
"Aduh apa ya Bu, Dea bingung jawabnya. Mungkin juga emang karena tempat tinggal Dea yang dulu jadi kulit Dea seperti ini, atau mungkin juga hasil dari gen keturunan keluarga Dea Bu." balas Dea bingung harus menjawab apa, karena memang dia selama ini tidak memakai apa apa, dan kulitnya sudah seperti itu dari sejak dia lahir kata ibunya.
"Eemmm... tapi Dea ada rekomen sabun yang cocok untuk memutihkan tubuh Bu, terus Dea juga ada beberapa macam skincare yang bisa membuat kulit wajah tetap awet muda dan putih Bu." lanjut Dea.
"Apa mbak, siapa tahu saya bisa beli?" tanya ibu Marni antusias.
"Dea minta nomor ibu aja, biar nanti bisa Dea hubungi ibu." balas Dea.
"Oh baik mbak, nanti didalam saya kasih nomor ke mbak Dea." balas ibu Marni.
"Saya juga mau dong mbak." ucap ibu Ira.
"Baik bu, nanti ibu kasih nomor ke saya saja ya." balas Dea.
"Iya mbak."
Mereka pun sudah sampai di mushola, keadaan masih belum terlalu banyak yang datang. Hanya sebagian orang saja yang mungkin rumahnya dekat dengan musholla.
"Assalamualaikum." salam mereka bertiga saat memasuki area musholla.
"Waalaikum salam." balas mereka yang ada sudah datang.
"Oh iya buat ibu ibu yang belum kenal sama mbak Dea, ini perkenankan namanya Dea dia tetangga baru kita." ucap ibu Ira memperkenalkan Dea kepada ibu ibu yang ada di sana.
"Iya ini, dulu mbak Dea waktu saya undang ke pengajian di rumah saya gak datang. Jadi mereka belum kenal mbak Dea kan." timpal ibu Marni.
"Hehehe maaf Bu, waktu itu Dea sama suami lagi ada keperluan mendadak." balas Dea merasa tidak enak.
"Tidak apa apa mbak, saya juga dulu tidak memaksa kok."
"Salam kenal ya mbak Dea, sering sering ikut ngumpul seperti ini mbak biar banyak temannya." ucap salah satu ibu ibu yang ada di sana.
"Iya Bu." balas Dea.
Tak berapa lama datanglah rombongan ibu ibu tukang gosip, siapa lagi kalau bukan ibu Tutik dan kawan kawan.
"Assalamualaikum." salam mereka.
"Waalaikum salam." balas Dea dan yang lainnya.
"Wah ternyata mbak Dea sudah ada di sini." ucap ibu Tutik saat melihat adanya Dea di sana.
"Iya Bu, tadi di panggil sama ibu RT." balas Dea sambil tersenyum ramah.
"Baguslah biar gak ndekem aja di rumah." balasan ibu Iva.
"Maaf ibu ibu, saya mohon untuk kali ini ucapannya agak di jaga ya, soalnya ini tempat ibadah." tegur ibu Ira kepada ini ibu yang lain."
"Iya Bu." balas mereka semua.
Pengajian pun berlangsung dan setelah pengajian selesai mereka makan manisan yang sudah di sediakan di sana, sambil bergosip dikit dikit.
"Oh iya mbak Dea ini nomor telfon saya sama ibu RT." ucap ibu Marni menyodorkan handphonenya yang memperlihatkan nomor telfonnya dan ada satu lagi nomor telepon di bawahnya yang mungkin punya ibu Ira.
"Iya Bu biar Dea catat dulu." balas Dea dan langsung mencatat nomor ibu Marni dan ibu Ira di handphonenya.
"Emang mau buat apa sih?" tanya ibu Tutik kepada ibu Marni.
"Ini tadi mbak Dea mau kasih tahu produk terbaik buat perawatan kulit biar putih dan awet muda." jawab ibu Marni.
"Oh." balas ibu Tutik hanya berOH ria saja.
"Ehh bu ayo kita ikutan, siapa tahu kulit kita bisa seputih punya mbak Dea." bisik ibu Iva kepada teman temannya.
"Iya itu benar, biar nanti suami kita gak lirik cewek lain." balas yang lainnya.
"Iya Bu." balas Dea melihat ke arah ibu Tutik yang tengah duduk berkumpul bersama teman gosipnya.
"Kita mau ikutan juga dong." ucap ibu Tutik dan di angguki teman temannya.
"Boleh Bu, nanti ibu bisa meminta nomor saya di ibu Marni atau ibu RT." balas Dea dengan senang hati.
"Mungkin ini jadi salah satu jalan pintu rezeki buat Dea." batin Dea.
Jam sudah menunjukkan pukul empat lebih, mereka semua pun pada pulang ke rumah masing-masing karena memang acara pengajian sudah selesai.
Dea sampai rumah langsung menyiapkan air hangat untuk Anang dan juga pakaian santai buat Anang. Dan setelah itu dia langsung menghangatkan makanan buat Anang biar nanti Anang sampai bisa langsung makan atau mandi terlebih dahulu.
Tak berapa lama terdengar suara motor Anang yang berhenti di depan rumah mereka. Dea pun langsung pergi menunaikan pintu untuk menyambut kedatangan suaminya.
"Assalamualaikum sayang." sapa Anang mencium kening Dea.
"Waalaikum salam mas." balas Dea mencium punggung tangan Anang.
"Gimana kerjanya hari ini?" tanya Dea.
"Alhamdulillah lancar, kamu gimana di rumah, ada yang julit lagi gak?" balas Anang bertanya.
"Ada sih tadi, cuma sekarang mereka malah berlomba lomba minta nomor telfon aku." jawab Dea yang membuat kening Anang berkerut bingung.
"Loh kenapa bisa seperti itu?" tanya Anang.
"Iya dong, jadi tadi aku itu...." Dea pun menceritakan semuanya yang terjadi tadi siang, Anang yang mendengar itupun bangga dengan istrinya.
"Kamu memang memiliki jiwa jiwa penjual sayang." puji Anang.
"Hahaha bisa aja kamu." tawa Dea.
"Iya loh, gak semua orang bisa lancar berbicara seperti kamu. Apalagi tadi itu kamu bicaranya sama orang orang yang suka nyiyir sama kamu."
"Iya juga sih, Oh iya mas nanti malam antar aku pergi ke owner yang aku bilang itu ya." pinta Dea.
"Iya sayang, tapi nanti malam habis magrib aja ya." balas Anang.
"Iya mas."
"Kamu mau makan dulu apa mandi dulu?" lanjut Dea.
"Makan dulu aja, udah lapar soalnya." balas Anang berjalan menuju meja makan.
"Wah kamu masak apa ini?" tanya Anang yang sudah duduk di meja makan.
"Ini aku masak tumis kangkung sama tahu terus ini juga aku ada buat bakwan jagung sama sambal terasi." Jawab Dea menyebutkan satu persatu masakan yang sudah dia buat.
"Aku mau cobain semuanya dong." ucap Anang dan Dea pun langsung mengambilkan nya untuk Anang.
"Mau sambal juga?" tanya Dea dan di balas gelengan kepala oleh Anang.
"Kamu tahu aku gak suka pedas sayang." balas Anang sambil menyuapkan satu sendok nasi serta lauknya ke dalam mulut.
"Kamu gak makan juga?" tanya Anang.
"Gak mas aku masih kenyang, tadi habis makan sama ibu ibu di mushola waktu selesai pengajian." balas Dea dan di angguki Anang.
Anang makan dengan lahap karena memang masakan Dea sangat enak. Bahkan tadi Anang sempat nambah. Dan selesai makan Anang langsung pergi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket akan keringat.
Sedangkan Dea tetap di dapur untuk beres beres, dan setelah selesai dia pergi menyusul Anang ke dalam kamar mereka.
...*** ...