From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#57



Dea sudah pulang dari rumah sakit, banyak tetangga tetangga yang datang menjenguk Dea, semua orang turut berdukacita atas kepergian calon anak Dea.


Semua orang sudah pulang dari rumah Dea, saat ini hanya tinggal Dea, Anang dan kedua orang tua Dea.


"Mas kapan kamu ajak aku ke makam anak kita?" tanya Dea pada Anang.


"Kamu istirahat dulu nanti sore baru aku ajak ke sana, biar gak terlalu panas." jawab Anang.


"Oke, awas aja nanti kalau gak jadi aku akan pergi sendiri."


"Emang kamu tahu tempatnya?" tanya Anang.


"Ya- ya gak tahu sih." jawab Dea.


"Makanya sekarang tidur nanti aku bawa kamu kesana." balas Anang.


"Baiklah aku ke kamar dulu." balas Dea.


"Iya tidur yang nyenyak biar cepat sehat."


Dea pun pergi ke dalam kamar, dan sekarang hanya tinggal Anang dan kedua orang tua Dea saja di ruang tamu.


"Assalamualaikum." ucap banyak orang yang datang ke rumah Anang.


"Waalaikum salam." balas Anang dan kedua orang tua Dea.


Masuklah beberapa orang kedalam rumah Anang, ada pak Suswanto, Dwi, Kenzo, pak Kenan dan juga ibu Zoya. Mereka semua datang ke rumah Dea entah apa tujuan.


"Mati silahkan duduk pak, Bu maaf tempatnya sempit." ucap Anang mempersilahkan tamunya untuk duduk.


Mereka semua pun duduk lesehan di atas tikar yang sudah Anang gelar sejak pulang dari rumah sakit tadi.


"Kami turut berdukacita ya mas atas kehilangannya calon anak mas Anang." ucap pak Kenan mewakili mereka semua.


"Iya pak terimakasih." balas Anang.


"Kedatangan kami ke sini juga bukan karena itu saja, kami ingin menanyakan apakah benar apa yang sudah di lakukan istri saya?" tanya pak Suswanto.


"Bapak bisa tanya langsung ke istri anda pak." jawab Anang.


"Saya sudah tanya, tapi istri saya bilang kalau itu hanya Fitnah." jelas pak Suswanto.


"Ya begitulah pak, mana mungkin orang yang sudah melakukan kejahatan akan mengaku." balas Anang sambil tersenyum smirk.


"Maaf mas Anang, tapi apakah anda punya bukti untuk semua itu, kalau tidak anda nanti bisa pasal pencemaran nama baik." timpal pak Kenan.


"Punya," Anang pergi ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.


"Silahkan di minum." ucap ibu Santi membawa nampan yang berisi air minum untuk mereka semua.


"Terimakasih bu." balas mereka.


Sedangkan pak Dadang hanya diam saja, dia tidak tahu harus ngomong apa, dari pada nanti salah ngomong lebih baik diam.


"Ini saya punya bukti hasil lab dari makanan yang ibu Tutik berikan kepada istri saya." ucap Anang memberikan surat hasil lab pada pak Kenan.


Pak kenan pun membaca surat itu, dan setelah itu dia memberikannya pada pak Suswanto.


"Kalau hanya itu mungkin tidak bisa di jadikan barang bukti pak, karena bisa jadi itu makanan bukan dari istri saya." ucap pak Suswanto.


"Terserah kalian mau percaya atau tidak, dan kalau kalian mau bebaskan penjahat itu juga silahkan saya tidak akan menahan, karena saya merasa saya sudah berusaha memberikan keadilan untuk calon anak saya yang sudah tidak ada." balas Anang tegas.


"Terus sekarang makanannya itu mana?" tanya Kenzo.


"Tidak ada, karena saya sudah membuangnya." jawab Anang.


"Cih, apakah kau mau menipu kita semua, itu gak akan bisa. Lihat saja nanti semua tuntutan itu akan kembali kepadamu." decih Kenzo.


"Saya yakin kalau di negri ini masih punya keadilan untuk orang miskin seperti saya meskipun itu hanya ada satu di antara seribu." balas Anang.


"Maaf mas Anang, nanti kalau sampai tuntutan itu tidak benar saya terpaksa akan mengambil semua barang saya yang ada di toko mas Anang." ucap pak kenan kepada Anang.


"Silahkan pak, saya tidak takut, kalau pun emang pak kenan mau mengambilnya berarti jalan rezeki saya tidak ada di sana." balas Anang tanpa rasa takut.


"Nak...."


"Biarkan Bu, Anang yakin kok kalau nanti Anang bisa mendapatkan pekerjaan yang lain lagi, apa itu tidak lihat bagaimana Dea menangis saat tahu dia kehilangan bayinya, hati Anang sakit Bu, Anang tidak terima dengan semua yang sudah penjahat itu lakukan." ucap Anang tegas kepada ibu Santi yang membuat ibu Santi langsung diam.


"Kalau sudah tidak ada lagi yang perlu kalian bicarakan maaf dengan berat hati saya mengusir kalian, silahkan pergi dari sini karena istri saya sedang istirahat, kalian bisa mengganggu istirahatnya jika berisik." usir Anang pada mereka semua.


"Cih kami juga tidak mau ada di sini, udah rumahnya sempit, jelek, sombong lagi." balas Kenzo.


"Sudah Ken ayo pergi dari sini, ayo pak." ajak pak Suswanto pada Kenzo dan keluarganya.


"Tunggu." ucap seseorang menahan kepergian mereka membuat mereka semua termasuk Anang melihat ke arah orang itu.


"Makanan itu emang dari mama, dan mama lah yang meracuni mbak Dea." ucap Dwi membuat mereka semua menatap Dwi dengan pandangan tidak percaya.


"Apa maksud kamu Dwi, mama kamu tidak mungkin seperti itu?" tanya pak Suswanto pada Dwi dengan nada yang keras.


"Dwi benar pa, mama memang yang melakukan itu, mama bilang sendiri pada Dwi dan Dwi juga yang mengantarkan mama membeli racun itu." jelas Dwi membuat semua orang tidak percaya dengan penjelasan Dwi.


"Dwi tidak berbohong, Dwi berani bersumpah atas nama anak yang ada di kandungan Dwi." lanjut Dwi.


"Sayang kenapa kamu ngomong seperti itu?" tanya Kenzo.


"Aku tahu bagaimana perasaan mbak Dea mas, dia pasti sangat berharap dengan kelahiran anaknya. Aku takut kalau menutupi ini semua nanti akan kembali kepada diriku sendiri, aku takut mas." jawab Dwi.


"Maaf mas Anang, kami sudah salah menuduh mas Anang." ucap ibu Zoya tidak enak.


"Tidak apa Bu, emang sudah biasa orang tidak punya akan di kalahkan oleh orang yang punya segalanya." balas Anang.


"Anang saya minta maaf, tolong maafkan saya, dan saya juga akan membantu kamu dalam menghukum istri saya." ucap pak Suswanto membuat semuanya semakin kaget.


"Kenapa kalian melihat saya seperti itu, saya berhak memberikan hukuman buat istri saya." lanjut pak Suswanto yang mendapatkan tatapan seperti itu dari orang orang.


"Iya pak terimakasih." balas Anang.


"Mas Anang saya minta maaf ya, sebagai gantinya nanti saya akan tambahkan lagi stok produk yang ada di toko mas Anang." ucap pak kenan meminta maaf.


"Terimakasih pak, tapi maaf itu tidak perlu, saya sudah cukup dengan yang sekarang kok." tolak Anang.


Semua orang kini giliran menatap Kenzo.


"Kenapa kalian liatin aku begitu?" tanya Kenzo pada mereka.


"Kamu gak mau minta maaf pada mas Anang?" tanya ibu Zoya.


"Huh, baiklah, mas saya minta maaf kalau tadi ada kata kata yang tidak enak di dengar oleh telinga mas Anang." ucap Kenzo meminta maaf.


"Iya saya juga minta maaf sama kamu kalau tadi kata kata saya ada yang menyingung hati kalian semua." balas Anang memaafkan mereka semua.


"Alhamdulillah akhirnya masalah ini selesai dengan damai." lega pak Dadang yang sedari tadi diam sambil memperhatikan mereka semua.


"Maaf bapak siapa ya?" tanya pak kenan polos.


"Dia bapaknya Dea pak." jawab Anang.


"Halo semua perkenalkan nama saya Dadang dan ini istri saya Santi, kami berasal dari Malang." ucap pak Dadang memperkenalkan dirinya dan istrinya.


"Kok jadi kayak Upin Ipin ya."


"Hahahaha iya kamu bener Ken, baru sajak aku mau bilang seperti itu." tawa menggelegar Dwi yang membuat semua orang menatap Dwi.


...***...