From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#51



Dea bangun dari tidurnya, dia berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum karena tenggorokannya terasa kering.


"Aduh kenapa jadi mual lagi sih." gumam Dea setelah minum.


Dea ingin makan tapi dua takut kalau nanti dia makan malah akan keluar lagi makanannya, jadi dia lebih banyak minum saja.


Tok tok tok.


Pintu rumah Dea di ketuk, Dea pun langsung pergi untuk membukakan pintu untuk tamunya.


"Assalamualaikum mbak Dea." ucap ibu Tutik yang datang ke rumah Dea sambil membawa rantang di tangannya.


"Waalaikum salam Bu." balas Dea membuka pintu rumahnya.


"Mbak Dea udah makan belum?" tanya ibu Tutik mengikuti Dea masuk ke dalam kamar.


"Belum Bu, kebetulan Dea baru bangun." jawab Dea jujur.


"Wah kebetulan, ini saya bawa makanan mbak Dea mau gak?" tawar ibu Tutik membuka penutup rantang dan menampilkan berbagai macam masakan yang kelihatannya begitu enak.


"Wah banyak banget Bu, ini ibu yang masak sendiri?" tanya Dea.


"Iya mbak, kebetulan tadi saya masak banyak terus ingat kalau mbak Dea lagi hamil jadi saya bawa ke sini deh." jawab ibu Tutik.


"Ayo mbak langsung di coba." suruh ibu Tutik.


"Eemm... Dea lagi mual Bu, jadi Dea takut kalau makan nanti makanannya akan kembali lagi." balas Dea tak enak.


"Sini saya ambilkan, sebaiknya mbak Dea coba aja dulu, kasihan nanti anak mbak Dea kalau mbak Dea gak makan." ucap ibu Tutik pergi menggambil piring serta sendok dan setelah itu dia menggambilkan makanan untuk Dea.


"Nah ini mbak Dea makan sedikit sedikit saja, siapa tahu kan nanti gak mual." suruh ibu Tutik.


Dea akhirnya pun mencoba menyendokkan makanan ke dalam mulutnya yang terasa pait.


Suapan pertama aman tidak membuat Dea mual, berlanjut ke suapan ke dua juga masih aman, hingga di suapan terakhir pun tetap aman tidak membuat Dea mual.


Satu piring tadi pun habis tak tersisa, ibu Tutik di buat senang karena melihat makanan yang dia buat di sukai Dea.


"Alhamdulillah habis, benar kan mbak apa yang saya bilang, kalau mbak Dea gak akan mual." senang ibu Tutik.


"Iya Bu, Dea sekarang juga sudah tidak merasakan mual lagi, terimakasih ya bu." balas Dea ikutan senang karena akhirnya dia bisa makan.


"Iya mbak sama sama, ini kalau mau nambah boleh kok mbak habiskan aja."


"Enggak deh Bu, ini buat nanti saja, sekarang Dea mau ke kamar dulu ya bu ambil obat sama vitamin."


"Iya mbak." balas ibu Tutik.


Dea pun pergi ke kamar untuk mengambil obat serta vitamin yang harus dia minum.


Sedangkan ibu Tutik di dapur pun mencuci piring bekas Dea dan menyimpan makanan yang dia bawa tadi agar tetap awet.


"Loh kok malah ibu yang cuci piring, seharusnya biarkan saja bu biar nanti Dea saja yang cuci." ucap Dea merasa tidak enak karena ibu Tutik malah yang mencucikan piring bekasnya.


"Gak papa mbak, lagian mbak Dea kan lagi hamil dan gak boleh kecapekan." balas ibu Tutik.


"Udah bu tadi di kamar." jawab Dea.


"Kalau susu ibu hamilnya udah belum?" tanya ibu Tutik lagi.


"Udah bu, tapi pagi di buatin mas Anang." balas Dea.


"Ibu kok tiba tiba datang ke sini bawa makanan banyak sih, Dea yakin kalau ini pasti di rencanakan, soalnya masakan ini Tutik itu sangat banyak banget." tebak Dea.


"Hehehe iya mbak, saya tadi pagi pagi di datangi mas Anang dan suruh liat keadaan mbak Dea karena dia harus berangkat kerja, jadi ya saya masak banyak biar sekalian buat mbak Dea." jawab ibu Tutik.


"Ya Allah Bu, kenapa repot repot segala sih Bu, Dea jadi gak enak." balas Dea merasa tidak enak karena sudah merepotkan ibu Tutik.


"Tidak kok mbak, lagian sekarang anak saya sudah tidak ada di rumah jadi sudah tidak ada lagi yang bisa saya manja." balas ibu Tutik.


"Oh iya bu Dea lupa mau tanya, itu kok bisa tiba tiba acara pesta ulang tahun jadi pesta pernikahan itu bagaimana ceritanya ya Bu?" tanya Dea heran.


Dea sebenarnya sudah ingin bertanya sejak lama, tapi dia selalu lupa untuk menanyakannya.


"Iya mbak jadi kita memang sudah menjodohkan mereka berdua dari kecil, trus mumpung ada momen yang pas jadi langsung kita nikahkan saja di hari itu juga."


"Kita takut nanti anak anak kita akan terjerumus ke hal hal yang di larang agama jadi ya untuk menghindari itu langsung kita nikahkan saja mbak." jelas ibu Tutik panjang lebar.


"Ooh gitu, pantes semua tamu kok kayak kaget gitu waktu ada pengumuman akan ada pernikahan."


"Bukan hanya tamu saja yang kaget mbak, bahkan anak saya si Dwi saja tidak tahu kalau dia akan menikah di hari itu, bahkan yang dia tahu dia hanya akan hadir di acara pesta ulang tahun temannya." balas ibu Tutik.


"Dea kagum sama pemikiran ibu, meskipun ibu suka gosipin orang dan julitin orang tapi sebenarnya di balik itu ibu sangat menjaga anak ibu dari marabahaya." kagum Dea.


"Memang, semua orang yang melihat saya pasti mereka akan mengira kalau saya itu jahat, padahal saya julit juga sesuai fakta."


"Kan saya pernah menyindir kalau mbak Dea kenapa gak minta di belikan suaminya mesin cuci padahal kan suaminya kerja di pabrik?"


Saya ngomong gitu karena saya tidak suka sesama perempuan harus capek capekkan ngurusin rumah sedangkan suaminya kerja, kenapa gak minta di beliin mesin cuci saja biar hemat tenaga dan gak terlalu capek." lanjut ibu Tutik menjelaskan kesalahpahaman beberapa tahun yang lalu.


"Maaf Bu, Dea dulu gak ngerti apa yang ibu maksud, jadi Dea kira ibu itu jahat sama semua orang. Dan soal mesin cuci juga itu karena Dea gak minta, Dea pernah di tawarin mas Anang untuk beli mesin tapi Dea menolak karena Dea merasa masih mampu melakukan semuanya." balas Dea.


"Wah berarti dulu kita sama sama salah faham ya mbak."


"Hahaha iya Bu." balas Dea.


"Berarti sekarang kita berteman ya mbak?" tanya ibu Tutik.


"Dari dulu juga Dea selalu menganggap semua orang yang ada di sini teman Dea Bu." balas Dea.


"Mbak Dea emang baik orangnya, pantas saja mas Anang sampai tergila gila sana mbak Dea."


"Ibu bisa aja, padahal saya orangnya biasa aja sama seperti kalian." balas Dea merendah.


Mereka berdua pun mengobrol dengan asik hingga siang hari ibu Tutik harus pamit pulang karena dia ada urusan yang harus dia kerjakan.


...***...