
Setelah pulang kerja Anang tidak langsung pulang ke rumah, dia pergi menuju sebuah tempat yang di mana tempat itu adalah tempat para penjual mengambil barang dengan harga grosir.
Tempatnya sangat jauh dari rumahnya, bahkan hampir 3 kilometer jarak dari rumah Anang ke tempat ini.
Anang menghentikan laju motornya di depan sebuah bangunan yang sangat besar dan lebar.
Terlihat dari luar banyak barang yang ada di dalamnya, Anang pun langsung turun dari motornya dan masuk ke dalam sana.
" Assalamualaikum." ucap Anang saat masuk ke sana dan langsung menuju meja kasir.
"Waalaikum salam." balas orang orang yang ada di sana.
"Ada yang bisa kami bantu mas?" tanya salah satu orang yang ada di sana.
"Bisakah saya ketemu dengan pemilik tempat ini?" tanya Anang pada orang itu.
"Dengan mas siapa ya, apakah anda sudah membuat janji?" tanya orang itu.
"Saya Anang dan saya juga belum membuat janji." balas Anang.
"Maaf mas kalau masnya belum ada janji tidak bisa langsung ketemu sama bos." balas orang itu.
"Lalu bagiamana saya bisa menemuinya, apakah saya harus membuat janji setelah sampai sini?" tanya Anang.
"Benar mas, ini silahkan di tulis atas nama siapa dan apa tujuannya ke sini." jawab orang itu menyodorkan buku pada Anang.
"Tapi rumah saya jauh lo mbak, apakah tidak ada cara lain supaya saya bisa cepat ketemu orangnya?" tanya Anang, karena dia sampai di situ saja sudah magrib apalagi nanti sampai rumah.
Bisa bisa tengah malam baru sampai.
"Maaf mas, hanya ini caranya." balas orang itu.
"Hufft...." akhirnya mau tak mau Anang pun menulis nama serta tujuannya ke sana.
"Assalamualaikum." salam dua orang laki-laki dan perempuan yang baru masuk ke dalam sana.
"Waalaikum salam bos." balas semua pekerjaan.
Mendengar itu Anang pun melihat ke arah belakang di mana kedua orang itu berada.
"Loh mas Anang." ucap sang laki laki kaget melihat keberadaan Anang di sana.
"Pak Kenan, bu Kenan." balas Anang yang ikutan kaget.
"Sedangkan apa mas Anang di sini, sampai jauh jauh datang ke sini?" tanya pak Kenan papanya Kenzo.
"Saya mau bertemu dengan pemilik tempat ini pak." jawab Anang.
"Kenapa gak langsung masuk aja, kenapa masih ada di sini?" tanya pak Kenan.
"Maaf bos, mas ini belum membuat janji, jadi tadi saya suruh untuk membuat janji terlebih dahulu." sahut orang yang tadi berbicara pada Anang.
"Ooh ya sudah sekarang biarkan dia masuk bersama saya." balas pak Kenan.
"Baik pak." balas orang itu.
"Mari silahkan ikuti saya mas." ajak pak Kenan.
"Baik pak." balas Anang.
"Ayo gak usah sungkan sungkan." ajak ibu Kenan.
"Baik bu." balas Anang.
Anang pun mengikuti langkah pak Kenan dan bu Kenan masuk ke ruangan yang lebih dalam lagi, di perjalanan Anang bisa melihat banyaknya barang barang yang tertata disana.
"Silahkan duduk mas." suruh pak Kenan mempersilahkan Anang duduk.
"Iya pak terimakasih." balas Anang dan duduk di sofa yang ada di sana.
Sedangkan ibu Kenan pergi entah kemana dan hanya meninggalkan Anang dan pak Kenan sendiri di sana.
"Jadi apa tuan mas Anang ingin bertemu dengan saya?" tanya pak Kenan.
"Sebelumnya saya masih tidak menyangka kalau tempat ini adalah punya bapak, kalau tahu seperti itu tadi saya bisa bicara di sana saja." balas Anang.
"Ya mas Anang harus tetap ke sini biar tahu bagaimana tempat saya." balas pak Kenan.
"Hahaha benar juga pak." balas Anang sambil tertawa.
"Jadi saya ke sini berniat ingin menggambil barang di tempat bapak untuk saya jual lagi di daerah tempat tinggal saya." lanjut Anang menjelaskan tujuannya ke sana.
"Bukannya mas Anang sudah bekerja di perusahaan?" tanya pak Kenan heran.
"Sebenarnya saya itu kuli pabrik pak, terus beberapa hari yang lalu saya kena PHK karena perusahaan tempat saya kerja mengalami kerugian yang cukup besar."
"Dan untuk sementara saya ikut kerja di perusahaan Abang saya untuk mengisi waktu sebelum saya mendapatkan pekerjaan yang jelas, karena saya juga harus menghidupi istri saya." lanjut Anang.
"Loh mas Anang ternyata sudah berkeluarga to, saya kira mas Anang masih perjaka." balas pak Kenan tidak percaya kalau Anang sudah menikah.
"Iya pak, saya baru menikah sekitar satu bulan yang lalu, dan setelah saya diskusikan bersama istri saya, kami berencana untuk membuka usaha sendiri saja dari pada terus terusan ikut orang." balas Anang.
"Benar itu mas, saya juga dulu ikut orang dan gak bisa bebas, akhirnya saya dan istri mencoba untuk membuka usaha sendiri dan Alhamdulillah bisa sukses seperti sekarang." balas pak Kenan yang setuju dengan apa yang Anang ucapkan.
"Ini silahkan di minum." ucap ibu Kenan menghidangkan minuman serta camilan untuk Anang tamunya.
"Terimakasih bu, jadi ngerepotin." ucap Anang tidak enak.
"Tidak kok, kan tamu itu adalah raja jadi kita harus menyambut tamu itu dengan baik." balas ibu Kenan.
"Ayo silahkan di minum dulu sebelum nanti dingin." suruh pak Kenan.
"Baik pak." balas Anang dan mulai meminum minuman yang sudah di hidangkan untuknya.
"Ini loh ma, mas Anang ini ingin menggambil barang dari kita buat dia jual lagi di daerahnya sana." ucap pak Kenan menjelaskan pada bu Kenan.
"Benarkah mas Anang?" tanya ibu Kenan memastikan.
"Benar Bu, saya ingin membuka usaha sendiri bersama istri saya." jawab Anang.
"Loh, mas Kenan udah nikah to, saya kira belum." tak percaya ibu Kenan sama seperti pak Kenan tadi.
"Hehehe iya bu sudah." cengir Anang.
"Tuh kan mas Anang bisa denger sendiri kalau istri saya aja gak percaya kalau mas Anang ini sudah menikah." balas pak Kenan dan hanya di balas senyuman oleh Anang.
"Kalau mas Anang mau menggambil barang sebaiknya jangan di sini karena ini sudah harga jual." ucap ibu Kenan pada Anang.
"Lalu saya harus menggambilkannya di mana Bu, saya tanya ke orang orang mereka pada ngambil di sini?" tanya Anang.
"Ini alamat rumah saya, nanti mas Anang bisa datang ke rumah kalau ada waktu senggang dan nanti saya akan bawa mas Anang ke tempatnya langsung." jawab ibu Kenan menyodorkan alamat rumahnya.
"Baik bu, mungkin nanti waktu hari Minggu saya akan ke sana bersama istri saya." balas Anang.
"Nah bener itu, biar nanti kita bisa kenalan sama istri mas Anang." balas ibu Kenan setuju dengan apa yang Anang katakan.
...***...