From Virtual to Real

From Virtual to Real
FVTR#43



Mata pelajaran Dwi pun selesai, dia langsung keluar dari kelas bersama kedua temannya.


"Kita pergi dulu ya, soalnya kita lagi buru buru." pamit Rina.


"Oke kalian hati hati." balas Dwi.


Kedua teman Dwi pun pergi meninggalkan Dwi sendirian di sana, Dwi pun akhirnya melangkahkan kakinya menuju parkiran kampus.


"Huh, laper banget lagi." gumam Dwi yang merasakan perutnya keroncongan.


Sampai di parkiran kampus Dwi langsung memakai helmnya dan menaiki motor kesayangannya.


"Loh kok gini." ucap Dwi saat merasakan kalau ada yang aneh dengan motornya saat sudah dia naiki.


Dwi pun turun kembali dari motornya dan melihat apa yang sudah terjadi dengan motor kesayangannya.


"Loh, kok bocor sih, terus gw harus gimana pulangnya." kesal Dwi.


Mana perutnya sudah keroncongan lagi, masak iya dia harus dorong motor juga sampai ke bengkel, mana bengkelnya jauh banget lagi dari kampus.


"Hai tepos, mau pulang ya." ucap seseorang dari belakang Dwi.


Dwi yang memang sudah hafal dengan suara itu pun dengan malas melihat orang itu.


"Apa?" garang Dwi.


"Weiss... galak bener." balas Kenzo.


"Udah ah lo jangan ganggu gw, gw lagi gak mood buat berantem." balas Dwi yang memang malas kalau harus berantem sekarang bersama Kenzo.


"Emang kenapa, kok bisa gak mood? Ah gw tahu, pasti lo lagi mikirin kan kenapa punya lo tepos mulu gak gede gede." ucap Kenzo semakin menggoda Dwi.


"Lo...." marah Dwi menunjuk wajah Kenzo yang ada di hadapannya.


"Plis deh jangan ganggu gw kali ini aja, gw lagi gak mood, bener dah kagak boong." ucap Dwi berusaha mengontrol emosinya.


"Oke oke gw gak akan ganggu Lo, emang lo kenapa sih, siapa tahu gw bisa bantu?" tanya Kenzo kali ini dia serius.


"Tuh liat ban motor gw bocor." ucap Dwi menunjuk ban motornya yang kempes.


"Wah kasian banget ya Lo, mau bareng gw gak?" tawar Kenzo.


"Gak ah, mending gw dorong aja nih motor sampai bengkel." tolak mentah-mentah Dwi.


"Oh, ya udah, tapi setahu gw sih tadi bekel yang ada di ujung jalan itu tutup. Jadi ya bisa di pastikan kalau lo nanti akan dorong tuh motor sampai mana." ucap Kenzo bohong.


"Hahz seriusan Lo, terus gw harus gimana dong?" panik Dwi karena dia tidak tahu harus bawa motornya kemana lagi kalau bengkel itu tutup, karena hanya bengkel itu yang dekat dengan area kampus.


"Ya kan tadi udah gw bilang, mending lo bareng sama gw biar nih motor lo nanti di ambil sama bengkel pakai mobil pick up."


"Tapi...."


"Semuanya sih terserah sama Lo, nanti kalau tiba tiba hujan deras jangan salahin gw ya." potong Kenzo sambil melihat langit yang sudah mulai mendung.


Kenzo mulai mengambil motornya yang ada di samping motor Dwi, dia mulai menghidupkan motornya.


"Gimana, lo jadi bareng gak?" tanya Kenzo.


Dwi terdiam, dia memutar otaknya agar menemukan ide untuk bisa pulang dari sana, tapi tidak ada yang keluar dari otaknya selain saran Kenzo tadi, meminta agar orang bengkel sendiri yang datang ke sana.


"Ya udah kalau gak mau, gw duluan ya." ucap Kenzo karena Dwi tidak membalas ucapannya.


"Ehh tunggu, gw ikut Lo." ucap Dwi menahan Kenzo saat dia hendak pergi.


"Apa, mau bareng?" tanya Kenzo dan mendapatkan anggukan dari Dwi.


"Ya udah ayo naik cepet." suruh Kenzo.


"Tapi ini motor gw gimana?" tanya Dwi menatap motor kesayangannya.


"Gw udah panggil tukang bengkel ke sini, pasti sebentar lagi mereka sampai, udah ayo cepat." suruh Kenzo lagi dan langsung membuat Dwi naik ke atas motor Kenzo.


Dwi tidak sadar tadi apa yang Kenzo ucapkan, sejak kapan Kenzo memegang handphone untuk memanggil tukang bengkel ke sana.


"Pegangan yang kenceng biar gak jatuh." ucap Kenzo sambil berteriak.


"Iya." balas Dwi dan memegang pundak Kenzo dengan kenceng.


Bukan di situ pegangan yang Kenzo maksud, karena kesal Dwi tidak menuruti permintaannya maka Kenzo pun menambahkan kecepatan laju motornya dengan kecepatan tinggi, dan hal itu membuat Dwi ketakutan.


"Kenzo jangan kenceng kenceng nanti gw bisa jatuh." ucap Dwi berteriak.


"Makanya pegangan yang kenceng." balas Kenzo.


"Bukan di pundak Dwi tepos, tapi du pinggang." lanjut Kenzo yang merasa kalau Dwi malah memegang erat pundaknya lagi.


Mendengar itu Dwi pun langsung berpindah memegang pinggang Kenzo dan Kenzo pun semakin menambah kecepatan laju motornya agar Dwi berpegangan semakin erat.


"Gitu dong." ucap Kenzo sambil tersenyum di balik helm full face nya.


"Ternyata nih cewek gak tepos tepos banget." batin Kenzo dalam hati.


"Temani gw makan dulu ya, soalnya gw udah laper." ucap Kenzo pada Dwi dari atas motor.


"Iya." balas Dwi.


Kenzo pun melajukan motornya menuju sebuah mall terdekat yang ada di sana, dia ingin nanti setelah makan jalan jalan sebentar sama Dwi.


"Kok ke mall?" tanya Dwi heran.


"Iya soalnya di cafe yang ada di dalam makanannya enak enak." bohong Kenzo, padahal rasanya sama saja seperti cafe cafe yang ada di sekitar mall.


"Ooh." balas Dwi polos.


"Yuk masuk, gw udah laper." ajak Kenzo pada Dwi.


Mereka berdua pun masuk ke dalam mall, Kenzo tahu kalau sebenarnya tadi Dwi itu memang sudah kelaparan, karena dia mendengar ucapan Dwi tadi waktu di parkiran.


Maka dari itu Kenzo berinisiatif mengajak Dwi makan dengan embel-embel kalau dia udah kelaparan, tapi emang bener sih dia juga sudah kelaparan.


"Lo mau makan apa?" tanya Kenzo pada Dwi.


"Samain aja, gw gak ada alergi kok." jawab dwi.


"Mbak saya mau ini dua sama minumannya ini juga dua ya mbak." ucap Kenzo menyebutkan pesanannya.


"Baik mas silahkan di tunggu sebentar." balas pelayan cafe itu.


Setelah itu mereka berdua saling diam, Kenzo sebenarnya ingin banyak bertanya pada Dwi tapi dia bingung ingin memulainya dari mana.


"Emm...." dehem mereka barengan.


"Lo dulu aja." ucap Kenzo menyuruh agar Dwi yang berbicara lebih dulu.


"Gak, lo dulu aja." balas Dwi menyuruh agar Kenzo yang ngomong duluan.


"Lo aja." balas Kenzo.


"Lo aja." balas Dwi.


"Lo."


"Lo."


"Oke oke gw ngalah, gw yang bicara duluan." ngalah Kenzo.


"Baguslah, ayo cepat." balas Dwi sinis.


"Lo emang tepos ya?" tanya Kenzo membuat mata Dwi melotot.


"Lo gila ya, emang gak ada hal lain apa yang ingin lo tanyakan ke gw." balas Dwi kesal.


"Aduh nih mulutnya kenapa gini sih." batin Kenzo karena mulutnya tidak bisa di ajak kerjasama.


...***...