dea.


"Iya bu sebentar." balas Dea mengambil tas selempang dan handphone miliknya.


Dea berjalan untuk membuka pintu rumahnya.


Ceklek.


Pintu rumah terbuka dan menampilkan ada ibu Ira dan juga ibu Marni di sana.


"Maaf ya ibu ibu Dea bikin kalian menunggu." ucap Dea sambil mengunci pintu rumahnya.


"Enggak kok mbak, kita juga baru sampai di sini." balas ibu Ira dan ibu Marni.


"Ya udah yuk kita berangkat, nanti keburu tamu tamunya pada hadir." ajak ibu Ira.


Mereka bertiga pun berjalan menuju musholla terdekat. Ibu Ira berada di tengah dan Dea dan juga ibu Marni berada di sisi kanan dan kiri ibu Ira.


Dari ketiganya, aura Dea lah yang paling mencolok. Dea terlihat sangat cantik, apalagi dengan mengenakan gamis yang warnanya senada dengan kulit putih mulus Dea.


"Mbak Dea cantik banget sih." puji ibu Marni sambil berjalan menuju musholla.


"Ibu Marni bisa aja, Dea mah biasa aja sama seperti kalian." merendah Dea.


"Enggak loh mbak, mbak Dea itu cantik dan terlihat awet muda seperti masih sekolah." balas ibu Marni.


"Benar mbak, bahkan tadi waktu saya pergi ke warung tuh rombongan ibu Tutik lagi ghibahin mbak Dea. Kata mereka suaminya pada muji kalau mbak Dea itu cantik." timpal ibu Ira.


"Hahahaha itu karena suami mereka aja bu yang kurang bersyukur memiliki istri seperti mereka. Orang Dea biasa aja sama seperti kalian."Balas Dea merendah.


"Iya sih mbak emang kita itu akan cantik di mata orang yang tepat." balas ibu Marni.


"Nah itu ibu tahu."


"Tapi mbak, bener loh kata suami mereka kalau mbak Dea itu emang cantik. Terus kulit mbak Dea juga putih mulus. Rahasianya apa sih mbak?"


Wah, apakah ini kesempatan Dea untuk promosi..


...***...