
"Ya udah sih yang biarin aja, toh memang kita juga udah sah " balas Anang santai.
"Tapi aku malu mas." Greget Dea.
"Kalau malu ya gak usah keluar kamar, di kamar aja seharian sama aku." balas Anang.
"Tau ahh kamu ngeselin." Dea langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makan buat Anang dan dia karena tadi mereka belum makan siang.
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Anang tapi tak di jawab oleh Dea.
"Hufft... buka usaha apa ya enaknya." gumam Anang bingung.
"Oh iya nanti malam kan Dea minta antar aku ke rumah Zakia, kan bisa sekalian nanti aku minta saran sama bang Joni." lanjut Anang.
Anang pun merebahkan tubuhnya lagi karena memang dia masih ngantuk.
-
Saat ini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah Zakia, sampai di sana mereka langsung di persilahkan masuk ke dalam rumah oleh Zakia yang kebetulan berada di depan rumah.
Sebelum masuk pandangan Dea tertuju pada pohon jambu air yang warna buahnya sangat lah menggoda iman Dea, Dea jadi ileran sendiri melihat buah itu.
Kemaren mereka ke sana malam hari jadi warna buahnya tidak kelihatan, dan sekarang mereka datang ke sana masih sore hari jadi warna buah jambu air itu sangat terlihat.
"Ayo sayang kita masuk, kamu lagi liatin apa sih?" tegur Anang karena Dea tak beranjak masuk ke dalam rumah Zakia.
"Ahh Iya mas ayo." balas Dea.
Mereka berdua pun masuk mengikuti Zakia yang sudah masuk terlebih dahulu ke dalam rumahnya.
"Bang Joni belum pulang kerja mbak?" tanya Anang pada Zakia.
"Udah kok baru saja pulang, mungkin lagi sholat sekarang." jawab Zakia.
"Bentar ya tak buatin minum dulu." pamit Zakia dan langsung pergi ke dapur untuk membuatkan minum buat tamunya.
"Weh ada Anang ternyata." sapa Joni.
"Apa kabar bang?" balas Anang.
"Alhamdulillah baik, kalau kalian gimana?"
"Baik juga bang." balas Anang sedangkan Dea hanya tersenyum saja.
"Ini silahkan di minum dulu." ucap Zakia yang baru datang dari dapur sambil membawa minuman.
"Anaknya belum pulang ngaji ma?" tanya Joni pada Zakia istrinya.
"Belum mas, mungkin sebentar lagi pulang." balas Zakia dan di angguki Joni.
"Nang ngobrol di tengah aja yuk." ajak Joni dan langsung di setujui oleh Anang.
Anang dan Joni pun pergi menuju ruang tengah meninggalkan Dea dan Zakia yang masih ada di sana.
"Bang aku mau minta saran sama Abang." ucap Anang setelah sampai di ruang tengah.
"Saran apa Nang?" tanya Joni.
"Gini, aku kan tadi kena PHK jadi sekarang udah gak kerja lagi, nah aku rencananya mau buka usaha sendiri, aku bingung mau usaha apa. Nah apakah Abang ada saran usaha apa untuk Anang?" tanya Anang.
"Gimana ya Nang, kan Abang juga belum tahu keahlian kamu apa, jadi Abang belum bisa kasih kamu saran. Emang kamu punya rencana mau buka usaha apa biar nanti Abang bantu kembanginnya?" balas Joni.
"Rencana aku sih mau buka cafe-cafe gitu bang, tapi mengingat sekarang orang orang pada berlomba lomba buka cafe seperti itu tidak mungkin Anang lakukan bang."
"Ya itu memang tergantung kamunya, kalau kamu mau buka cafe kamu harus siap bersaing dengan cafe cafe yang lainnya."
"Terus aku sekarang harus gimana bang, aku bingung harus buka usaha apa, gak mungkin kalau aku harus nganggur seperti sekarang ini."
"Eemmm apa ya, Abang juga bingung mau kasih solusi apa. Kalau kamu kerja dinas tempat Abang mau gak?" tanya Joni.
"Ya mau mau aja sih bang, tapi kan gak mungkin kalau Anang terus terusan bekerja di tempat bang Joni." jawab Anang.
"Ya udah bang Anang mau, mungkin Anang juga perlu minta saran sama Dea, siapa tahu Dea ada saran buat Anang." balas Anang.
"Nah, kalau gitu besok pagi kamu langsung aja datang ke tempat Abang, nanti Abang kirimkan alamatnya sama kamu."
"Iya bang, terimakasih." balas Anang.
"Sama sama, kamu kan adik Abang jadi sudah seharusnya Abang bantu kamu."
"Mas udah belum, ayo pulang nanti keburu malam." ajak Dea yang sudah selesai urusannya dengan Zakia.
"Iya sayang sebentar." balas Anang.
"Aku pergi dulu ya bang, nanti aku kabarin Abang lagi." pamit Anang pada Joni.
"Iya, hati hati kamu bawa motornya." balas Joni.
"Iya bang." balas Anang.
Anang dan Dea pun pergi dari rumah Zakia, saat melewati pohon jambu air pandangan Dea tak pernah lepas dari sana, ingin rasanya Dea memetik buah itu tapi dia malu.
"Mas." pangil Dea pada Anang yang sedang fokus menyetir.
"Iya sayang kenapa?" tanya Anang.
"Aku pengen jambu air tadi deh." ucap Dea menyebutkan keinginannya.
"Ya mana yang?" tanya Anang tidak tahu.
"Itu loh yang ada di depan rumah mbak Zakia." balas Dea.
"Loh kenapa kamu tadi gak bilang, kan tadi bisa minta sama mereka."
"Ya aku malu mas mau bilang."
"Ya udah kita beli aja ya, biasanya di depan sana ada."
"Iya mas." balas Dea setuju.
Anang mengurangi laju motornya agar nanti kalau ada penjual jambu air dia bisa berhenti dan beli.
"Kok gak ada sih mas?" tanya Dea karena hampir sampai di gang rumahnya tidak menemukan penjual jambu air juga.
"Mungkin mereka libur sayang makanya tidak jual, besok aja ya belinya."
"Yah, padahal aku pengennya sekarang." balas Dea sedih.
"Besok aku janji, kalau pulang kerja aku cariin jambu air buat kamu."
"Tapi aku maunya sekarang mas bukan besok." kekeh Dea.
Mereka sampai di rumah, Dea langsung turun dari motor dan langsung masuk ke dalam rumah tak bicara apapun kepada Anang.
"Sayang." pangil Anang menemui Dea di kamar.
Dea duduk di atas ranjang dan bermain handphone tak memperdulikan Anang yang ada di sana.
"Sayang kamu mau benget ya jambu airnya?" tanya Anang duduk di samping Dea.
"Ya menurut kamu, aku tuh pengen banget mas." balas Dea sedih.
"Aku pengen jambu airnya terus nanti di kasih bumbu kacang." lanjut Dea dengan air mata yang langsung menetes.
"Ssttt... udah jangan nangis, aku cariin buat kamu jambu air sekarang tapi jangan nangis ya." ucap Anang menenangkan Dea, Anang tidak suka kalau melihat Dea menangis, jadi dia akan melakukan apapun asal Dea tidak menangis.
"Ikut." balas Dea sambil bibirnya maju ke depan.
"Ya udah ayo." ajak Anang.
...***...