From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#36



"Nah ini dia." seru Dea saat mendapatkan apa yang dia cari.


Gelang couple warna hitam yang sedang viral saat ini, banyak pasangan muda yang memakai gelang itu, oleh karena itu Dea jadi kepingin membelinya.


"Kamu mau beli itu?" tanya Anang.


"Iya, aku mau beli ini buat kita berdua." balas Dea.


"Pak gelang yang ini berapa?" tanya Dea kepada penjual gelang.


"Satu pasangan dua puluh ribu mbak." balas penjual gelang itu.


Dea menggambil gelang itu dari tempat gantungannya.


"Mas bayarin ya." pinta Dea pada Anang.


"Dua puluh ya pak?" tanya Anang memastikan.


"Iya mas." balas penjual itu.


Anang pun langsung membayarnya dan setelah itu Dea langsung menyeret tangannya kembali pergi berkeliling pasar malam.


"Sini deh mas tangannya." pinta Dea meminta tangan Anang.


Anang pun menyodorkan kedua tangannya, tapi Dea hanya menggambil tangan kiri Anang saja. Dea langsung memakaikan gelang itu ke tangan Anang.


"Nah kan sama." ucap Dea setelah selesai memakaikan gelang di tangan Anang.


Dea menggandeng tangan Anang yang menggunakan gelang dan setelah itu dia memotretnya.


"Dah tinggal di upload deh, mas nanti aku tag kamu ya di Ig." ucap Dea.


"Iya sayang, terserah kamu saja." balas Anang pasrah.


Malam pun tiba, keadaan pasar malam semakin rame pengunjungnya. Dea dan Anang saat ini sudah berada di dalam keranjang biang Lala.


"Aku gak sabar banget mas, pengen lihat pasar malam ini dari atas, pasti nanti bagus." ucap Dea saat biang Lala itu mulai bergerak pelan.


"Mas takut loh yang." ucap Anang jujur karena memang dia takut dengan ketinggian.


"Iss apaan sih, ngapain pakai takut, nanti aku bakal peluk kamu kalau sudah sampai di atas." balas Dea.


"Ya tapi tetap aja mas takut."


"Ya udah kalau kamu takut kamu turun aja, biar aku naik ini sendiri."


"Gak gak gak, aku akan tetap setia menemani kamu meskipun nanti nyawa aku sendiri taruhannya." balas Anang.


"Apaan sih kamu, lebay deh."


Mereka pun naik biang lala dengan Dea yang tertawa senang, sedangkan Anang dia ketakutan saat sampai di puncak.


Puas bermain di pasar malam, mereka berdua pun memutuskan untuk pulang ke rumah, saat sampai di rumah sudah ada ibu Tutik dan suaminya yang menunggu mereka di depan rumah Dea.


"Loh, ibu Tutik kok ada di sini?" tanya Dea.


"Iya mbak, kita kebetulan juga baru sampai sini kok, ehh malah kebetulan barengan sama mbak Dea yang baru sampai." balas ibu Tutik.


Dea membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam rumah.


"Mariah bu, pak masuk." ucap Dea mempersilahkan ibu Tutik dan juga suaminya masuk.


"Mas kamu temani mereka dulu ya, aku mau buat minum dulu." ucap Dea berbisik pada Anang.


"Iya yang." balas Anang.


"Mati bu, pak silahkan duduk." ucap Anang agar tamunya itu duduk.


"Iya mas." balasan mereka berdua.


"Bapak ini yang rumahnya tadi pagi aku sama Dea datang itu ya?" tanya Anang pada suami ibu Tutik.


"Maaf pak saya jarang ada di rumah jadi tidak tahu nama nama orang orang di sini." ucap Anang karena memang laki laki di kampung sini yang dia kenal hanya pak RT saja.


"Iya mas gak papa, kami juga para suami jarang ada di rumah." balas suami ibu Tutik.


"Kalau boleh tahu nama bapaknya siapa ya, kalau saya Anang." ucap Anang memperkenalkan dirinya.


"Saya Suswanto, atau biasa orang orang manggil saya Wanto." balas suami ibu Tutik yang ternyata bernama Suswanto.


"Ooh iya pak, salam kenal ya pak."


"Iya mas."


Dea datang sambil membawa nampan yang berisi minuman, Dea langsung menyajikannya di atas meja samping ibu Tutik dan juga pak Suswanto.


"Ini silahkan di minum, maaf adannya hanya kopi sama teh." ucap Dea.


"Iya mbak, jadi ngerepotin." balas ibu Tutik.


"Enggak kok Bu." balas Dea.


mereka berdua pun minum minuman yang sudah Dea buatkan, pak Suswanto kopi sedangkan ibu Tutik teh hangat.


"Mbak Dea jualan produk buat perawatan anu juga kan ya mbak?" ucap ibu Tutik bertanya.


"Iya Bu, apakah ibu Tutik tertarik buat beli?" tanya Dea.


"Iya mbak, saya mau beli yang sepaket buat memperbesar punya suami saya sama merapatkan milik saya juga mbak." jawab ibu Tutik tanpa rasa malu.


Anang yang mendengar pembicaraan para kaum perempuan pun mengalihkan pandangannya, dia menatap ke segala arah pura pura tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Oh ada Bu, kami punya semuanya bahkan obat kuat juga ada." balas Dea mempromosikan produk CISA.


"Tidak mbak, saya hanya cari dua tadi saja, kalau soal obat kuat mah suami saya juga masih kuat kok." balas ibu Tutik.


Tak beda jauh dengan Anang, pak Suswanto juga malu sendiri mendengar pembicaraan para kaum wanita ini.


Aneh memang, di saat biasanya laku laki yang paling semangat kalau soal masalah berhubungan badan, tapi di saat mereka mendengar para kaum wanita yang berbicara kenapa mereka malah malu seperti ini.


"Baiklah Bu, kalau gitu Dea ambilkan dulu ya di kamar." ucap Dea akan menggambilkan barang yang ibu Tutik inginkan.


"Boleh saya ikut mbak, saya mau lihat produk produk CISA yang lain." pinta ibu Tutik.


"Boleh Bu, ayo mari ikut Dea ke kamar." ajak Dea.


Ibu Tutik pun mengikuti Dea pergi menuju kamar Dea.


"Masih belum ada tempatnya jadi Dea taruh di sini deh Bu." ucap Dea saat sampai di dalam kamarnya.


Beruntungnya kamar Dea saat ini keadaan sedang rapi tidak berantakan seperti biasanya.


"Iya mbak, kan semuanya kalau mau usaha juga di mulai dari sedikit sedikit mbak." balas ibu Tutik.


"Kalau yang ini untuk apa mbak?" tanya ibu Tutik menunjuk sebuah produk yang wadahnya berwarna hitam.


"Kalau itu untuk memperbesar payud*** Bu." jawab Dea.


"Pengen beli untuk anak aku sih mbak, biar montok dikit kayak mbak Dea gitu, masak anak aku sudah kuliah tapi tubuhnya rata kayak triplek."


"Astaga ibu Tutik ada ada saja, masak anaknya di bilang rata kayak triplek sih."


"Bener loh mbak, emang yang ini berapa harganya mbak?" tanya ibu Tutik penasaran.


"Harganya 275 ribu Bu, nanti kalau ibu beli banyak produk seperti saat ini pasti Dea kasih diskon." jawab Dea.


"Aduh kok jadi pingin beliin anak ya, mbak kalau yang ini utang dulu gak papa kan mbak, biar dapat diskon gitu. Mungkin tiga hari lagi saya bayar waktu hari Minggu." ucap ibu Tutik.


...***...